Karena Kreatif Sampai Mati

Kalender Cube 2014
Kalender Cube 2014

Kreatif! Itulah kata ajaib yang membuat saya meraih buku “Kreatif Sampai Mati!” karya Wahyu Aditya, pendiri HelloMotion Academy. Karena penasaran dan saya merasa belum menjadi orang kreatif, akhirnya buku tanpa wrapping plastik itu bermuara di kasir. Satu per satu halamannya saya simak lekat-lekat. Memang kreatif dan unik! Ditambah dengan pemilihan font yang santai untuk dibaca, terkesan simple dan friendly. Hoho, saya tidak akan meresensi buku ini, sob! Kalau mau resensinya, silahkan klik DI SINI!

Nah, saya hanya ingin menuangkan yang saya alami sejak mengenal kata “kreatif”. Saya kenal kata ini saat pertama kali bergelut dengan dunia mading semasa sekolah. Setiap ada festival mading santri (FMS), saya pasti bersemangat mengikuti, dan Alhamdulillah menang. Oh, kreatif itu ternyata mudah ya, hanya dengan menguraikan imajinasi, kita bisa menempelkan berbagai macam kertas warna dan menggoreskan kata-kata sesuai rubrik. Pokoknya membuat sesuatu yang enak dibaca dan enak dilihat (waktu itu saya belum mengenal kata “komposisi”).

Masa-masa sekolah berlalu, saya dihadapkan pada situasi memilih jurusan perkuliahan. Sungguh, saat itu saya sebenarnya ingin masuk Desain Komunikasi Visual Unikom. Tetapi, apa daya ortu hanya sanggup mendaftarkan saya ke UIN Bandung (hehe, maklum kampus negeri kan lebih ekonomis!). Akhirnya saya memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Jurnalistik. Alhamdulillah lolos di pilihan jurnalistik. Entah kenapa saya enteng saja men-checklist pilihan jurusan wartawan ini. Dengan motif senang menulis, saya masuk ke jurusan yang dikenal “garang” seantero kampus.😀

Mungkin Allah memang menakdirkan saya masuk jurnalistik  karena dulu saat masih bocah ingusan, saya membawa tape recorder dan kamera Kodak waktu kampanye dan acara keluarga. Saat kuliah, saya menemukan banyak hal yang sebenarnya menjungkirkan-balikkan sifat saya. Saya termasuk orang yang fobia bicara depan umum. Fobia bicara di telepon. Fobia berinteraksi dengan orang asing. Nah, saat kuliah, mau nggak mau saya harus menerobos fobia saya karena tuntutan akademis. Mata kuliah wawancara butuh keberanian untuk bicara dan bertanya. Setiap perkuliahan dituntut untuk presentasi depan kelas. Awalnya rasa nervous mendera begitu hebat, lama kemudian saya pun terbiasa melaluinya. Fobia saya runtuh karena saya menerobos zona nyaman.

Hey, setelah dilepas rektor saat wisuda. Dunia luar kampus menyeringai dengan taringnya sambil berteriak, “Selamat datang sarjana, mau jadi apa kamu??” Sebenarnya saya bisa saja langsung melamar jadi jurnalis media cetak atau hijrah ke Jakarta jadi crew media televisi. Tapi, ternyata saya belok ke jalan lain. Melamar ke percetakan jadi desain grafis. Selama 3 bulan saya kembali menggenggam software grafis sebagai tukang setting, ngerjain desain sesuai pesanan costumer. Gak nyambung memang, seiring waktu saya mencari celah  sesuai passion. Jengah dengan tempat percetakan, saya pindah ke butik busana muslim kembali jadi desain grafis. Tidak jauh beda sih sebenarnya ritmenya, namun di butik saya hanya mendesain berbagai format grafis brand tempat saya kerja. Delapan bulan saya lalui di sana dengan belajar banyak hal. Passion saya sudah menemukan celah sebagai desain grafis, tapi ada yang tidak tersalurkan dalam diri, yaitu passion menulis dan interaksi dengan orang banyak. Kerja di kantor hanya membuat saya berinteraksi dengan komputer semata, saat itu saya merasa diri nggak berkembang. Akhirnya, resign…

Seperti yang dibilang Wahyu Aditya dalam buku “Kreatif sampai Mati”, banyak jalan menemukan “passion”. Saya merasa tertantang dengan kalimat berikut ini, “Tiba-tiba gelar menjadi tidak berharga, banyak anak-anak yang memiliki gelar tapi tidak punya pekerjaan, ini adalah proses inflasi akademis. Kita harus memikirkan kembali dengan radikal cara pandang kita terhadap kecerdasan dan pendidikan.”

Nah, saluran kreativitas saya nampaknya menemukan muaranya. Ternyata, do’a Ibu saya terkabul. Beliau ingin saya menjadi guru. Sekarang, saya sedang “bermain” di dunia pendidikan. Dengan background jurnalistik, saya agak kesulitan memahami prosedur dan teknis di lapangan saat mengajar. Tapi dengan jurnalistik jugalah, saya belajar untuk menjalankan teknik wawancara dan observasi secara langsung dengan para guru dan anak-anak. Dan desain grafis membantu saya meracik media pembelajaran dengan komposisi menarik. Waw, ada benang merah yang bisa saya ambil.

Ternyata passion saya ada dalam perpaduan 3 unsur (kayak atom-atom dalam kimia :-D). Saya berdiri di tengah dunia pendidikan dengan jurus desain grafis dan teknik jurnalistik. Dan saya bertekad  membuat ketiganya menjadi sinergis. Bismillah…

5 Comments Add yours

  1. Wah keren banget mbak ,,, ternyata hal yang tidak pernah kita bayangkan bisa terjadi juga ya dengan kita menjadi kreatif … Apalagi jadi seorang pendidik yang kreatif insya Allah peserta didiknya juga kreatif … Salam hangat dari Jogja … Keep Blogging

  2. hp yitno says:

    buku ini kan pernah dibahas di kick andy. Memang bagus kok bukunya.

    1. jundiurna92 says:

      Yups bagus dan menggugah..🙂 thanks udah mampir..

  3. edi padmono says:

    Kalau dunia binatang siapa yg kuat dialah yg menang, kalau di dunia manusia siapa saja yang kreatif atau sering dibilang berpemikiran smart dia akan tampil jauh di depan. Tidak perlu pintar atau bergelar akademik untuk maju. Banyak orang yg tak berpendidikan sukses karena kreatifitas dan kerjakerasnya yg melampaui orang berpendidikan tinggi yg hanya mengandalkan sertifikatnya.

    1. jundiurna92 says:

      Betul, kadang gelar tanpa kreativitas hanya menjadi beban intelektual negara. Dan saya rasa sebaik-baik pelajaran didapatkan dari pengalaman kehidupan bukan sebatas teori di bangku akademik..Terima kasih sudah berkunjung🙂

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s