Belajar Lebih Cerdas, bukan Lebih Keras

Belajar Lebih Cerdas bukan Lebih Keras. Ron Fry. 2005. BIP.
Belajar Lebih Cerdas bukan Lebih Keras. Ron Fry. 2005. BIP.

Pernahkah merasakan kondisi seperti ini? Saat ada tumpukan buku yang harus kamu baca untuk menulis artikel atau mengerjakan tugas, kamu hanya terpaku berjam-jam karena kesulitan mencerna setiap kalimat, dan akhirnya malah menyerah pada waktu yang tersisa. Parahnya malah ketiduran karena mata mulai lelah dibawa membaca. Nah, saya sering mengalami kondisi di atas.

Kondisi itulah yang mendorong saya mengambil buku “Belajar lebih Cerdas, bukan lebih Keras” dari perpustakaan SD Hikmah Teladan. Buku ini saya pinjam untuk menemani momen liburan semester. Bagaimana tepatnya buku tersebut berbicara? Saya merasa tertantang untuk membuktikan setiap gagasannya. Karena, sia-sia saja membaca buku tetapi tidak menghasilkan efek apa-apa.

Passion for knowledge. Begitulah kalimat yang menyapa pada halaman pertama. Semoga proses menyelami samudera ilmu ini berlangsung menggairahkan!🙂

Belajar itu Tahu Garis

quote1Belajar itu bukan hanya buka buku, catat, hafalkan, selesai! Atau seperti kondisi klasik seperti ini : datang ke kelas, dengar guru ceramah, catat pelajaran di papan tulis, mengerjakan soal ujian, dapat nilai, selesai! Heiiii, meskipun belajar melalui tahap seperti itu, tetapi belajar adalah soal proses dalam kehidupan.  Menyerap informasi dari mana saja, kemudian diproses untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saat merasa sulit dengan memahami pelajaran, perlukah kita menambah jam belajar menjadi lebih lama? Ternyata TIDAK PERLU! Yang harus dilakukan adalah mengubah mindset dan cara dalam belajar. Kita sering sibuk dengan memikirkan banyak hal, tetapi lupa kata kuncinya. Sibuk membaca beratus-ratus halaman novel, tapi tak peduli apa yang telah dipahami dari bacaan. Targetnya hanya tamat, bukan paham.

Yups, saya sering merasa tak berguna membaca beratus-ratus halaman buku dengan singkat tetapi tak bisa menyerap apapun. Karena saya hanya mengejar kuantitas kecepatan, bukan kualitas pemahaman. Think again, ternyata selama ini kalau saya jenuh pas belajar, ini salah satu penyebabnya. Saya sering kebingungan dalam menentukan garis start dan garis finish. Bingung memulai darimana dan bingung juga target apa sebenarnya yang akan dicapai.

Motivasi Intrinsik dan Motivasi Ekstrinsik

Apa sih bedanya? Misalnya dalam satu semester ada mata kuliah Statistika yang tidak disukai, tetapi untuk mencapai nilai kelulusan, mau tidak mau harus dipelajari dan dijalani karena tuntutan akademik. Ini jenis motivasi ekstrinsik, motif eksternal supaya dapat nilai dan lulus dalam mata kuliah tersebut. Nah, motivasi intrinsik misalnya bergabung dengan komunitas graffiti karena senang melukis, bukan motif mendapat uang karena hanya sekadar menyalurkan ide. Bagaimanapun, sampai kapanpun, kita akan diliputi 2 motif ini. Tetapi ingatlah, pada setiap motif untuk melakukan segala sesuatu, ingatlah selalu prinsip AMBAK, “Apa manfaatnya bagiku?”

Mengambil Manfaat dari Waktu “Antara”

Eh, tahu nggak? Ternyata waktu “antara” berpeluang membuat kita lebih produktif. Saat terjebak macet, saat menunggu seseorang, saat mengantri bagian, kita bisa melakukan hal yang bermanfaat. Kita bisa bersilaturahmi dengan teman (via SMS, telpon, FB, twitter, medsos lainnya), membaca sesuatu, membuat daftar prioritas, meninjau kalender harian, membuat catatan singkat, berpikir tentang sesuatu (brainstorming), dan pilihan terakhir : bersantai!

Nah, banyak hal yang bisa dilakukan selain mengeluh jika terjebak macet. Nikmati saja dan lakukan hal lain yang memberdayakan! Misalnya, sambil menunggu antrian, digunakan sambil muroja’ah perlahan. Keren, kan!😉