Menjadi Waras di Zaman Edan

Mencerap hikmah dan humor di setiap kejadian. Waras di Zaman Edan-nya Prie GS membuat naluri esais saya meletup-meletup bak teko air yang mendidih. Ya, buku bernafas esai kontemplasi ini mengajak saya menyelami setiap makna kehidupan, bahkan untuk hal remeh sekalipun.

Buku Waras di Zaman Edan karya Prie GS.
Buku Waras di Zaman Edan karya Prie GS.

Prie GS. memberikan ulasan yang menarik tentang berbagai hal dalam hidup, mulai dari fragmen “Belum Waras” sampai menjadi “Waras”. Buku terbitan Bentang pada bulan April 2013 ini memberikan jeda inspiratif untuk menekuri setiap kejadian yang berlalu dalam kehidupan.

Apalagi dalam kata pengantarnya, ia mengantarkan sebuah petuah yang begitu sederhana tapi memikat, yaitu kalimat ini : “Menulis akhirnya menjadi kegembiraan bagi hidup saya. Banyak yang bisa diartikulasikan karena saya senang mengartikulasikan segala sesuatu, bahkan hanya dengan melihat sekelabatan. Saya merasa menulis adalah alat penangkap yang baik bagi saya untuk kebutuhan ini…”

Ya, saya sepakat setuju Pak Prie! Saya pun demikian. Sejak dulu terkadang pikiran disesaki berbagai hal yang berkelebatan dengan liar. Dan entah mengapa jika berbagai kelebatan itu tak disalurkan, ada ganjalan yang menghambat saya berpikir jernih. Pokoknya, ada sesuatu yang tak menemukan muaranya. Mungkin inilah namanya jalan yang sunyi. Jalan yang dilalui para esais yang tidak suka berlarut-larut dalam diksi. Mereka mengalirkan energi melalui kata-kata bermakna, meskipun singkat namun mengena pada kesadaran manusia yang terdalam.

Berikut ini kutipan yang paling lama saya serap dari buku tersebut :

“Gagal mendapatkan nilai di rumah setara dengan kehilangan surga yang begitu dekat, begitu nyata. Oleh karena itu, jika surga yang dekat-dekat ini saja gagal kita dapatkan, agak sulit membayangkan untuk mendapat surga yang ada jauh di sana itu.” (Virus Biasa)

“Hasil pembangunan sebuah kota sesungguhnya hanyalan gambaran rohani pemimpinnya. Ini tak bisa dimanipulasi dengan cara apapun.” (Infrastruktur Rohani)

“Maka, dunia simbol ini sungguh bukan soal sederhana karena ia adalah gambaran hidup yang sebenarnya. Bagaimana caranya? Simbol itu harus benar-benar dicocokkan dengan kelakukan.” (Lambang-Lambang Tumbang)

Dan berbagai kutipan lainnya yang saya catat dan perlahan endapkan dalam benak. Buku yang layak untuk dibaca jika ingin tetap waras di zaman edan ini.

4 Comments Add yours

  1. Fasya says:

    Alhamdulillah gue udah punya nie buku,pas beli bukunya tinggal 1 lagi.

  2. kang Rahmat says:

    Jadi makin pengen ngoleksi bukunya om prie GS ,
    Anyway ulasannya menarik mas. Salam kenal dari bandung

    1. jundiurna92 says:

      Salam kenal juga kang.. Saya juga dari Bandung.
      Oiya saya bukan mas-mas..🙂
      Nuhun udah mampir..

      1. kang Rahmat says:

        oh iya maaf.. #mari dukung Bandung Juara eh😀

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s