Diposkan pada Dunia Anak, Pendidikan

Sepercik Semangat menuju Mesjid

Kelompok Mengaji Nurul Ihsan
Kelompok Mengaji Nurul Ihsan

Ada rasa malas menjalar ketika jam dinding membentuk sudut 180o. Itu artinya aku harus mengayun langkah menuju mesjid berbekal Al-Qur’an, mukena, dan alat tulis. Menjalani rutinitas baru di tahun 2014 : ngajar ngaji. Ya, tepat sejak 6 Januari lalu aku mulai mencoba merangkul anak-anak untuk mengaji. Sebuah langkah yang semestinya kulakukan sejak awal saat lulus pesantren enam tahun lalu. Namun, baru saja langkah ini kujajaki setelah masuk dunia sekolah. Passion terhadap pendidikan terbuka lebar perlahan dan entah mengapa merasa terpanggil dengan kondisi anak-anak di sekitar rumah. Mereka berlarian setiap sore dalam rutinitas bermain dan sesekali saling mencemooh dengan kata kasar. Miris saja dengan tingkah mereka. Akhirnya kumulai langkah ini dengan menempelkan poster “ngajak ngaji” di dinding mesjid.

Alhamdulillah… satu-dua anak ada hari pertama dan sebulan lebih berlalu kini ada 19 orang anak yang mengaji. Ya, meskipun setiap hari selalu saja ada anak yang absen karena malas atau les tambahan. Bagiku mereka kini memberikan percikan semangat. Walaupun kegaduhan selalu muncul di sela-sela waktu mengajar, namun mereka tetap riang dan begitu tekun setiap mengaji.

Kini, aku tengah memantik semangat ini agar terus menyala. Semangat yang seringkali redup karena alasan kesibukan lain dan energi yang tersisa dari seharian beraktivitas. Padahal, waktuku menemani mereka menyelami alif bata tsa hanya 1 jam lebih. Mengisi jeda antara ba’da maghrib hingga isya tiba. Yah, semangat itu ada kalanya redup. Sangaat redup. Apalagi untuk urusan ngajar ngaji ini, tak ada kompensasi khusus bernama iuran dari para murid. Mengandalkan keikhlasan dan niat untuk ibadah. Jadi, aku tak berharap banyak.

Tetapi, masih saja ada perasaan yang belum total menjalani semua ini. Aku sempat merasa kesepian saat mulai kewalahan menangani belasan anak dalam tempo yang kupikir cukup singkat. Kemana yang lain? Mana pemuda-pemudi yang lain? Aku tahu beberapa tetangga seusiaku berasal dari background pesantren juga dan lulusan kuliah. Tapi mengapa mereka tak tergerak minimal untuk sholat berjam’ah di mesjid. Bahkan untuk ikut mengajar ngaji pun rasanya sulit. Lagi-lagi mayoritas jama’ah mesjid dalam lingkup RT/RW lebih dominan usia sepuh yang adzannya bersuara parau. Kemana para pemuda?

Suara dalam hati mulai berbisik, “Jund, kamu tak kesepian. Ada Allah yang membuat semuanya menjadi ringan. Ingatlah pada janjiNya. Selalu ingat, senyuman anak-anak dan riangnya mereka selalu menjadi penawar rasa lelah. Ini salah satu jalan untukmu berjuang dengan sepercik semangat yang harus terus dijaga agar tetap menyala, meski redup redam.”

Bismillah, belajar melawan malas dan berjuang mengelola kelas. 🙂

Senyuman mereka pemantik semangat  :-)
Senyuman mereka pemantik semangat 🙂

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

4 tanggapan untuk “Sepercik Semangat menuju Mesjid

  1. Subhanallah, Kak Jund….
    Sangat beruntung sekali mengajar anak mengaji, menurut beberapa apa yang pernah aku pahami di pesantren dulu, mengajar itu bahkan lebih baik daripada seribu rakaat. Bahkan, katanya uimam Syafi’i mengatakan, ana ‘abdun man ‘allamani harfan (saya adalah hamba bagi seorang yang mengajarkanku satu huruf). Sungguh, begitu mulia kedudukan seorang guru.

    Teruskan jund, Allah akan selalu bersamamu. Kalau aku sendiri ditanya, dulu memang pernah juga ngajar iqra’ anak 5 tahunan di perumahan. Tapi sayangnya Jund, kesibukan kuliah tak bisa ditolerir. Ya, saya yakin Jund pasti bisa membagi waktu kapan harus berjasa kepada orang, kapan harus berkembang dan kapan harus bisa “mandiri”. Selamat berjasa, berkembang dan mandiri!!

    Salam kenal..

    Suka

  2. Alhamdulillah, ilmu memang harus bermanfaat. Banyak anak-anak kota yang jauh dari bimbingan agama oleh orang tuannya, bukan berarti tidak mau tapi dengan alasan kesibukan merekalah akhirnya pendidikan agama anak-anak mereka terbengkalai. Mudah-mudahan berkah…ya..

    Suka

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s