Essai, Sosial Media

Berita dan Mindset

Pernahkah membaca sebuah berita lalu kita dibuat resah? Saya pernah. Bahkan, sering! Ya, sebagai lulusan jurnalistik seharusnya keresahan itu bisa diminimalisir. Namun, entah mengapa keresahan itu terus menyeruak setiap membaca berita tertentu. Misalnya, minggu lalu saya sempat membaca berita seorang ibu yang membunuh anaknya dengan menenggelamkannya di toren air. Saya baca berita itu sampai alinea terakhir. Hasilnya, saya uring-uringan. Dalam hati saya menyumpah-nyumpahi orang, kok tega-teganya membunuh anak dengan dugaan supaya masuk surga. Kacau!

Nah, kemudian saya membaca lagi halaman berikutnya, di Koran ada foto berita perang Suriah, anak-anak mengantri jatah roti dengan wajah memelas dan berdesakan. Apa yang ada di pikiran saya? Saya iba, lalu ingat anak-anak di Indonesia masih bisa jajan enak dengan kuliner berbagai macam dibekali uang jajan yang banyak dari orangtuanya. Saya amat bersyukur.

Lagi. Pemberitaan di koran tentang manuver politik partai tertentu. Yaps, secara bulan-bulan ini adalah masanya para parpol punya hajatan besar dan “berbulan madu” pasca pileg (ups bagi mereka yang terpilih, ya! Sisanya yang gagal nyalon entah bagaimana… kabarnya sih ada peluang disiapkan rumah sakit jiwa bagi mereka yang terguncang karena kalah telak di arena politik). Saat membaca politik, saya mual. Malas saja mengikuti alur pemberitaan. Padahal, seharusnya saya minimal tahu apa dan bagaimana kondisi perpolitikan di Negara ini. Namun, tetap saja ada alasan, “masih banyak hal yang harus saya perhatikan dibanding membaca berita politik ini itu…”

Dan masih banyaaak lagi berita yang tersiar setiap detik, setiap jam, setiap hari. Di manapun dan kapanpun. Mau di TV, radio, koran/majalah, bahkan dengan sekali jentikan jari di atas gadget, berita dengan mudahnya terbuka dalam jaringan maya. Butuh berita nggak sih kita? Perlu memang. Tetapi yakin bisa membuat kita bisa menjalani hidup dengan tenang? Nggak ngejamin juga, kan?

Intinya mindset. Buat apa sih setiap hari baca koran tetapi malah membuah gelisah? Gelisah memang wajar. Tapi, kalau berkepanjangan? Kan nggak wajar juga…

Berita apapun, mau tidak mau pasti ada kepentingan tertentu. Bahkan ada juga berita yang dihadirkan untuk mencapai opini publik sesuai “pesanan” pemilik modal. Maka, sebagai muslim selayaknya kita kembali pada sebuah pedoman dalam Al-Qur’an bahwa : “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar: 18) Semoga kita senantiasa diberi kepekaan hati dan ketajaman akal pikiran dari berbagai hegemoni berita yang tumpang-tindih dan seringkali membuat mindset kita menjadi bias terhadap segala sesuatu.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s