Kehilangan Cahaya

Di surat pembaca koran-koran kerapkali muncul keluhan PJU (Penerangan Jalan Umum) yang padam. Jalanan kota malah hari sangat gelap gulita. Jalan-jalan seperti itu menjadi lokasi rawan kejahatan. Nah, di sudut-sudut kota lain, lampu-lampu menyala menyilaukan mata. Minimarket, mall, sampai pusat hiburan menyala nonstop 24 jam. Para pengendara motor  juga tak luput dari cahaya megatron yang terpajang di beberapa ruas jalan. Cahaya ada di mana-mana. Cahaya dunia.

Di rumah-rumah, lampu menerangi setiap ruangan. Bermula dari listrik, kesibukan dimulai. Berbagai macam aktivitas seperti menyetrika, mencuci, membuat jus, dan sebagainya bersentuhan dengan energi listrik. Ketika PLN melakukan pemadaman, orang-orang berkerumun menghampiri warung terdekat untuk memburu lilin.

Seperti yang terjadi saya alami di rumah, kami sekeluarga tiba-tiba merapat ke ruang tengah ditemani cahaya lilin. Lalu, sejenak mengobrol dan bersantai di kursi bersama-sama sambil menunggu lampu menyala kembali. Tak ada aktivitas yang berarti saat lampu padam. Penglihatan terganggu dengan cahaya yang sangat temaram. Di balik temaramnya ruangan, ada hikmah yang tersirat, dalam gelap kami begitu dekat dalam kebersamaan. Jika listrik menyala, kami pasti kembali sibuk masing-masing. Menonton TV, berjibaku dengan HP, dan menghapal pelajaran di kamar.

Meskipun dunia ini dipenuhi dengan cahaya buatan manusia. Saya tak ingin kehilangan cahayaNya. Cahaya yang selalu terhalang oleh cahaya dunia.  Cahaya dari lampu, TV, HP, senter, netbook/laptop, megatron, flash kamera, dan cahaya buatan lainnya. Sungguh, saya masih memerlukan cahaya yang sesungguhnya. Cahaya yang membuat saya melihat lebih jernih pada hitam putih kehidupan. Cahaya yang menuntun saya bertindak sesuai yang telah digariskan Allah dan RasulNya. Cahaya yang menguatkan kebaikan. Bukan cahaya yang memperlihatkan kebatilan semakin jelas. Bahkan, mungkin saja cahaya itu sesungguhnya ada dalam kegelapan. Seperti cahaya yang tiba-tiba menerangi di alam kubur kelak nanti karena amal kebaikan semasa hidup. Wallahu a’lam.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s