Literasi, Pendidikan, Psikologi, Refleksi

Kutipan dari Kisah Jadie Torrey Hayden

Kisah Jadie Tangis Tanpa Suara

Awalnya saya malas melirik berbagai novel asing yang terhidang di toko buku. Terlebih jika lembarannya berwarna buram bak kertas koran. Namun, entah mengapa saya iseng meminjam novel berjudul “Jadie” yang ada di bawah tumpukan buku di lemari ruang konsultasi. Belakang saya tahu buku tersebut merupakan non fiksi yang diracik begitu dramatis oleh Torrey Hayden, seorang pakar psikologi pendidikan serta guru anak-anak berkebutuhan khusus.

Motivasi awalnya, saya sekarang tengah dahaga mencari oase pengetahuan anak berkebutuhan khusus. Jadilah saya sering main ke ruang konsultasi sekolah Hikmah Teladan untuk sekadar melihat buku-buku yang bertengger di lemari. Begitu melihat novel psikologi yang berkaitan kehidupan ABK. Saya langsung bersemangat menyantap tiap lembarannya yang telah usang berdebu. Semoga saja seusai membacanya, muncul seberkas sinar untuk meraba langkah selanjutnya dalam lorong-lorong yang gelap bernama tugas guru pendamping ABK.

Jadie, begitulah tokoh utama yang diceritakan sedemikian rupa oleh Torrey dalam buku terbitan Qanita tahun 2003 ini. Buku yang begitu gamblang mengisahkan setiap detil perjalanan seorang Torrey sebagai guru ABK dan sekelumit kisah para muridnya. Namun, di sini yang menjadi titik fokus adalah Jadie. Seorang anak berusia 8 tahun yang selalu berjalan dengan posisi membungkuk dan tidak pernah sudi berbicara (elective mutes).

Kisahnya sangat menakjubkan memang, sesuai endorsement melalui Washington Post. Namun, di sini saya tidak akan menampilkan buku tersebut sebagai resensi, melainkan sebagai refleksi bagi saya sebagai orang baru dalam dunia anak berkebutuhan khusus. Di balik berbagai kesulitan yang saya rasakan saat ini menjadi seorang tutor, ternyata ada kesulitan yang lebih besar yang harus dihadapi Torrey di belahan negeri yang lain. Apalagi ini menyangkut child abuse yang dialami oleh Jadie.

Saya hanya menggaris bawahi beberapa alinea dan mengendapkannya dalam alam pikiran untuk disimpan sebagai kekuatan dalam meretas langkah ke depan.

“Sesungguhnya yang kuinginkan adalah waktu untuk memeriksa file-file lagi, melihat apa yang sudah dilakukan anak-anak, mempelajari lebih banyak tentang segala tetek-bengek kelas ini, dan akhirnya lebih mengenali kerajaan kecilku.” (hal. 19)

“Aku seperti terpesona pada gangguan ini (elective mutism), yang penderitanya baik secara fisik maupun intelektual sebenarnya mampu berbicara secara normal namun menolak melakukannya karena alasan-alasan psikologis.” (hal. 22)

“Siapa ini?” tanyaku lagi, menegaskan nada suaraku, berusaha tidak terdengar marah, bahkan tidak lebih lantang, hanya lebih mendesak. Dan tidak bisa dihindari. Kuketuk gambar itu dengan menggunakan ujung pensil berpenghapus yang kupegang. (hal. 41)

Setelah sepuluh menit berlalu. Jelas bagiku bahwa apa pun yang menambah masalah Jadie, sebagian mungkin hanya disebabkan oleh sifat keluarga. Aku berusaha keras memulai percakapan, tapi akhirnya hanya berbicara pada diriku sendiri. (hal. 65)

Hening sementara kami berdua mempelajari gambar itu. kemudian tanpa ragu-ragu lagi kukatakan apa yang sedang kupikirkan meskipun itu mungkin bukan teknik psikologis yang ideal. “Kau tahu, Jadie, sejujurnya menurutku itu tidak tampak seperti dua orang gadis kecil. Itu bentuk yang tidak jelas.” (hal. 89)

Selanjutnya hening. Aku selalu mengeluarkan buku rencana pelajaran pada saat seperti ini, bukan hanya karena itu memang waktu untuk merencanakan, tapi karena hal itu juga membuatku bisa memfokuskan diri pada hal lain selain Jadie, dan membuat tekanan kebersamaan kami ini sedikit berkurang. (hal. 119)

Jadie meronta-ronta selama beberapa saat, menendang dan menggeliat agar bisa lepas, tapi aku bertahan. Akhirnya aku merangkulnya erat-erat sampai ia tidak bisa bergerak lagi. Teriakan histerisnya berkurang menjadi isakan, dan kami berdua terduduk kelelahan di lantai. (hal. 135)

Salah satu aspek terbaik bekerja di sekolah Pecking adalah penerimaan masyarakat umum terhadap murid-muridku. Ini adalah tempat kerja pertama yang membuatku merasakan bahwa kelas pendidikan khususku benar-benar berintegrasi dalam kehidupan sekolah normal. Kami dilibatkan dalam semua kegiatan dan selalu diberi cara-cara yang nyata dan berarti untuk berpartisipasi, bukan hanya diberi hadiah. (hal. 288)

Sekali lagi, aku mendapati diriku duduk sendirian di ruang ganti dan diliputi perasaan lumpuh yang memuakkan. Hanya ada satu pertanyaan : apa yang harus aku lakukan? Dan tampaknya pertanyaan itu nyaris tidak terjawab. (hal. 320)

Penyiksaan anak adalah kejahatan paten yang dalam pengungkapan dan penyembuhannya harus memiliki kejelasan hitam-dan-putih – penyiksaan diidentifikasi, anak diselamatkan, pelaku mendapat ganjaran. Sayangnya, aku tahu bukan itu yang akan terjadi. Pada kenyataannya hal itu termasuk kehidupan-kehidupan kecil yang jadi berantakan dan hancur, hubungan yang rusak, dan hati yang patah. Kebaikan dan kejahatan bukan sesuatu yang mutlak, tetapi relatif. (hal. 361)

Kisah Jadie sedikitnya memberikan saya gambaran mengenai perilaku elective mutism yang disebabkan oleh peristiwa traumatis, bagaimana seorang anak yang terganggu jiwanya begitu lincah dan pintar berkata-kata saat di rumah, namun enggan berbicara spontan di sekolah. Terutama sudut pandang seorang Torrey Hayden sebagai guru anak berkebutuhan khusus yang memiliki kekuatan mengisahkan setiap pengalamannya dengan transparan dan tepat sasaran, tetapi menyisakan tanda tanya agar kita berpikir keras dalam setiap rintangan yang dilalui.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s