Sekolah yang Sibuk

Sekolah menjadi tempat yang sibuk.

Itulah frasa yang saya dapatkan dari buku “Anak-Anak Cemerlang”. Sebuah frasa yang mau tak mau membuat saya berpikir ulang atas jadwal superpadat di kelas. Sudahkah padatnya waktu KBM itu membuat anak-anak menjadi cemerlang?

Saya selalu menemukan kondisi yang berulang, bahwa ketika saya melangkahkan kaki ke setiap kelas. Di sana ada hiruk-pikuk anak-anak yang tak tertampung. Berbicara segala hal di luar materi pembelajaran dan sayangnya semua pembicaraan di luar pembahasan harus di-cut karena waktu KBM telah dimulai. Semua harus terfokus ke pembelajaran Bahasa Indonesia.

Sebenarnya saya tidak ingin terus mengarahkan anak-anak harus begini, harus begitu. Saya ingin menemukan sebuah kondisi di mana saya bisa menemukan berbagai gagasan anak-anak mengalir ketika saya memberikan hanya sebuah kata kunci. Biarkan anak-anak yang melarutkan gagasan, mendiskusikan samudera bahasa yang luas. Tanpa ekspresi mengantuk, tanpa sulitnya mengukir kata-kata, tanpa ceracau tak jelas.

Yah, sebuah kondisi ideal di atas realita bersebrangan.

"Anak-Anak Cemerlang" C.J. Simister (2009)
“Anak-Anak Cemerlang” C.J. Simister (2009)

Bahwa anak-anak langsung berat kepala setelah disodori jejalan teori bahasa. Anak-anak lebih banyak diam terpaku saat disodori tes uraian membuat kalimat. Anak-anak yang belum menemukan momentum “Aha”.

Bisakah Bahasa Indonesia ini menjadi titik balik yang mengingatkan mereka tentang kayanya imajinasi yang mereka miliki?

Saya ingin anak-anak memiliki momentum untuk menghadirkan naluri bertahan di masa-masa yang sulit, memiliki keyakinan untuk mengungkapkan ide-ide baru, memiliki kesabaran untuk berefleksi saat berhadapan dilemma yang tak terduga, memiliki kemampuan menemukan solusi atas masalah-masalah yang pelik, dan keberanian untuk bertaruh pada saat yang tepat dan kekuatan untuk bangkit kembali serta mencoba lagi ketika menghadapi kegagalan.

Seperti mudah bukan rangkaian keinginan itu?

Mudah menuliskan, tapi betapa peliknya dalam memperjuangkan kata-kata.

Saya bertarung dengan padatnya jadwal, berpikir keras bagaimana menyelipkan secercah ide baru agar pembelajaran yang berlangsung memiliki energi menyegarkan dan membuat anak-anak antusias. Sebuah PR besar menunggu saat ini untuk ditetaskan segera.

Saya tak ingin kesibukan di sekolah ini berlalu sebagai rutinitas tanpa menyisakan sedikitpun jejak hidup yang terekam. Sekadar mengajar, sekadar menilai, sekadar memberikan tugas, namun anak-anak tak mendapatkan apa-apa selain ambisi memenuhi criteria ketuntasan minimal. Mengejar nilai tertinggi tapi lupa cara menyemai imajinasi dan mengasah potensi.

 

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s