Diposkan pada Catatan Diri, Literasi, Refleksi

Diari : Bukti Sebuah Pertumbuhan

Sumber : http://www.dennis-sellers.com/auntjinny/diary11.jpeg
Sumber : http://www.dennis-sellers.com/auntjinny/diary11.jpeg

Menulis diari tidaklah seperti menulis surat untuk teman atau menulis laporan untuk sekolah. Kamu tidak perlu mencemaskan ejaan dan bentuk tulisan tanganmu, atau mengkhawatirkan apa yang akan dipikirkan orang lain tentang kamu. Kamu menulis hanya untuk menyenangkan dirimu sendiri.

Setiap orang berkeinginan besar untuk menemukan sebanyak mungkin kebenaran tentang dirinya. Dan pencarian jati diri ini berlangsung sepanjang hidup kita. Menulis bisa menjadi bagian penting dari proses pertumbuhan. Diarimu dapat menyadarkan dirimu akan kekayaan batin yang telah kamu miliki. Ia bisa menjadi daya kreatif untuk kamu, mengisi kembali sukmamu, dan mendorongmu agar lebih berani dan imajinatif.

Sejak dahulu, orang-orang sudah menggunakan diari dan jurnal untuk mencatat pemikiran paling pribadi dan menguraikan pengalaman yang penting bagi mereka (Carla Stevens dalam Buku Hatiku, 2005).

That’s right! Menulis diari adalah sebuah jeda menangkap segala hal yang berkelebatan dalam benak. Sungguh, saya beruntung pernah hidup dalam episode remaja tanpa serbuan teknologi yang begitu massif seperti sekarang. Saat itu saya baru menggenggam ponsel ketika baru duduk di kelas 1 Mu’allimin. Ponsel pertama saya waktu itu berupa Nokia 3100 yang sungguh canggih pada zamannya. Sekarang, tentu saja ponsel tersebut sangat tersilap oleh mutakhirnya Blackberry dan  ponsel Android.

Oops, kembali ke diari. Terhitung sejak tahun 2005, ada 9 buku diari berdebu menumpuk di lemari. Hufh, sudah 8 tahun berlalu hanya 9 buah saja. Kadang saya menyayangkan diri yang selalu lalai menuliskan gagasan dalam pikiran. Artinya saya melewatkan banyak makna dalam hidup. Mulai sekarang, saya akan kembali membiasakan diri menuliskan hari-hari di atas diari. Terlepas dari anggapan bahwa diari hanya milik mereka yang masih remaja. Karena hidup terus bertumbuh, seiring itulah saya membiasakan diri menumbuhkan harapan dan keinginan. Menangkap momen dalam jeda yang begitu singkat dalam rutinitas yang berlarian. Dan diari adalah sebuah bukti sebuah pertumbuhan. Bagaimana pikiran menetaskan kepribadian…

Maka berperanlah minimalnya dalam jagad literasi sebuah diari. Tanpa dibebani oleh aturan struktural bernama EYD dan tata bahasa yang rumit. Ungkapkan siapa dirimu dan apa pikiranmu di atas lembaran-lembaran pribadi bernama diari…

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s