Islam, Sosial Media

Manusia (Tidak) Bisa Lepas dari Musik?

Yuk bijak musik!
Yuk bijak musik!

Banyak orang yang bilang kalau manusia tidak bisa lepas dari musik. Bahkan, Nietzsche di Twilight of The Idols berkata, “Tanpa musik, kehidupan adalah kesalahan”.

Kabar bagusnya, manusia bisa lepas dari musik. Saya contohnya! Yups, entah mengapa saya merasa kembali pada jalur yang benar setelah masuk pada area bising hingar-bingar gitar dan alunan musik melenakan. Saya berhasil menjalani hari tanpa musik dari playlist hp.

Episode pesantren, musik tidak begitu kentara karena di sana hafalan masih dominan melingkupi keseharian. Kalaupun ada musik, maka yang biasa akrab di telinga adalah musik nasyid, seperti lagu Edcoustic, Shaffix, Tashiru. Nah, semasa kuliah dan kerja kantoran, musik anak pesantren ini mulai merambah jalur lain, mulai coba koleksi playlist genjrang-genjreng anak band, pop luar negri dan sebagainya. Jadilah headset sebagai teman akrab di waktu senggang sambil bersenandung playlist dalam hp. Mahasiswa, anak sekolahan identik dengan headset menggantung di telinga. Seolah menunjukkan identitas, “Musik is my life style”. Saya pernah mengalami itu, coba mengikuti gaya teman memakai headset sambil naik motor. Katanya, biar rileks di perjalanan sekaligus hiburan biar tidak ngantuk. Tapi, setelah saya coba, kok rasanya gak enak aja denger musik sambil ngegas motor. Bawaannya nggak fokus dan nggak enak lagi di telinga.

Banyak orang bilang kalau pas hamil didengarkan musik klasik pada janin, akan mendorong pertumbuhan otak dan bla..bla..bla.. Memangnya musik secanggih itu dalam menentukan kecerdasan seseorang? Kalau diperdengarkan murotal Al-Qur’an apa nggak bisa? Atau karena kalah populer?

Musik.. musik.. musik.. semua orang rasanya memang tidak bisa terlepas dari musik. Kemarin, saat menghadiri acara kajian di sebuah kampus islami ternama, suara drum menghentak dan bertalu-talu, menguasai arena dengar sekitar kampus. Ironis juga, di dalam kajian islami, di luar suara band metal menggelegar. Jadilah masing-masing merebut porsi pendengaran orang-orang yang ada di sana.

Dari musik muncul mata rantai yang kompleks! Dari musik, ada musisi, alat musik, acara musik, jingle lagu, iklan pakai musik, pengajian pakai musik, musik training, berita musik, dan permusik-musikan lainnya.

Dulu saat SD kelas 6, saya menyesal ikut lomba karaoke tingkat RW saat agustusan. Karena apa? Karena saya mendapat juara pertama dengan menyanyikan lagu Sherina “Persahabatan”. Bukan karena lagunya yang salah, tetapi saya pikir itu adalah masa-masa saya dibodohi oleh musik. Dengan titel juara, saya bangga memiliki suara yang merdu. Dan ketagihan untuk olah vokal lagi dan lagi. Alhamdulillah, saya tidak pernah menuruti keinginan untuk meneruskan hobi menyanyi bahkan tak pernah tebersit sedikitpun untuk ikut audisi pencarian bakat ajang menyanyi. Membayangkannya saja sudah mual.

Setelah tahu kenyataan betapa banyak propaganda yahudi dilancarkan lewat musik. Okey lah, terserah saja untuk mereka yang begitu apatis pada teori konspirasi. Apa sih nggak penting banget. Tetapi… karena saya pernah belajar freemasonry itu apa dan bagaimana saat di pesantren dulu. Saya tak bisa menyembunyikan kejengahan pada realita yang membuktikan tipu daya itu benar adanya, ya, meski propaganda itu tidak mengatasnamakan subjek pelaku. Propaganda terselubung! Teringat pada sebuah ayat bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan rela pada umat Islam sampai kita mengikuti millah mereka. Apa itu millah? Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat hatta tattabi’a millatahum (sampai engkau mengikuti agama mereka) adalah:

Kinayat (kalimat yang mengandung makna bukan sesuai bunyi teksnya) keputusasaan (tidak adanya kemungkinan) bagi orang Yahudi dan Nashrani untuk memeluk Islam ketika itu, karena mereka tidak rela kepada Rasul kecuali (kalau Rasul) mengikuti agama/tatacara mereka. Maka ini berarti bahwa mereka tidak mungkin akan mengikuti agama beliau; dan karena keikutan Nabi pada ajaran mereka merupakan sesuatu yang mustahil, maka kerelaan mereka terhadap beliau (Nabi) pun demikian. Ini sama dengan (firman-Nya): “hingga masuk ke lubang jarum” (QS Al-A’raf 7:40) dan (firman-Nya), “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS Al-Kafirun 109:2-3).

Saya pikir millah ini bukan soal kita masuk ke dalam sinagog (rumah ibadah Yahudi) atau gereja. Namun, sebuah tata cara hidup yang melunturkan identitas keislaman kita. Betapa banyak anak-anak dan remaja yang mengidolakan artis secara berlebihan. Memasang foto profil dengan foto artis KPOP di facebook/timeline/instagram mereka. Memenuhi obrolan sehari-hari dengan kehidupan artis idola atau lagu terbaru. Mengisi waktu senggang untuk mengikuti gerakan dance artis idola sambil menghapal setiap detail gerakannya, hingga muncul sebuah cita-cita yang sangat didambakan para konspirator dunia, menjadi artis/dancer/penyanyi. Dan boominglah para peserta ajang pencarian bakat yang dipelopori beberapa stasisun TV. Mereka bertepuk tangan dan senang jika remaja Islam mulai menanggalkan jati dirinya dengan menyibukkan diri dalam gelombang musik dan gaya hiduphedon.

Hey, sudahlah kamu jangan munafik, kamu juga suka musik, kan?!

Iya, saya suka musik dan saya sering mendengar playlist Korea di hp. Namun, mulai detik ini saya berkomitmen pada prinsip, ADDICT MUSIC?? NO MORE!

Musik itu ibarat mantra sihir yang mengendap di alam pikiran jika didengar berulang-ulang. Ia menyingkirkan ingatan baik dan memenuhi dengan irama nyanyian tak berguna. Maka, segera saya delete seluruh playlist musik yang saya rasa seperti mantra yang menggiring saya pada fatamorgana dunia. Lupa bahwa masih ada lantunan yang lebih pantas mengakrabi telinga saya sepanjang hayat. Lupa pada riwayat perjalanan seorang kekasihNya dalam setiap laku gerak kehidupan. Saya tak ingin dimantrai lagi oleh musik! Tanpa sadar bernyanyi-nyanyi lagu yang disuka secara berulang tapi mudah lupa hafalan surat Al-Qur’an. Saya tak ingin tersesat lagi. Biarlah musik yang tersisa di playlist hp, musik yang mengingatkan diri bahwa dunia itu fana, musik positif yang selalu mengingatkan diri bahwa akhirat adalah sebaik-baik tempat kembali. Menyisakan this worldly life-nya Maher Zain.

Menulis ini saya merasa lega karena di samping celah kesadaran #bijakmusik mulai terbuka, hardisk saya berkurang banyak dari playlist dan MV (Music Video) :-). Playlist hp berubah total. Dan membimbing adik-adik saya untuk tidak adiktif pada nyanyian. Yah, meskipun mereka masih mengoleksi playlist dan MV artis idola mereka, setidaknya saya meluruskan mereka secara perlahan dimulai dari diri sendiri. Kalau reaktif sih, sebenarnya inginnya langsung mendelete playlist dan merobek poster artis KPOP di kamar adik saya secara diam-diam. Tetapi, saya ingin bijak membimbing mereka dengan proses. Bismillah… Allah terus bukakan mata hati hamba dalam memahami dunia.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s