Momentum, Pernikahan

Dua Garis Merah

Allah… Engkau telah hembuskan amanah-Mu lewat rahimku

Dengan dua garis merah yang Engkau takdirkan

Menyeruak keheningan Rabu pagi (16/7)

Akan ada sejarah baru

Cara memaknai hidup lewat peran

Seorang ibu

Dua garis merah pada alat tes kehamilan
Dua garis merah pada alat tes kehamilan

Melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan itu rasanya… campur aduk. Antara senang, deg-degan, cemas, dan bahagia menjadi sebuah sensasi tersendiri menghadapi babak baru. Sembilan bulan tanpa halangan alias siklus menstruasi. Sembilan bulan dengan pertumbuhan janin dalam rahim. Sembilan bulan, ya sembilan bulan yang melankolis. 🙂 Belum melihat, bahkan hanya dengan membayangkan bagaimana parasnya, perempuan atau laki-laki, saya sudah mencintainya. Mencintai sosok baru dalam tubuh ini. Alhamdulillah, Ya Rabb, Engkau patahkan keraguan ini. Kuatkan dan kokohkan rahimku.

Semenjak positif itulah, pikiran saya terbuka lebar pada berbagai jenis informasi mengenai kehamilan dan sosok ibu menyusui. Melihat ibu yang menggendong bayi atau balita membuat saya terkagum-kagum karena mereka terlihat begitu tangguh menyusuri jalan atau sekadar berboncengan di keramaian kota. Padahal, sebelum menikah saya sedikit kesal dengan balita atau bayi yang menangis di kendaraan umum. Atau berpikiran betapa repotnya membawa anak kecil ke keramaian. Sekarang semua asumsi sebelum menikah tentang ibu bawa anak, terpatahkan seketika dan berganti pemakluman dan kekaguman. Memang selayaknya seorang ibu seperti itu. Rela membawa buah hati dan mengesampingkan ego sendiri.

Menjadi ibu hamil sedikit tersugesti dengan adanya proses ngidam, mual, dan mitos-mitos lainnya. Ngidam itu bagi saya sedikit ambigu karena belum paham bagaimana sih rasanya ngidam. Yang saya ingat, saya pernah ingin sekali buah alpukat saat bulan Ramadhan. Dan nyatanya ketika sudah dapat, malah enek rasanya dan alpukat campur susu pun dihabiskan oleh suami. Berbagai jenis ngidam lainnya seringkali tidak saya turuti seketika. Berpikir ulang jika ingin ramen super pedas siang hari. Kalau dipikir lagi banyak efek samping negatifnya kan kalau lambungnya enggak kuat. Lebih banyak menahan diri jika ada keinginan yang aneh-aneh, dan menjadikan Allah sebagai ukuran.

Fase sembilan bulan ini masih panjang di hadapan. Menjalaninya dengan sabar dan tetap tenang saat berbagai kejutan di perjalanan menuju persalinan. Kadang mood cepat berubah naik-turun ditambah gampang tersinggung saat ucapan atau sikap orang lain berbekas di hati. Alhamdulillah suami selalu mengingatkan saat wajah saya mulai kusut karena sesuatu atau saat mata mulai berkaca-kaca. “Kasihan c dede, jangan terlalu banyak pikiran…” Ya, saya memang tipe pemikir sejak dulu. Terbiasa menjadi momentum killer, kadang suatu hal ganjil menjadi belenggu pikiran yang dibiarkan berlarut-larut, dan menurut suami saya, kebiasaan itu sungguh tidak sehat. Cobalah rileks sejenak dan tetap simpulkan senyuman.

Maka, perbedaan mencolok antara saya dan suami dengan kategori koleris dan plegmatis, begitu saya syukuri karena perbedaan itulah melengkapi keterbatasan yang ada. Suami saya memberikan jeda pada hidup saya yang rapat dan sesak dengan pemikiran ideal. Segala hal harus terlihat sempurna, ya perfeksionis ini mulai memudar. Karena segala keterbatasan sebuah proses menuju sempurna dengan kekurangan yang ada.

Babak baru sebagai calon ibu ini membuka hati saya tentang wanita seutuhnya dan membayangkan begitu lekat pada perjuangan ibu saya melahirkan dan membesarkan anak-anak. Perjuangan itu dimulai dari dua garis merah. Perjuangan menjaga nutrisi diri, memahami dunia dengan hati, dan mendidik buah hati sejak di kandungan. Betapa Allah menyayangi saya untuk mengemban amanah ini yang menjadi perantara mencintaiNya melalui peran ibu dan muslimah sejati.

Iklan

8 thoughts on “Dua Garis Merah”

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s