Move On : Cinta dalam Kardus

Catatan pembuatan film oleh Anom Kiskenda. Plotpoint. 2013.
Catatan pembuatan film : Anom Kiskenda. Skenario : Raditya Dika & Salman Aristo. Plotpoint. 2013.

Baru saja selesai membaca buku cerita si anak magang selama pembuatan film “Cinta dalam Kardus”. Cukup waktu kurang 2 jam bagi saya untuk melahap renyah buku pinjaman dari perpustakaan sekolah itu. Bahasanya enak, mengalir, dan apa adanya. Khas anak muda Jakarta. Yah, meskipun diuraikan dengan bahasa lugas oleh sudut pandang orang pertama asli Medan bernama Joni Lennon. Jadi kata aku dan kau agak terasa gimana gitu saat dijawab oleh gue dan lo.

Gagasan yang melekat di benak saya dari buku tersebut adalah dunia sinematografi, arti sebuah karya, dan hubungan mesra di telepon.

Pertama, background  buku yang menceritakan kisah anak magang jadi kru film itu secara tidak langsung mengundang kerinduan saya tentang sinematografi. Yup, rindu saat kuliah jurnalistik televisi dan film, rindu saat proses pembuatan film pendek bersama sahabat perjuangan, rindu proses jatuh bangun skripsi menganalisis film “Freedom Writers”, pokoknya kerinduan pada berbagai shot di masa lalu. Yah, masa lalu. Berbagai shot yang hanya bisa diputar dalam bentuk visual media clip, bukan diputar dalam lorong waktu realita. Nah, hasrat yang menggelegak ini mengundang saya untuk merasakan lika-liku sinematografi dalam konteks kekinian. Saat ini saya akan merekam apa?

Dengan kesibukan sebagai guru di sekolah, saya berkesempatan merekam setiap jejak langkah anak-anak. Canda tawa mereka, keceriaan saat berkelompok, bahkan saat ada yang berkelahi karena saling ejek sesame teman. Saya berusaha merangkum itu semua dengan kamera. Get the moment. Kemudian saya menyunting semua jejak itu untuk diputar di waktu yang tersisa. Yang tersekat antara tahun ajaran baru. Acara perpisahan kelas 6.

Kedua, arti sebuah karya. Saya mengutip sebuah paragraf dalam buku itu, seperti ini isinya :

Dika menyadarkan gue bahwa sebuah karya, ketika dilempar ke ruang publik, akan diterima oleh jiwa yang berbeda-beda, dengan persepsi unik masing-masing. Sehingga, ketika kita mengharapkan satu opini yang mutlak dari orang-orang, ini seperti menginginkan pelangi dalam satu warna. Selain mustahil, karya juga kehilangan keindahannya.

Nah lho, tersadar juga dengan kata-kata di atas. Betapa tidak, saya yang perfeksionis ini terkadang terpaku oleh penilaian orang lain dan mengabaikan suara hati sendiri. Karya saya harus bagus kalau orang bilang ini… bilang itu… Tersadar untuk kesekian kalinya, bahwa sebuah karya memang harus dibiarkan berproses tanpa terpengaruh oleh intimidasi orang lain. Biarlah orang lain berkata XYZ, yang penting saya tetap berkarya. Itu kunci yang saya dapatkan saat menyerap kalimat “Dika menyadarkan gue…”🙂

Ketiga, hubungan mesra di telepon. Nah, yang ini berasa gue banget nih, jadinya hari ini bisa bilang dengan mantap,

“Gue sama sekali nggak melihat faedah, hakikat, atau wangsit apa pun dari bermesra-mesraan di telepon yang bisa membantu mencapai cita-cita gue.”

Mak jleb banget kan?!😀 Dengan adanya kalimat itu menguatkan sandaran kaki. Ups, maksudnya sandaran hati bukanlah calling-calling berjam-jam dengan si bebeph sampai bela-belain nungguin bonus puluhan menit dari operator pada menit ke sekian (wah ketauan pernah ngalamin). Pokoknya, telepon berjam-jam dengan orang yang belum tentu jadi pasangan kita adalah hal yang tidak berfaedah untuk kelangsungan tegaknya cita-cita. Kecuali urusan bisnis atau silaturahmi mungkin ya, tapi sepertinya nggak mungkin sampai berjam-jam deh.😀 Dalam hal ini, saya sangat sepakat dengan Joni Lennon.

Daan.. ada lagi yang ingin saya ulik setelah baca buku ini, bikin skenario drama kecil-kecilan untuk anak-anak tampil bulan depan di Unjuk Kabisa dan mencoba membuat scrapbook dari kardus. Desain layout di bagian tengahnya menurut saya keren dan punya karakter. Dari bukunya, tercantum desain oleh Wyanet Falasifa dan Teguh Pandirian.

Sebenarnya buku ini kan udah terbit sejak Mei 2013, namun saya baru ngeh saat main ke perpustakaan. Entah karena itu buku kebetulan ada di atas tumpukan buku pengembalian, entah karena PlotPoint datang ke SDHT, jadi saya semakin sering mencari buku-buku etrbitan PlotPoint. Semuanya bisa jadi.. bisa jadi.. Bisa jadi awal yang baik lagi untuk memulai hal baru dan bergerak menelusuri proses sesuai passion. Pokoknya fighting again, Jund!

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s