Tentang Buku : Berdaya atau Perdaya?

Apakah buku yang anda baca benar-benar memberdayakan anda, atau malah memperdayakan anda?

Think again about book

Ketika saya mulai jenuh dengan berbagai tugas semasa kuliah, saya merasa dibodohi oleh buku-buku yang “bertengger” di lemari. Ratusan buku yang berjejer di sana seakan tertawa dengan sinis sambil berkata, “Tuh kan percuma banyak buku juga tapi kamu malah kebingungan!” Yap, swear! Ada getar berbeda setiap melihat buku dimanapun. Kadang saya berpikir pada hasrat fana mengoleksi buku. Saat ke toko buku, ambil buku ini comot buku itu lalu simpan ke kantong belanja untuk dibawa ke kasir. Ada segelintir rasa “saya ini ingin dipandang intelek, saya ini kutu buku…” Seketika saya beristighfar saat muncul perasaan demikian. Sungguh, nyatanya buku dengan berbagai judul tak bisa membawa pengaruh apa-apa, jika tak disertai niat karena Allah untuk menambah petunjuk dalam hidup. Karena memang sebaik-baik petunjuk hanya Al-Quran dan Hadits. Buku-buku lain hanya suplemen tambahan.

IMG_3320Buku sejenius apapun takan memberdayakan kecuali sang pembaca sendiri yang membuatnya berdaya. Bagaimana caranya? Itulah yang saya serap dari buku Pak Hernowo yang berjudul “Menjadi Guru yang mau dan mampu Membuat Buku” (MLC, 2005).
Bagaimana cara Anda membuktikan bahwa buku-buku yang Anda baca benar-benar memberikan sesuatu kepada Anda sehingga Anda menjadi seseorang yang mempu menulis, misalnya?

Saya tak ingin diberi ilmu atau wawasan baru oleh sebuah buku. Saya ingin diubah oleh teks-teks yang ada di buku-buku yang saya baca. Setiap kali saya membaca buku, saya harus menemukan sesuatu yang “mengerakkan” pikiran saya. Apabila saya tidak menemukan sesuatu yang “menggerakkan” pikiran saya, saya kadang mempersepsi keadaan saya sebagai seseorang yang diperdaya oleh buku. Atau, dalam bahasa lain, buku itu tak memberikan apa-apa kepada diri saya.

Ciri-ciri Buku “Bergizi”
1. Penulisnya memiliki keterampilan membaca dan menulis yang oke banget.
2. Ada, sedikitnya, satu komponen buku yang merangsang selera untuk membaca buku tersebut.
3. Ditemukan sederetan teks yang benar-benar memberdayakan pembacanya.

Intinya, buku yang “bergizi” adalah buku yang dapat memberikan semangat kepada para pembacanya untuk bangkit membaca buku lagi dan lagi.

Saya lebih tercengang lagi dengan kalimat ini, “Tak ada gunanya membaca buku apabila di pembaca buku kemudian tidak mendapatkan dorongan untuk menuliskan apa-apa yang mengesankan sebagai hasil kegiatan membaca.”

Yang terasa gue banget adalah, “orang-orang yang suka menulis catatan harian adalah orang yang mampu mengada (eksis) gara-gara cerita. Dia mengisahkan keberadaan dirinya ketika terkait dengan kehidupan sehari-harinya yang luas dan kaya.” Nah, ketika membaca kalimat barusan, saya seakan-akan teringat oleh seorang teman yang berkata kalau saya ini merupakan tipe orang yang eksistensialis religius. Awalnya bingung dengan istilah satu ini, tapi kemudian perlahan mengerti dengan kata “eksis”. Seseorang mengada dengan makna yang dibawanya atau persepsinya tentang segala hal.

Dari buku "Menjadi Guru yang mau dan mampu Membuat Buku" (Hernowo, 2005)
Dari buku “Menjadi Guru yang mau dan mampu Membuat Buku” (Hernowo, 2005)

Saya punya impian dari gagasan Edusigner yang seolah didukung dengan pemikiran Pak Hernowo dalam buku ini, “apabila buku-buku pelajaran atau buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah dapat dikemas dengan gaya bercerita, tentulah “gizi” yang dikandung oleh buku-buku pelajaran tersebut, ada kemungkinan besar, akan bisa tersampaikan lebih mudah kepara para pembacanya.”

Buku untuk sekolah harus didominasi oleh kisah, apalagi buku-buku untuk dikonsumsi para pelajar di sekolah dasar. Imajinasi harus mengalahkan rasionalitas bahkan juga emosi. Anak-anak harus dibawa terbang tinggi dalam memahami teori-teori mata pelajaran yang ingin dipelajari oleh mereka. Mungkin juga penyajian secara grafis-visual (komik) akan lebih mendominasi. Tentu komik yang dimaksudkan di sini bukan komik yang hampa. Komik ini harus berisi, harus bercerita secara total tentang perjuangan manusia dalam memperbaiki dirinya dengan menemukan banyak teori. Buku-buku untuk anak SD harus menerbitkan keteladanan. Keteladanan akan mengubah diri para siswa yang masih berusia sangat muda itu.

Nah, saya ingin belajar meracik buku pelajaran dengan lay-out  scrapbook  dan diary. Agak aneh mungkin ya? Atau memang aneh?😀 Yapz, saya ingin melakukan banyak hal untuk gagasan ini. Misalnya, melakukan riset kecil-kecilan pada segmen buku pelajaran terutama SD. Adakah buku pelajaran yang dikemas dengan gaya bercerita plus desain yang unik? Jawabannya, saya harus berjalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan sembari berkontemplasi di sana alias menyusuri setiap rak buku sambil mencatat jejak riset ini.

PR besarnya adalah menjawab pertanyaan “Bagaimana mengaitkan ini semua dengan kurikulum? Bagaimana merumuskan hal-hal formal dan sudah seperti itu dalam bahasa yang lebih mengalir, lebih memberdayakan?” Di sinilah titik perjuangan berproses…

Teringat kembali untuk terus berpegang pada komitmen menulis setiap hari. Mulailah menulis secara bebas di buku harian. Alirkanlah apa saya yang ingin Anda alirkan.

Oiya, kita bisa mengawali tulisan dengan bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang aku alami kemarin?”

Membaca buku Pak Hernowo lagi-lagi mengukuhkan sebuah pepatah yang pernah saya baca tentang you are what you read! Buku menjadi titik balik kepribadian seseorang. Seseorang dipengaruhi oleh segala hal yang dia baca.