Fragmen Desember

Masih ingat dalam benak saya, bulan Desember selalu menjadi penghujung tahun yang membekas dengan sekelumit kesibukan.

Fragmen ’12

Desember 2012 adalah momen saya bertemu dengan suasana kantor. Ruangan ber-AC, blok-blok komputer staf, menghadapi costumer, menghadapi keinginan owner, dan beragam karakter partner kerja. Sejak saat itu jejak langkah saya “mengukur jalan” sepanjang Soekarno-Hatta-Buah Batu. Pergi pukul 8 dan pulang pukul 7 malam. Rasanya hidup hanya rutinitas yang berulang. Kebosanan memuncak saat saya merasa ada potensi yang tak tersalurkan. Kebosanan yang tak bisa diobati dengan hanya menggunakan fasilitas Wi-Fi kantor cuma-cuma. Kebosanan yang tak bisa dihindari meskipun rekan kerja sudah klop di hati. Delapan bulan berlalu, Agustus saya beranjak mengundurkan diri. Meskipun demikian,

banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan selama menjadi pegawai kantoran.

Pertama, urgensi finger print untuk kebijakan gaji. Gara-gara urusan satu ini, saya menemui musibah yang tak terlupakan.

Kedua, pengalaman tiap hari memegang Canon EOS 600D, ya, setidaknya kemampuan fotografi saat kuliah jadi terasah.

Ketiga, punya pengetahuan tentang beragam jenis kain kerudung atau pashmina.

Keempat, jadi tahu kebiasaan orang kantoran kayak gimanaナ

Kelima, setiap makan siang sering royal nyari jajanan. (Mau gimana lagi menu makan siang bikin kantong tersedot)

Keenam, setiap berangkat kerja, kadang terdorong jadi fashionable, karena tuntutan profesi. Berkostum ala hijaber dan sepatu wedges wajib dipakai saat ngantor.

Ketujuh, tahu rasanya lembur kerjaan belum kelar dan dikejar deadline saat owner memberikan kerjaan dalam waktu yang sangat mepet. Apalagi soal ACC desain selalu menjadi hal yang bikin deg-degan.

Ke-8, 9, 10, dan seterusnya akan saya bukukan dalam “Catatan Harian Orang Kantoran”. Hehe,

Fragmen ’13

Desember 2013 sekarang adalah momen saya menemukan bentuk terbaik dalam sejarah hidup. Lebay memang. Tetapi, itulah yang saya rasakan sesungguhnya. Meskipun banting setir dari profesi ideal sebagai jurnalis. Saya serasa menemukan dermaga yang tepat untuk menyemaikan potensi diri luar-dalam. Dermaga itu bernama sekolah.

Saya menemukan berbagai keunikan yang menakjubkan. Mulai dari suasana sekolah yang teduh dan bersahabat. “Lalu lintas” anak-anak yang tak lelah berlari kesana-kemari. Anak-anak yang selalu antusias memulai pelajaran dengan menyusul ke ruang guru. Anak-anak yang berteriak, tertawa, bahkan menangis diusili teman. Obrolan renyah para guru yang membuat pengalaman bermakna. Saya tidak merasa terasing meskipun saya belum kenal mereka dengan dekat. Saya tidak merasa gerah meskipun hanya kipas angin kecil yang bertengger di tengah ruangan. Saya tidak lagi pusing dengan suasana kelas yang bising.

Di penghujung 2013 ini, saya menemukan diri saya yang benar-benar berbeda. Jika sebelumnya, saya tidak suka dengan anak-anak dan kerewelannya. Maka, detik ini saya mulai menyelami setiap celotehan mereka. Jika dulu, saat praktek mengajar saya bingung kadang gugup berdiri depan kelas, maka sekarang saya mulai leluasa berimprovisasi. Saya mulai menikmati setiap detik yang terjadi.

Ruang dengar saya serasa dimanjakan dengan bel berupa alunan jingle yang unik. Setiap pergantian pelajaran menjadi hal yang mendebarkan. Saya menekuri setiap gaya mengajar para guru yang sudah berpengalaman. Mengamati beragam sudut sekolah dan karakter anak-anak. Mula hafal satu per satu karakter suara guru yang menurut saya punya ciri tersendiri saat berkomunikasi. Kesan akrab dan bersahabat saya dapatkan di sini. Detik ini saya membingkai semuanya dalam ingatan sambil memungut kesan yang membekas dalam benak. Dan entah kapan pengalaman ini terus berlanjut. Saya hanya menjalani sambil memberikan pembuktian potensi diri melalui laku dan karya yang berdaya. Bismillah, Alhamdulillah…

Fragmen ’14

Desember 2014, masih menjadi rahasia Sang Pemilik Waktu. Namun, saya mengukir rencana hidup, kelak pada saat itu, saya tengah menjalani peran sebagai seorang istri dan calon ibu yang bertekad menjadi orangtuanya manusia. Berkiprah menjadi madrasah jiwa seorang anak, menemani tumbuh kembangnya, dan merayakan hidup bahwa bahagianya menikmati setiap riak dunia dengan bersahaja. Mengurainya satu per satu dalam kata-kata…

sore beranjak petang di selasar ruang keluarga.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s