Catatan Diri, Refleksi

No Risk, No Challenge

Mungkin inilah yang disebut resiko. Terpukul, terbanting, tertendang, mungkin resiko fisik yang tak seberapa dibandingkan pengorbanan yang diemban oleh orang-orang sebelumnya, bahkan Rasulullah yang harus menanggung cacian, pukulan, lemparan kotoran sekalipun. Tetapi, mengapa saya masih saja merasa kalah di awal. Kalah telak seketika, benteng pertahanan roboh dan saya tak kuasa menunjukkan kelemahan sendiri.

Saat ini saya merasa gagal. Waktu yang berlalu masih saja belum memberikan celah. Masih terombang-ambing dalam kecemasan yang akut. Cemas akan kegagalan beruntun yang tak menemukan ujung. Inikah yang disebut fase shock culture…? Saya masih berada di fase rawan. Saat keputusan selanjutnya bisa berjudul lanjut atau cukup sampai di sini dengan alasan tak sanggup. Namun, jawaban yang begitu nyata dalam diri sebenarnya adalah jawaban pertama, “Lanjut”. Apapun yang terjadi, seberat apapun resiko di depan, semuanya harus dilalui. Meskipun nantinya akan selalu ada tangis, airmata, bahkan darah yang mengucur. Di sinilah perjuangan hidup dibuktikan dengan maju melalui tantangan. Bukan mundur teratur sambil berkata, “Saya tak sanggup”.

Karena saya tetap percaya, Allah maha benar dengan firmanNya. Allah tak akan memberikan cobaan di luar kadar kemampuan hambaNya.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s