Diposkan pada Catatan Diri, Keluarga, Refleksi, Sosial Media

Alienasi dalam Keluarga

Hari ini ketidaknyaman saat berkumpul di ruang tengah bisa ketauan asal-usulnya. Menghela nafas sejenak, lalu hembuskan. Daripada cemberut berkepanjangan, lebih baik menguraikan benang kusut ini! Let’s talk honesty about family.

Ibu dan Bapak kadang bertanya atau meminta tanggapan atas sesuatu. Sebelum mendengarnya dengan baik, saya sudah menjawab, “Oh, hmm, o iya, nggak tau…” Saya menjawab sambil terus memelototi netbook tapi nggak paham pasti apa yang ortu tanyakan. Menjawab sekenanya. Tapi ortu nggak pernah bertanya ulang saat kami sedikit acuh. Nggak seperti kami yang selepasnya berkata, “Ih meni nggak diwaro!” saat pertanyaan masing-masing diacuhkan komunikan. Nah, setelah sadar dengan kondisi yang berulang seperti ini saat berkumpul. Saya benar-benar menyesal ada sesuatu yang hilang saat kami berada di ruangan yang sama. Komunikasi fatis! Keakraban itu mendadak menyublim. Sebatas angin lalu yang berhembus lalu tenggelam ditelan kesibukan sosial media.

Dan gejala ini merambat kepada semua orang di rumah ini. Siapapun dan sesibuk apapun. Komunikasi terhenti pada benda-benda. Saat Bapak dan Roofi telah asik terpaku depan televisi dengan laga Persib, jangan harap mereka menanggapi dengan Baik jika ditanya. Don’t disturb they! Argh, kadang kalau sudah pada fokus nonton, mereka berdua mendadak gampang tersinggung dan uring-uringan nggak jelas. Akhirnya, saya menunda segala niat berkomunikasi saat laga Persib berlangsung. Membiarkan mereka riuh dengan dunianya.

Terus Nefi, hari ini dia lagi nonton Narnia, pas saya terus nanya-nanya jalan ceritanya (berhubung dia udah nonton Narnia sebanyak 3 kali), dia malah jawab dengan ketus dan cepat. Seakan tak ingin diusik oleh suara apapun selain tontonan. Helllooo, orang-orang di rumah ini sudah teralienasi dengan benda-benda.

*introspeksi*

Saya juga mungkin lebih sering bersikap seperti itu tanpa sadar. Kadang mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Azkia saat sedang blogging atau mengerjakan tugas. Kadang tak sadar Ibu atau Bapak sedang meminta tanggapan saat sedang asik SMS-an. Ya, kadang semuanya terlewatkan. Keakraban keluarga membeku karena terlalu asik dengan benda-benda. Astaghfiruka Ya Rabb…

Saya rindu suasana sebelum gadget sedemikian canggihnya. Saat kami bersila bersama, makan bersama, sambil bercengkrama, membicarakan banyak hal, saling bertegur sapa, tertawa bersama, saling memahami kekurangan masing-masing. Tetapi, sekarang kita harus bersaing dengan benda-benda. Gadget yang merebut perhatian kami. Melupakan interaksi satu sama lain. Berkomunikasi jika butuh dan seperlunya. Hingga lupa memberikan wajah yang ramah dan senyuman tulus di pagi hari sebelum beraktivitas masing-masing. Dan semua itu telah terlupakan dalam lingkup keluarga. Harmoni mulai menghilang dan mau tidak mau saya harus meraihnya kembali!

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...