Pendidikan yang Membumi

Pendidikan kita tampaknya terlalu teoritik, seperti di awang-awang, tidak membumi, dan memisahkan siswa dari kehidupan sehari-hari. Pendidikan kita tidak membekali siswa bagaimana menghadapi kehidupan nyata di masyarakat, sehingga menyebabkan mereka tidak tahu apa yang harus dikerjakan, kecuali belajar dari buku, bersenang-senang ala kehidupan anak kota dan setelah lulus ingin meneruskan sekolah atau mencari pekerjaan dengan bekal selembar ijazah. Oleh karena itu, sangat wajar jika orang tua mereka mempertanyakan, “Untuk apa anak harus sekolah, jika setelah itu justru menjadi beban orang tua?”

Foto0301[1]

Pernyataan di atas saya garis bawahi dari buku “Menggagas Pendidikan Bermakna” yang ditulis oleh Prof. Muchlas Samani, sebuah buku yang sengaja saya pinjam dari perpustakaan sekolah tempat saya mengajar. Visual saya terpancing dengan kata “Bermakna” dari judul buku tersebut. Karena selama ini saya begitu sulit mencerna buku-buku pendidikan yang kebanyakan teoritis. Nah, buku yang satu ini memang teoritis namun tulisannya mengalir seperti essai. Tidak melulu menghadirkan teori, namun diselingi komik bermakna tentang “apa pentingnya sekolah” dan sederet kenyataan di lapangan.

Dan saya mendapati kenyataan pahit bahwa lagi-lagi saya harus setuju pada lagu La Luna yang berjudul “Sesali Tak Sejak Dulu”. Ya, mengapa tak sejak dulu saya membaca buku itu. Buku yang terbit 2010 itu memang ditakdirkan baru saya baca pada tahun ini. Buku terbitan SIC Surabaya itu nampaknya merupakan buku langka di toko buku yang notabene dikuasai penerbit mayor berskala nasional. Dan lagi-lagi saya ingat Qur’an Surat Ar-Rahmaan, “Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang kamu dustakan?” Menemukan gagasan yang terserak dari buku dan menjadikan sebuah refleksi mendalam untuk kehidupan saat ini, bukankah itu sebuah nikmat? Bukankah hidayah yang kita dapatkan dari lembaran-lembaran hikmah adalah nikmat yang tak akan terganti oleh materi berapapun besar nominalnya?

Karena hidayah itu saya dapat pada kalimat ini,

“Untuk memperbaiki praktik pendidikan, kita tidak cukup hanya berpikir bagaimana metode pembelajaran yang baik, tetapi juga mempertanyakan apakah materi yang dipelajari siswa di sekolah, telah sesuai dengan kebutuhan mereka untuk menggapai sukses.”

Ada sebuah komik dalam buku tersebut yang menceritakan sebuah percakapan dua orang nelayan, seperti berikut ini :

Foto0299[1]

“Kenapa anak pertamamu tidak kamu sekolahkan? Kan lebih baik daripada jadi nelayan seperti kita ini?”

“Adiknya yang sekolah justru tidak mau diajak bekerja. Dia sukar kalau diajari bagaimana mengarahkan perahu saat di laut dan dia tidak pandai kalau disuruh memilih ikan. Mengapa justru kalah dibanding kakaknya, yang hanya sekolah sampai kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah…”

Waw, agak tertampar sebenarnya dengan percakapan di atas yang memberikan makna tersirat, “Kenapa anak yang tak tamat MI lebih pandai dengan anak yang meneruskan sekolah dalam hal mencari penghidupan di laut?” Apa yang salah dengan semua ini. Apakah salah anak disekolahkan? Saya pun berpikir, mengapa kadang sekolah hanya sebatas kemampuan di atas raport atau ijazah? Sementara sebagian orang bingung untuk meneruskan kehidupan karena tidak punya life skill yang bisa dimanfaatkan setelah lulus. Inikah fenomena pengangguran intelektual saat pendidikan hanya melulu menanamkan pengetahuan di permukaan namun hampa manfaat. Sebuah dampak besar dari pendidikan yang tak membumi.

Karena pendidikan yang membumi adalah pendidikan yang menerapkan prinsip TAHU APA sebagai pengetahuan dan BISA APA sebagai life skill untuk bermanfaat di masyarakat. Ditambah pendidikan akhlak yang menjadi ujung tombak perilaku yang terlihat dalam keseharian. Karena percuma saja cerdas secara ilmiah dan terampil dalam karya tetapi angkuh dalam arogansi inteletualitas yang menyuburkan lahan gaya hidup yang hedon, yang ujung-ujungnya bermuara pada sebuah penyakit akut dalam bangsa ini, bernama korupsi.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s