Singkirkan Keluhan, Fokus pada Tujuan!

Hanya orang yang memiliki visi besar yang bisa membuat sejarah besar. Dengan visualisasi yang kuat dan jelas, mereka melihatnya dan mengalaminya sebelum benar-benar melakukannya. Mereka telah tiba (dalam pikiran mereka) sebelum berangkat, telah selesai sebelum mulai. Dengan gambaran yang jelas, akan lebih mudah bagi kita untuk mempersiapkan semua yang diperlukan ataupun dipersyaratkan bagi terwujudnya visi tersebut.

Ketika kita terilhami dengan tujuan-tujuan besar, maka seluruh pikiran mematahkan batas-batasnya. Ketika itu pikiran kita menerabas batas, kesadaran kita meluas pada segala arah. Visi besar bukanlah semata untuk diwujudkan, namun terutama untuk mendorong potensi diri seorang khalifah-Nya untuk sampai mendobrak ke permukaan. Sebaliknya, tanpa tujuan atau visi yang jelas, kecerdasan hanya akan membawa kita pada pusaran kebingungan dan kemalasan. Tanpa tujuan, kehidupan yang kita jalani akan selalu berupa data-data yang kacau tanpa makna (Ahmad Thoha Faz dalam Titik Ba).

Pernahkah kita begitu antusias pada sebuah tujuan dalam hidup, tetapi setelah tahu rumit prosesnya kita jadi mundur teratur atau meminimalkan tujuan yang telah kita rencanakan? Saya pernah mengalaminya. Contoh, saya ingin menjadi pribadi yang teratur dalam urusan domestik rumah tangga. Ya, sebagai manusia kita tidak akan terlepas dari urusan domestik misalnya mencuci, menyetrika pakaian, menyapu, membersihkan rumah, dan berbagai aktivitas rumahan lainnya. Saya memang tidak mundur atau membiarkan cucian setrikaan menggunung tinggi. Hanya saja saat mengerjakannya langkah selalu berat dan lagi-lagi diawali keluhan rasa malas. Menunda-nunda pekerjaan sampai waktu tersisa begitu sempit. Mengapa selalu persoalan hal demikian saja? Padahal, tanpa ditunda-tunda, urusan domestik seperti di atas bisa kita tuntaskan dengan mudah kalau fokus pada tujuan. Kekuatan untuk fokus pada tujuan terhalang oleh keyakinan yang sering goyah. Terkecoh oleh tujuan-tujuan semu yang berjangka pendek.

Saya ingat sebuah kaidah Ushul Fiqh,  “Al Amru Bisyai’in Amrun Biwasailihi” yang artinya perintah terhadap sesuatu berarti perintah pula pada wasilahnya (perantara persoalan). Kalau saya ingin pergi ke tempat kerja, mau tidak mau saya harus mengeluarkan motor dari rumah, meskipun setiap berangkat harus bersusah payah menuruni halaman rumah dengan bobot motor lumayan berat. Jika saya benar-benar fokus pada tujuan, nampaknya perantara menurunkan motor ke luar tidak lagi menjadi ladang keluhan namun kebutuhan yang membuat perasaan syukur selalu ada.

Jika kembali memikirkan kaidah di atas, saya selalu berpikir pada keluhan-keluhan yang terlontar setiap melalui proses yang rumit dalam hidup. Apa sebenarnya tujuan hidup saya di dunia ini? Bila saya berhasil, nama saya disebut-sebut di mana-mana. Apa makna semua itu bagi saya? Apa tujuan akhir saya detik ini? Jam ini? Hari ini? Pekan ini? Bulan ini? Tahun ini? Sepuluh tahun kedepan? Seluruh hidup saya di dunia ini?

Menentukan tujuan akhir atau garis finish bisa menjadi pijakan awal memulai langkah. Karena seringkali kita melangkah tanpa tujuan yang jelas atau sekadar melakukan langkah-langkah tak berarti. Untuk diri kita, orang di sekeliling kita, bahkan langkah kita tak tercatat sebagai langkah kebaikan di hadapanNya. Hanya sekadar langkah-langkah mengejar kepuasan dunia dan tujuan-tujuan hidup berjangka singkat tanpa menaruh perhatian pada tujuan akhirat.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s