Inikah Jalanku…

Sebenarnya saya tak pernah membayangkan bahwa detik ini saya menjadi seorang guru. Tepatnya seorang guru pendamping anak berkebutuhan khusus. Cita-cita terdalam saya sejak dulu adalah seorang arsitek. Setelahnya berubah menjadi seorang ahli farmasi. Setelah lulus sekolah, cita-cita berbelot ke arah jurnalistik. Dunia kewartawanan. Saya melambaikan tangan pada segala hal berbau sains dan juga matematika. Apalagi saat kuliah, hitung-menghitung hanya ada dalam statistika sosial. Saya lega berjauhan dengan mata pelajaran satu ini, membuat pening.

Namun, setelah menjejakkan kaki di sebuah sekolah inklusi yang ada di Cimahi, pikiran saya terbuka perlahan, segala macam perasaan campur aduk seketika. Ada rasa sesal, mengapa saya dulu tidak bercita-cita menjadi seorang guru. Mengapa baru sekarang perasaan ini begitu meletup-letup? Mengapa saya tidak menuruti keinginan Ibu saya untuk masuk ke jurusan pendidikan. Mengapa dan mengapa?

Akhirnya, saya sudahi terus bertanya-tanya atas masa lalu yang telah terjadi. Dan saya mencoba untuk membuktikan dengan kemampuan saya yang cukup pas-pasan sebenarnya menjadi seorang “guru dadakan”. Ya, bagaimana tidak? Seorang sarjana sosial mencoba menyebrang ke satu pulau bernama sekolah. Saya akui, fase ini adalah fase “BLIND” bagi saya sekarang. Begitu banyak hal yang tidak saya mengerti bagaimana cara bersikap mengajar di kelas, bagaimana merumuskan lesson plan, banyak hal baru yang sungguh perlu waktu bagi saya untuk memahaminya. Namun, tampaknya kemampuan saya benar-benar mesti total di sini. Fokus pada satu target, bagaimana saya bisa mengupdate sekaligus mengupgrade kemampuan saya di pendidikan?

Saya pernah bertanya kepada Ibu dan Bapak di sela-sela kegundahan ini (gundah belum mendapatkan celah),

“Ibu sareng Bapak kaduhung teu nguliahkeun teteh di Jurnalistik?”

“Naha nyarios kitu?” ujar Ibu dan Bapak bersamaan sambil mengerutkan kening.

“Muhun, bilih nyesel teteh kan ayeuna malah ngajar di sakola sanes wartawan sesuai jurusan kuliah.”

“Tong nyarios kitu ah, da Bapak mah teu kaduhung, da nguliahkeun mah atos kawajiban Bapak, pami nasib mah ti mana weh jalan na,” pungkas Bapak dengan yakin.

“Kalau teteh jadi wartawan, Ibu mah hariwang pisan teh. Ga bisa tidur nyenyak.”

Salah satu kekhawatiran terbesar Ibu pada saya jika menjadi wartawan adalah jam kerja yang begitu larut. Ditambah dengan resiko di lapangan. Panas terik atau hujan deras mungkin bisa dihadapi, namun resiko tak terduga menyangkut keselamatan. Saya pernah meyakinkan bahwa saya mampu, saya bisa menjadi wartawan apapun tantangannya. Namun, lagi-lagi saya tak mendapat izin dari orangtua. Keduanya selalu menggenggam kekhawatiran yang besar. Maka berbelotlah saya berbulan-bulan di profesi lain. Hampir setahun menjadi desainer grafis, itu pun mengandalkan kemampuan otodidak sejak SMA.

Hingga akhirnya kejenuhan memuncak, saya memutuskan resign dan mencoba ranah baru. Berinteraksi dengan anak-anak di sekolah. Jujur saja, sebelumnya saya tidak suka dengan anak-anak. Saya cenderung cuek dan judes. Kadang saya sering suka ngomel-ngomel pada adik bungsu yang masih 5 tahun kalau terus bergerak lincah tak terkendali. Lompat-lompat tengah rumah, berlari kesana-kemari. Pernah saya marah besar waktu dia mengusik saya saat membaca buku dengan terus berceloteh tentang banyak hal.

Omelan yang telah meluncur pada masa silam bahwa saya belum paham dunia anak. Semestinya saya membiarkan gerak lincah dan celotehannya. Biarkan ia berkembang. Biarkan ia memainkan sapu sambil bersih-bersih meskipun gerakan “menyapu” yang belum sempurna. Membiarkannya bermain masak-masakan dengan kertas yang digunting kecil-kecil di atas “alat tempur” alias anyang-anyangan, meskipun menurut orang dewasa hanya membuat ruangan menjadi bala. Sekarang saya mulai paham bagaimana seorang anak berkembang.

Nah, ketika ditugaskan sebagai pendamping anak special needs, pundak saya rasanya diberikan beban seberat gunung. Ya, berlebihan tampaknya. Namun, sungguh memang kini saya rasakan berat. Saya masih meraba-raba bagaimana mengajar anak normal, akan tetapi saya harus segera paham bagaimana menangani anak yang khusus. Inikah batu loncatan? Seseorang yang diberikan tugas sangat berat, dimungkinkan akan segera menyesuaikan gerakan dengan lebih keras dengan mengerahkan seluruh tenaga, sehingga ia dipastikan mampu menghadapi tugas yang sedikit lebih mudah di bawahnya.

Mungkin hari ini saya masih belum apa-apa. Masih menyimak bagaimana yang lain bergerak, masih mengurai benang kusut permasalahan yang dihadapi, masih merumuskan strategi apa yang tepat untuk dilakukan. Namun, saya yakin sebenarnya di dunia ini tidak ada guru yang tidak bisa mengajar. Selama masih ada komitmen untuk maju, maka kemampuan akan meningkat seiring menjalani proses. Saya percaya itu dari Gurunya Manusia, Pak Munif Chatib. Maka bersemangatlah wahai sarjana sosial, buktikan dengan perjuanganmu. Mulailah menyusun kuda-kuda dan berlari sampai ke finish!

Bandung, 30 Agustus 2013

Seusai menyusun program pengembangan individual untuk anak spesial.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s