Mencari Ilmu tanpa Jemu

Melihat buku tebal beratus-ratus halaman bahkan bisa diukur ketebalannya hingga 5 senti kadang membuat saya bergidik ngeri. Betapa tidak, stigma membaca buku jenuh sudah kadung melekat pada buku-buku teori dan sejarah, buku kuliah, dan buku-buku berat lainnya. Namun, saya memutuskan untuk menerobos stigma itu dengan harapan mencerna bahasa yang cukup berat untuk dicerna, “Sejarah Tuhan-nya Karen Amstrong” saya ambil dari deretan buku di lemari. Buku itu milik Roofi yang dibeli saat pameran buku. Entah mengapa adik saya yang satu ini selalu membeli buku-buku bertemakan sejarah yang notabene berwujud tebal. Saya selalu berpikiran, memangnya dia punya waktu untuk menamatkan buku-buku itu…

???????????????????????????????

Saya pun memulai membuka halaman demi halaman Sejarah Tuhan diawali dengan peta-peta wilayah secara kronologis agama. Dengan kening yang tak berhenti berkerut seraya kepala berdenyut, saya terus meneruskan bacaan sampai sebuah alinea menyadarkan saya tentang, memperluas kesadaran. Alinea tersebut berbunyi begini, “ketimbang menanti Tuhan untuk turun dari ketinggian, saya mesti secara sengaja menciptakan rasa tentang dia di dalam diri saya.” Tiba-tiba berpikir, mengapa kadang saya berlaku sekuler meskipun secara verbal saya membenci sekularisme. Ya, terkadang saya lupa melibatkan Allah dalam setiap gerak langkah saya hingga muncul penyakit takut yang salah kaprah, cemas, niat yang tak tulus.

Masih meneruskan bacaan…

Oiya, stereotip yang pernah muncul saat melihat buku Sejarah Tuhan ini adalah nada minor dalam diri berkata bahwa buku tersebut bisa saja membawa saya terombang-ambing pada keyakinan agama yang gamang. Karena berbagai definisi dan konteks Tuhan dimunculkan secara berbeda menurut historis pemikiran manusia. Mulai dari kemunculan nama Tuhan, Tuhan yang satu, cahaya bagi kaum non-Yahudi, trinitas: Tuhan Kristen, keesaan Tuhan Islam, Tuhan para filosof, Tuhan kaum mistik, Tuhan bagi para reformis, pencerahan, kematian Tuhan, adakah masa depan bagi Tuhan?. Ya, dari 673 halaman buku, Karen Amstrong menyajikan bahasan menyeluruh yang cukup solid.

Saya membaca buku tersebut secara random, karena tujuan saya membaca buku ini bukanlah menamatkan buku dengan jumlah yang banyak, tetapi apa yang bisa saya dapat dari buku ini. Ungkapan mana yang bisa menguatkan pemahaman tentang Tuhan dalam diri.

Hingga saya bertemu kalimat tentang sholat, “gerakan-gerakan eksternal ini akan membantu seorang Muslim menanamkan sikap batin dan menetapkan kembali arah hidup mereka.” Saya teringat pada definisi khusyu’ dalam sholat yang bisa menjadi pengendali diri dari perbuatan keji dan munkar (fahsya wal munkar). Tentu saja khusyu’ ini bukan saja selesai dalam lisan, karena mengejar makna khusyu’ adalah perjuangan sepanjang hidup. Dan itulah yang selalu dimulai saban waktu yang lima.

Masih membaca setia paragraf yang cukup berat untuk dicerna, hingga saya sampai pada secarik kertas yang menjadi pembatas halaman buku Sejarah Tuhan. Sebuah tulisan adik saya, “Teruslah mencari ilmu, jangan pernah merasa cukup, meskipun hari ini kau belum mengerti dan sulit mencernanya, suatu hari kau pun akan mengerti.”

???????????????????????????????Hening…

Sungguh berat perjuangan Rasulullah saat mengemban amanah wahyu pertama untuk menerima titah membaca dari malaikat Jibril. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan – menciptakan manusia dari segumpal darah! Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam – Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-A’laq : 1-5)

Bacalah…

Umat muslim di era modern ini memiliki kemampuan yang lebih mumpuni untuk membaca berbagai ilmu pengetahuan dari sumber apapun. Buku, media massa, e-book, bahkan Al-Qur’an dan Hadits sekalipun yang telah memasuki wujud digital sehingga dengan sekali klik terbuka dengan lengkap dalam gadget tanpa harus membuka kitab-kitab tebal. Namun, seringkali kesadaran kita terlalu sempit untuk menghadapi keluasan informasi di hadapan mata. Terkekang oleh kemalasan teknologi yang membuat manusia melupakan firman Allah yang paling utama dan pertama. Bacalah! Sungguh, ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah hanya seujung jari yang dicelupkan di samudera lautan yang luas.

Jadi, sebenarnya tak pernah ada batas untuk berhenti belajar. Mencari ilmu bukan lagi proses seremonial dalam lingkup akademik. Sepanjang hayat, manusia berkewajiban belajar sebagai tonggak perjuangan dalam melakoni peran sebagai khalifahNya. Bacalah perlahan dan mulailah perluas kesadaran…

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s