Amazing Moment @Lokakarya

Amazing moment??? Serius??? Ah, padahal biasa aja. Kamu aja kali yang lebay bilang amazing amazing segala.😛 (ngatain diri sendiri)

Tetapi, serius lho! Lokakarya yang saya ikuti pertama kali ini sebuah amazing moment tak terlupakan di akhir tahun 2013. Entah karena saya baru pertama kali mengikutinya, jadi baru dapat efek “oh”, “aha”, “hm gitu ya…” dan banyak hal baru yang saya temukan. Momentum ini sebuah titik balik perjalanan sekolah, berbagai hal dikupas di sini.

Hari pertama, dare to be better.

Diawali dengan sesi “Kenali Diriku” dan “Apa selanjutnya” yang digawangi Pak Firman, Bu Liya, dan tim-nya. Nah, pada sesi hari pertama kesan yang muncul bagi saya adalah 3 kata : “Antusias, tercerahkan, pegal!!!” What’s? Koq pegal? Yups, pada sesi terakhir sebelum feed-back disampaikan, ada tes kripsi pauli. Yakni menyelesaikan soal bilangan ratusan baris dan kolom di atas kertas ukuran A3, waaaw ternyata ini namanya tes pauli. Mengandalkan konsentrasi penuh, kecermatan, dan kecepatan. Entah apa hasilnya, sepertinya masih direkap oleh tim psikolog sekolah. Tapi, sungguh pada tes itu saya belajar dari penggunaan pensil dan pulpen. Ternyata lebih luwes pakai pulpen dibanding pensil yang sudah tumpul karena tekanan pengisian kertas tes.

Tes Pauli. Sumber : 4shared.com
Tes Pauli. Sumber : 4shared.com

Oiya, pada sesi Lempar Bola, saya memperoleh skors O besar pada 3 sesi berturut-turut. Yap, skors sesi pertama hingga ketiga saya tidak mau menurunkan level jarak pelemparan. Stabil di jarak 3 meter, padahal seharusnya saya maju selangkah ke 2 meter supaya lemparan masuk ke keranjang. Tapi, dasar saya terlalu pede dan gengsi kalau turun level, akhirnya bola yang dilempar nggak masuk-masuk karena kejauhan plus saya kurang yakin dengan kemampuan diri. Belajar lagi pada kondisi seperti ini bahwa saya harus menyesuaikan posisi dan kemampuan diri sendiri. Harus ada keseimbangan dalam AKU. A=Ambisi, K=Kemampuan, dan U=Usaha.

Nah, untuk mengenal diri itu ternyata penting. Bukan saja mengenal identitas seperti riwayat hidup atau sekadar identitas KTP, tetapi mengenali motivasi diri seperti apa. Jika sudah mengenali motivasi diri, maka selanjutnya adalah memiliki gambaran diri yang positif untuk masa depan. Aspek-aspek yang penting untuk memiliki naluri sukses adalah mengelola lingkungan, mengelola pikiran, menentukan tujuan, dan gaya hidup sehat. Nah, aspek yang terakhir nih kayanya yang cukup sulit untuk diterapkan. Kenapa??? Kalau masih suka makan mie instan, banyak ngemil yang nggak jelas asupan gizinya, gaya hidup sehat masih sulit untuk direalisasikan. Tetapi, apapun yang terjadi mesti berusaha menuju arah itu. Harus!

Hari kedua, something new to be explore.

Nah, hari kedua ini khususon pembahasan Kurikulum 2013 atau disingkat K’13. Pak Aripin dan Pak Andry hadir sebagai fasilitator. Menghidangkan presentasi yang cukup menguras otak dan konsentrasi. Hehe, yah soalnya saya benar-benar masih awam dalam dunia persekolahan ini. Jadi yang saya serap adalah hal-hal yang terkoneksi dengan mudah. Saya baru paham kalau K’13 ini benar-benar sosok kurikulum ideal yang dicanangkan pemerintah. Yang disayangkan idealitasnya itu membias karena terkontaminasi dengan berbagai hal teknis ketika pelaksanaan oleh guru sasaran. Itulah yang Pak Andry utarakan dalam sesi tersebut. Nah, tugas mulia selanjutnya dalam K’13 ini, bagaimana sekolah memfilter hal-hal yang bisa menghilangkan nilai filosofis K’13…

K’13 menghadirkan penilaian yang sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Dalam rapot sebelumnya, terdapat deretan nilai dan angka pencapaian siswa. Sedangkan pada rapot racikan K’13, penilaian bersifat deskriptif tanpa angka! Wah, penilaian tanpa bergelut dengan alat hitung statistika. Penilaian itu meliputi aspek spiritual (K1), sikap sosial (K2), pengetahuan (K3), dan keterampilan (K3). Penilaian K’13 bersifat otentik yang merujuk pada proses sikap keseharian siswa.

Dari sesi hari kedua ini, saya jadi tahu bagaimana alur sebuah pelaksanaan kurikulum. Wah ternyata begitu kompleks. Perlu perjuangan berbagai pihak dari berbagai level di setiap elemen pendidikan. Saat Pak Andry menguraikan kurikulum 2013 dan menyebutkan Prof. Abdullah Alkaff, saya jadi penasaran siapa sosok di balik K’13 ini? Setelah saya search lebih lanjut, Pak Goenawan Mohamad mengulas sekilas tentang beliau. “Abdullah Alkaff — seorang ilmuwan dari ITS — mengemukakan sesuatu yang menarik: menurut penelitian paling baru, kecerdasan seseorang tak akan bisa banyak dikembangkan. Faktor genetik menentukan. Tapi yang bisa berkembang adalah kreativitas. Kurikulum 2013 bertujuan mengembangkannya.”

Hmm, saya jadi teringat sebuah ungkapan saat kuliah ilmu politik, bahwa selalu ada das seis dan das sollen dalam berbagai teori kehidupan. Antara harapan dan kenyataan terhidang di atas gagasan ideal. Ternyata ujung-ujungnya perjuangan kembali dilakoni, agar K’13 tak sekadar ide harapan semu tanpa diwujudkan secara nyata. Para pendidik di negeri ini mesti pintar-pintar membuat sintesis yang sesuai dengan arah potensi siswa dan memancing kreativitas mereka. (Btw jadi rada teoritis gini ya…😀 )

Dari sesi ini saya belajar tentang menguatkan akar kemudian merawat pertumbuhan batang, ranting, cabang, agar berbuah manis. Yups, seringkali dalam hal apapun kita dipusingkan dengan hal-hal teknis tetapi lupa pada filosofinya. Akhirnya yang cabang malah merapuhkan akarnya. Teringat lagi sebuah kaidah Ushul Fiqih tentang Al-Ashlu (pokok) saat dulu di Pesantren yang berkaitan dengan ayat :

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim:24)

Hari ketiga, action plan.

Nah, sesi ini yang sangat nyata. Kenapa? Karena forum membahas tentang review kegiatan sekolah selama satu semester. Mulai dari teknis pembelajaran, perangkat pembelajaran, pembiasaan, dan ragam kegiatan sekolah. Terlalu panjang kalau diuraikan. J Namun, hal-hal yang saya garisbawahi di sini tentang proses mengolah temuan-temuan di lapangan. Dan kembali pada tanggungjawab seorang guru yang memiliki andil besar bagi perkembangan anak-anaknya di kelas.

Kesan saya pada Lokakarya SDHT ini, “Amazing” lah pokoknya! Mulai dari partisipasi aktif para rekan guru, penyampaian materi, unjuk kabisa yang heboh, dan ice breaking yang hebring. Semuanya membuat suasana mencair dan rasanya seperti berada di tengah keluarga besar. Teman-teman dengan beragam karakter yang mewarnai SDHT. Sungguh, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga untuk menata langkah ke depan, memasuki era baru tahun 2014, menyapa semester 2 dengan gembira. 🙂