Sebuah Panggilan Hati

Bismillah…

Siang ini saya membuka jejaring sosial dan tak sengaja di sana terpajang profil adik kelas saya di pesantren yang tidak saya kenal. Namun, jemari ini terhenti cukup lama di sana. Saya menyimak paparan kronologinya yang berisi ulasan profil dirinya di surat kabar. Terlepas dari berbagai informasi yang saya simak siang ini, saya cukup tersentil dengan pergerakannya. Ia muda, berani beraksi, meski dirinya pun mengaku biasa-biasa saja dalam aspek akademik. Jujur saya iri dengan keberaniannya.

Dan detik ini pula Allah menjawab rasa iri saya melalui sms yang datang dari sahabat seperjuangan semasa kuliah. Sms yang padat dan menggugah saya untuk kembali merasakan aroma perjuangan itu setelah beberapa tahun vakum karena sibuk di dunia kerja. Sobat… tahukah engkau bahwa kerinduan ini sungguh membuncah saat kita bersama melakoni jalan juang yang penuh dinamika. Namun, pemikiran ini tak cukup terbalas oleh rasa rindu.

Masih ada rasa ragu meski setitik. Bahwa dunia yang telah kita jalani berbeda. Hidup setelah fase baru bernama pernikahan menjadi sesuatu yang bisa menghambat pergerakan di sana. Allahu Rabbi inikah kesempatan yang datang untuk membuktikan totalitas dan proporsionalitas diri?

Saya mencoba mengumpulkan nyali untuk menjawab sms itu. Sobat saya di sana masih menunggu keputusan saya untuk bergabung kembali ataukah mundur. Dalam smsnya, ia meneguhkan saya untuk kembali menyalurkan potensi saya yang dipercaya sebagai salah satu kader terbaik.

Ya Rabb, hamba masih jauh dari kesempurnaan. Namun, sebegitu besarkah kepercayaan-Mu untuk kembali menempa hidup hamba dengan perjuangan dalam berbagi. Ya, berbagi. Saat saya memutuskan untuk kembali memegang amanah itu, maka saya harus berjuang membagi energi dan waktu. Meyakinkan keluarga bahwa peran sebagai istri takan pernah terganggu dengan aktivitas pergerakan ini. Bahwa hari demi hari yang saya jalani di sekolah sebagai pendidik menjadi skala prioritas menjalani karier. Bahwa seorang hamba diyakini memiliki kemampuan untuk membagi waktu dan energinya bergulir mengalir dengan kebaikan. Maka inilah jawabannya…

Allah, teguhkan niatku. Luruskanlah tujuanku. Kuatkan energiku. Karena perjuangan itu melekat dalam urat nadiku. Mengasah potensiku demi mencapai keridhoan-Mu…

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s