Keluarga

Bandung 1998 : Saya dan Opi

Bandung, 1998

Enam tahun lamanya saya mengalami masa orde baru sejak lahir ke dunia. Enam tahun pula saya merasakan berbagai kebahagiaan selama masa kanak-kanak. Hari-hari dilalui dengan sukacita tanpa krisis ekonomi. Kami sekeluarga saat itu leluasa pergi bermain ke berbagai tempat. Kebun Binatang Bandung, Taman Lalu Lintas, pusat perbelanjaan Alun-Alun zaman dulu, dan tempat lainnya. Tanpa harus memikirkan sembako yang mahal. Masa kanak-kanak saya lalui dengan ragam kegiatan anak-anak. Bermain ucing sumput, galah jidar sepulang sekolah, main bola bersama teman, bahkan memanjat pohon kersen depan matrial bambu (yang kini telah lama ditebang oleh pembangunan modern). Ngefans pada Petualangan Sherina sambil menyanyikan soundtrack-nya saat lomba Agustusan. Masa kanak-kanak yang takan pernah terganti meski diulang untuk saat ini.

Dunia yang begitu berbeda. Beranjak enam tahun, saya memasuki orde reformasi dengan segala dinamikanya yang saat itu belum dapat saya pahami. Apalah arti definisi sebuah era bagi seorang anak kecil. Dan lambat laun saat mengenyam bangku perkuliahan, saya mulai paham bahwa banyak pergeseran nilai yang telah terjadi. Jika dulu, wanita yang berjingkrak di atas panggung dianggap ‘murahan’ bahkan tidak bermoral. Maka saat ini, justru wanita seperti itu dielu-elukan dan dipuja oleh penggemar. Bahkan menjadi trendsetter berbagai jenis goyang di negeri ini. Ah, sudah terlalu jauh nilai-nilai ini bergeser… Mungkin saja telah tersungkur pada titik nadir yang amoral.

kolase duo
Saya dan Roofi (Opi), 1998.

Saya dan Opi

Jika mengenang tahun-tahun sebelum adik kedua saya yang perempuan lahir, saya dan Opi ibarat anak kembar yang kemana-mana selalu berdua. Padahal usia kami terpaut 2 tahun. Perbedaan karakter antara kami cukup berjauhan. Jika saya tomboy dan agak sangar, maka adik laki-laki saya adalah orang mudah tersentuh dan agak pendiam. Ternyata sampai sekarang, Opi ditakdirkan menjadi anak laki-laki satu-satunya di keluarga.

Adik saya yang satu ini memiliki segudang perhatian pada berbagai hal bernama sejarah dan konspirasi. Dia tak segan membeli 2 buku Api Sejarah dan buku-buku yang berkaitan dengan Freemasonry. Namun, satu-satunya juga yang tidak saya mengerti di balik buku bacaannya yang serius, Opi selalu lebih anteng menonton Shaun The Sheep dibanding Azkia, adik bungsu saya yang 5 tahun. Sesekali tertawa membahana, saat Mr. Bean tengah beraksi di layar kaca.

Sekarang, jauh berbeda dengan era 1998. Jika dulu saya dan Opi seperti anak yang sebaya. Kini justru dia terlihat lebih dewasa. Bahkan, banyak yang menyangka kalau Opi adalah kakak saya. Lambat-laun kekaguman saya tumbuh padanya, saat ia berusaha keras menceritakan kisah-kisah Nabi ketika mengajar ngaji setiap Sabtu-Ahad di rumah. Karena saya tahu betul, Opi itu bukan tipe orang yang berani berbicara di depan umum. Di balik kekanak-kanakannya saat menonton kartun, saya salut padanya yang lebih rajin setiap pagi membereskan dagangan di warung kecil kami. Bagaimanapun, saya mesti menumbuhkan harapan padanya dan mendorongnya untuk survive sebagai anak lelaki satu-satunya yang menjadi tumpuan harapan sebagai imam di keluarga kelak nanti.

Saya dan Roofi, 2011
Saya dan Roofi, 2011

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s