Dari Chaos Menjadi Cerita

Arief Ashshidiq saat memberikan workshop penulisan di SD Hikmah Teladan. Foto di bawah salah satu bukunya yang pernah saya cerna :)
Arief Ashshidiq saat memberikan workshop penulisan di SD Hikmah Teladan. Foto di bawah salah satu bukunya yang pernah saya cerna🙂

Apa motif Anda mengikuti acara ini? Begitulah pertanyaan awal yang disodorkan Bang Arief AshShiddiq, head writer PlotPoint.

“Saya ingin menyerap sisi kreatif juga meramu pengalaman dengan kemasan yang unik dan mencerahkan!” jawab saya dengan mantap.

“Menarik! Mari kita mulai… Kosongkan dulu semua pikiran Anda!” ujar Bang Arief memberikan intruksi.

Dan… tahu nggak, sebuah cerita bermula dari “kekacauan” alias chaos yang terjadi saat Bang Arief menanyai kami, para peserta satu per satu. Peserta berasal dari kalangan guru SD Hikmah Teladan, SMP Hikmah Teladan, dan Sekolah Semesta Hati. Akhirnya tadaaa… Muncullah berbagai karakter yang unik. Sampai mengundang gelak tawa. Karakter yang beliau gambarkan di papan tulis tidak akan saya kupas di sini. Namun, saya mencatat beberapa poin yang saya serap selama workshop penulisan.🙂

Kadang kita terlalu bersusah payah menanyakan kelanjutan isi cerita. Sebagai contoh, saat skenario cerita terhenti dan mulai mencapai titik jenuh, sampai-sampai bingung bagaimana kelanjutannya? Maka Bang Arief hanya bilang, “Yah, dikarang aja!!!” That’s it! Wah benar juga…

Dalam fiksi terutama, cerita bergantung pada kreativitas penulisnya menjaga karangannya agar tetap konsisten pada kompas segitiga. Yups, kompas segitiga itu terdiri dari tiga sudut  yaitu kondisi A, kutub perubahan, dan kondisi B. Misalnya, seorang jomblo (kondisi A) bertemu jodoh (kondisi B) karena soal harta (kutub perubahan). Nah, cerita bisa menjadi menarik karena kutub perubahan yang dikemas dengan asyik. Ooo begitu,…

“Acungkan tangan bagi Anda yang gelisah dengan tayangan YKS?” Hampir setengahnya peserta workshop mengacungkan tangan dan menyodorkan berbagai alasan mengapa gelisah dengan adanya tayangan YKS (Yuk Keep Smile) itu. Nah, Bang Arief memberikan analogi kompas segitiga dengan sampel YKS. Mengapa YKS? YKS tergerak dari orang sedih (kutub A) menjadi bahagia (kutub B) karena tawa (kutub perubahan). Ada persoalan di sini, namun muncul bukan pada YKS berlangsung namun pada efek jangka panjang. Bagaimana sebuah tayangan dangdut memicu amukan massa dan menjadi senjata pembunuh massal, itulah yang Bang Arief angkat dari dari kompas YKS. Belakangan saya mulai paham, di setiap cerita mesti ada value (nilai) yang dihadirkan.

Bicara soal standar tulisan, kita harus mengenali pola yang teramati seperti apa. Ini yang Bang Arief jawab saat ada pertanyaan tentang skenario drama, FTV, sinetron di beberapa stasiun TV yang dinilai lebay dan bombastis. Jangan dulu berprasangka pada satu pola, lebih baik analisis polanya seperti apa jangan hanya men-judge.

Manusia wajar kecenderungan meniru, begitupun halnya dalam penulisan. Jika ingin meniru penulis tertentu, sebaiknya pahami dulu apa yang sebenarnya ingin kita tiru. Jangan sampai kita meniru semuanya, akhirnya tidak punya jati diri dan menjadi orang lain.

*mulai tercerahkan*

Jujur saja, mungkin saya yang perfeksionis ini terlalu banyak pertimbangan untuk memulai cerita fiksi. Sejak kuliah, saya terbiasa merangkai tulisan non fiksi yang berangkat dari pengalaman keseharian. Nah, setelah mengikuti workshop ini saya terpacu untuk merangkai imajinasi yang berkejaran dalam benak. Yah, ada keinginan untuk menelurkan cerpen atau novel di antara pikiran aneh yang menyeruak sesekali. Orang-orang lebih tertarik pada fiksi karena selain ringan, orang senang dengan cerita. Saya ingin bergerak lewat pengalaman dan imajinasi, mengangkat nilai, dan mengemas cerita dengan kalimat yang mengalir dan mengena.

Bismillah…

#jurnalharianguru

Ditulis setelah mengikuti workshop penulisan SD Hikmah Teladan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s