Catatan Diri, Selaksa Rasa

Ada Nama, Ada Cerita

DSCF3068Nama. Semua manusia pasti punya nama. Benda mati sekalipun punya nama. Karena nama adalah keniscayaan. Sekalipun ada yang tak punya nama, ia mungkin memiliki sebutan kendati hanya unknown atau noname. Tanpa nama, tak pernah ada cerita. Tak pernah ada kisah, mungkin tak pernah ada kehidupan. Orang amnesia saja yang tak pernah bisa mengingat jati dirinya, akan memiliki nama baru dari orang terdekatnya saat ia bangun, meskipun nama itu bukan bagian dari dirinya. Begitu asing.

Aku pun pernah merasa asing dengan namaku sendiri. Apakah aku amnesia? Ohh, tentu saja tidak. Aku masih sadar, tepatnya sadar seratus persen. Buktinya aku masih bisa merangkai cerita dalam halaman virtual ini. Yang pasti, aku pernah merasa asing dengan refleksi nama itu. Sudahkah mencerminkan bagian hidupku yang paling indah darinya. Nama yang merupakan pemberian dari ibuku. Doa untuk hidup dunia dan akhiratku.

Sudah berkali-kali bahkan ratusan kali nama itu disebut setiap absensi. Semenjak aku berseragam biru muda TK O kecil sampai kuliah semester enam tanpa seragam resmi. Saat nama itu disebut, tak ada yang mengacungkan tangan kanannya selain aku seraya menjawab, “Hadir, Pak! Hadir!” Terkadang aku malu juga, bila ada guru atau dosen yang mengabsen dan terlalu menelusuri asal-usul dan arti namaku sendiri. Padahal, mungkin tak semestinya aku malu. Toh, namaku indah untuk disebut (Hheu pede banget sih!) dan gak jelek-jelek amat. Setiap namaku disebut, kuharap itu sebuah do’a yang berharga.

Namaku memang tak ada menyaingi, hmm bukannya sombong, tapi memang tak ada duanya di kelas. Entahlah di luar kelas, mungkin hanya berbeda kepanjangannya. Terkecuali jika aku mengklik namaku sendiri di bagian pencarian orang Facebook, wahh ternyata ada juga yang sama dengan namaku. Biarlah yang penting aku punya sesuatu yang menjadi ciri khas diri, tak sama dengan yang lain.

Wildaini Shalihah. Itu yang sering kudengar saat dosen mengabsenku, “Saya, Pak!” Jawabku saat nama itu disebut. Tapi, anehnya aku bingung kenapa dosen sedikit kesulitan saat menyebutkannya, seringkali menjadi “Wildani”, “Wildiani”, dan “Wildan”. Hmm, aneh memang. Apakah namaku sulit untuk dieja langsung, atau tidak cocok dengan lidah orang Sunda. Haha, mulai narsis nih… Biarlah yang penting ketika sebutan itu keliru, aku langsung koreksi dan klarifikasi, “Bukan Pak, tapi Wil-Da-I-Ni” 🙂 Kadang aku tak pernah mengoreksi lagi karena bosan, nah malah teman sekelasku yang meluruskan. Syukurlah, namaku sudah menempel di benak kalian, teman, terima kasih. 😀 (Dari jauh atau dari sudut hati kudengar kalian mencibir, “Hufh, siapa sih elo!” Pede amat sih!). Biarinn!!! Huee 😛

Ah, maaf maaf cuma intermezo saja dalam tulisan. Setiap nama memang punya cerita, punya kisah dan kesan tersendiri. Nama itu sempat membuatku malu kala diambil kata depannya saja dan menempel dekat dengan keseharianku ketika kecil. “Neng Wiwil”, hufh selalu kikuk kala teringat sebutan itu, betapa lucu terdengar dan mungkin sedikit konyol, tapi itu bagian dari masa lalu. Sekarang tak ada lagi yang menyebutku seperti itu kecuali orang dari dunia antah-berantah. hehe…

tangkub (950x370)

Sejak usiaku 14 tahun, namaku bermetamorfosis dari sebuah keisengan. Iseng mencari nama laqob atau nama samaran, khusus untuk sebutan teman-teman satu CEES. Dari Nida menjadi Itot, dari Ulfa menjadi Upay, dari Shofia menjadi Peot, dari Yuni menjadi Untring, Qorri menjadi Oi, dan akhirnya diriku, Wildaini Shalihah menjadi Shizunda Ijund, dipanggil Ijund. Ihh… jauhhh,,, Padahal,,, sungguh, saat itu hanyalah sebutan untuk raramean dengan sohibku, namun ternyata berkelanjutan sampai saat ini. Jadilah aku lekat dan identik dengan nama Ijund. Yang menyebut nama asliku cuma dosen dan orang baru kukenal. Keperkenalkan diri dengan nama “Wildaini Shalihah”, tapi untuk orang-orang yang akrab dengan keseharianku jadilah ijund sebagai sebutan.

Ada apa denganmu, Jund! Mana Wildaini? dimana kau sembunyikan dirinya, mengapa dia hilang dari peredaran manusia normal… Wkakak…

Bagiku sama saja. Tapi yang pasti nama yang asli punya ciri khas kesan tersendiri karena ia bagian doa dari hidupku, saat ibu memberikannya dengan harapan aku menjadi anak yang sholihah untuk hidupku dan menebar manfaat bagi manusia lain. Ah, tapi sudahkah harapan itu terwujud? Rasanya belum bahkan masih jauh. Aku belum apa-apa, Bu… Maafkan Aku.

Aku masih seperti ini. Meledak-ledak seperti kembang api tak beraturan. Kadang bersembunyi dalam kegalauan, berpura-pura tangguh dan kuat kala sendiri, padahal aku butuh sandaran untuk bercerita, setidaknya meringankan beban dalam pikiran.

Aku masih seperti ini, mencoba berbeda dari yang lain, tapi tetap saja aku sama dengan lainnya. Mungkin aku sering terduduk sendiri di ruang yang paling sunyi dan bertanya berkali-kali kepada diri yang paling murni. “Siapakah Aku?” “Mau kemana aku di dunia ini?” “Apa yang aku cari?”

Ahh, pertanyaan itu bukannya sulit dijawab, tapi aku masih harus menyelesaikannya jawabannya, sebagai tanda kujalani kehidupan yang terus berpacu dengan waktu. Yang akhirnya, hanyalah Allah yang tahu…

Iklan

2 thoughts on “Ada Nama, Ada Cerita”

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s