Guru Pertama Saya

guru pertama

Kalau lagi makan bersama atau di sebuah perjamuan, ambil hidangan yang terdekat dan secukupnya perut untuk menerima.

Hal pertama setelah bangun pagi selain berdo’a, adalah membereskan seprai  (tempat tidur).

Lakukan sebuah pekerjaan sampai tuntas, lalu lanjutkan dengan yang lain.

Kalau cuci tangan atau cuci piring, keran air jangan terlalu deras, secukupnya saja, biasakan hemat air.

Tidur di pagi hari bikin wajah semakin kusam, masa depan juga suram.🙂

Begitulah segelintir nasihat yang masih saya ingat dari guru pertama bernama Ibu. Seorang “guru” yang mungkin tak sedikitpun memenuhi kualifikasi standar pendidikan di negeri ini. Namun, saya tak pernah menyesal dengan hal itu. Tak pernah sedikitpun menyesal dengan takdirNya bahwa orang tua saya tidak pernah mengecap pendidikan formal sampai tuntas. Ya, jangankan S1, SD pun Ibu saya tidak tamat. Bapak pun demikian, pendidikan formalnya terhenti sampai bangku SMP. Akan tetapi, sungguh, mereka adalah guru yang paling pertama dan berharga yang saya miliki sejak saya lahir hingga sekarang.

Awalnya saya tidak mengerti, mengapa Ibu begitu banyak memberikan nasihat yang mungkin saya anggap sepele, mulai dari rutinitas bangun tidur, makan, sekolah, kuliah, sampai segala hal yang saya butuhkan. Nyatanya, semuanya begitu berharga. Dan ucapan beliau memang ajaib. Sekali tak dituruti, saya selalu mendapatkan kesulitan akibat ulah sendiri. Itulah mengapa saya begitu ingin selalu menyimak setiap yang diucapkan beliau. Kalau bisa, pakai recorder dari ponsel, supaya nasihatnya bisa terekam dan tersimpan. Namun, nasihat yang paling terekam sejatinya yang mengendap di alam pikiran lalu ditaati dengan hati, kemudian berwujud dalam tindakan.

Saya paham menjadi seorang Ibu untuk saat ini tidak cukup dengan mengenyam pendidikan tinggi lalu ia bisa lulus seketika saat berumah-tangga. Ada proses yang harus dilalui yaitu meneladani Ibu sendiri. Menyerap setiap nasihatnya, mengikuti segala kelebihannya, memahami berbagai kekurangannya di setiap letihnya seorang Ibu. Lalu mengambil pelajaran berharga, selanjutnya bisakah saya menjadi sebenar-benar madrasah jiwa bagi anak yang saya lahirkan nanti di masa depan?

Jika menekuri lagi setiap riak yang saya alami, Ibu selalu menemani setiap kesulitan yang ada, mendengar keluh-kesah yang tercurah karena urusan kuliah atau urusan kantor. Ibu, nyatanya seorang wanita yang menemani tumbuh-kembang saya sejak lahir. Memberikan kesimpulan sejati, bahwa beliau benar-benar wanita hebat, meskipun SD tidak tamat. Dengan segala keterbatasan dalam keluarga, ditambah kenakalan anak-anak dan suami yang kerapkali sulit mengerti, beliau masih bertahan. Dengan senyuman dan ketulusan.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s