Kagum dan Membuktikan

Seusai baca "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin" Tere Liye

Seusai baca “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin” Tere Liye

Pegal sekali duduk berjam-jam nonton drama Korea, sebanding dengan pegal membaca buku satu jam di atas kursi. Detik ini saya tamat membaca buku “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Terbawa melankolis, terbawa suasana, terdorong untuk menulis kembali. Terbawa pada kondisi untuk menyimak dengan detil segala sesuatu di sekeliling. Dan saya sadar telah melewati banyak hal. Teringat banyak dialog yang membekas namun terlupa untuk dituliskan.

Saya sadar tak sedekat Tania dengan adiknya, Dede dalam cerita di buku. Ada banyak dialog kedekatan kakak beradik yang sangat erat dengan berbagai persoalan. Cerita tentang keseharian, interaksi dalam chatting saat jarak jauh. Berbagai pemandangan yang terhidang dalam setiap alinea. Saya merasakan sesuatu saat membaca kalimat, “Berhenti sejenak. Menatap sekitar. Itu selalu memberikan kita inspirasi!” Tere Liye memiliki perspektif yang begitu dekat dengan keseharian. Mengungkap hal yang sebenarnya biasa saja, tapi jarang tersentuh oleh yang lain. Dan saya suka gaya penuturan dalam setiap bukunya.

Saya tidak akan membahas bagaimana isi buku itu, bahkan saya tidak akan menyinggung bagaimana ceritanya. Saya hanya menggaris bawahi beberapa hal yang membawa saya pada persoalan keseharian. Hidup saya sendiri. Tentang keluarga. Dan benar, buku itu membawa saya pada realita yang nyata. Tidak seperti drama Korea, yang membuat saya berlarut-larut bermimpi pada ending cerita dan hanyut pada pesona para pemainnya. Membayangkan betapa indahnya jika saya bisa masuk ke dalam drama. Menonton hanya sekadar membuat terbuai lalu terlupa persoalan yang benar-benar ada. Namun, saat membaca, saya berpikir ulang pada realita yang ada. Sudahkah saya bacaan yang saya habiskan membawa hidup saya tercerahkan atau sekadar terbuai dengan kata-kata?

Saya terkagum-kagum dengan kalimat bijak dalam buku itu, saat Dede mengucapkan kalimat, “Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”

Kekaguman saya hanya akan menjadi omong kosong jika saya saya sebatas kagum pada kata-kata. Kagum yang sia-sia di permukaan. Karena setelah membaca kalimat itu, tugas saya adalah membuktikannya lewat tindakan keseharian. Meskipun saya harus pegal banyak bergerak, meskipun harus banyak peluh yang berkucuran. Agar saya tahu bacaan itu mendorong bukan sekadar kata-kata manis bersayap, tetapi membuat saya tercerahkan dalam berbuat.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s