Ngaji (jangan) Mundur

Sepercik semangat itu sempat padam!

Ya, padam oleh ketakmengertian para orangtua yang tak mau susah-payah mendorong anaknya mengaji. Tanpa biaya pun, orangtua rasanya berat. Apalagi setelah saya melayangkan surat pemberitahuan. Ya, surat itu intinya saya meminta keikhlasan orangtua untuk berinfaq Rp 25.000,- per bulan. Infaq itu semata-mata untuk biaya operasional (kertas, bahan ajar, hadiah game) plus biaya kebersihan di masjid. Seketika sehari dua hari setelah surat diterima orangtua. Satu per satu anak yang mengaji mundur tanpa alasan. Mereka absen dan bilang saat berpapasan dengan saya, “Bu, saya mah keluar ngajinya, kata mamah mau pindah ke masjid A…” Yang lainnya tanpa kabar, tak datang-datang lagi ke masjid.

Saya menghela nafas panjang.

Dari anak 19 orang kini menyusut menjadi 5 orang.

Saya beristighfar dalam hati. Salahkah saya memberikan surat tersebut? Atau memang sebagian orangtua tidak siap membayar sepeser pun untuk anak-anaknya mengaji. Mungkin orangtua berpikiran seperti ini, “Buat apa bayar dengan nominal sekian hanya untuk mengaji, toh sekolah negeri pun banyak yang gratis…” Baiklah benar demikian adanya. Tapi, setelah dipikir ketika porsi untuk jajan anak, mereka mampu memberi jajan Rp 10.000 per hari, mengapa untuk mengaji bayar Rp 1.000,- pun sulit? Bagi mereka, urusan mengaji adalah nomor kesekian. Tidak penting.

Merenung. Dalam.

Kini hanya 5 orang tersisa. Dengan mengumpulkan semangat yang berserakan. Saya mencoba untuk bertahan dengan kuantitas sedikit. Tidak terlalu menuntut orangtua untuk membayar. Karena dari awalpun, saya tidak mewajibkan infaq tersebut. Hanya memberitahukan orangtua jika berkenan.

“Biarin 5 orang juga teh. Yang penting sungguh-sungguh. Buat apa banyak anak tapi malah tidak fokus.” ujar Ibu saya menyemangati.

Kembali ke rumus “kualitas”. Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala… untuk menguji kalian semua siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. Mencamkan dalam hati yang paling baik amalnya, bukan paling banyak amalnya.

Maka, saya akan terus survive apapun yang terjadi untuk mengaji di masjid ini. 5, 4, 3, 2, bahkan satu orang pun, saya tidak boleh mundur begitu saja. Saya tidak boleh kalah karena kuantitas yang minim. Karena seorang mukmin diuji karena perjuangannya meraih kualitas amal, bukan kuantitas.

Melihat anak-anak semangat mengeja huruf Alif Ba Ta Tsa, membuat semangat saya menyala. Langkah-langkah kecil mereka yang bergerak dalam gulitanya petang menuju masjid semoga menjadi titik awal tumbuhnya generasi Qur’ani. Alhamdulillah di antara puluhan anak yang berdomisili di RT/RW tempat tinggal saya, masih ada 4-5 anak yang giat mengaji dan tak terusik oleh tayangan kartun di TV di sela-sela adzan magrib. Alhamdulillah masih ada orangtua yang peduli dengan akhlak anak mereka dengan pembiasaan mengaji sejak dini.

Dari merekalah, semangat ini terus bertahan walau redup. Ya, sangat redup…

Mereka yang bertahan mengaji. Sumber semangat :-)
Mereka yang bertahan mengaji. Sumber semangat🙂

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s