Kurtilas : Menyelami Lautan Teks

Kurtilas atau kurikulum 2013. Sebuah kurikulum yang saya kenal sejak pertengahan tahun ini saat diklat Juli lalu di SMPN 12 Bandung.

Kini perkenalan itu berlanjut menjadi sebuah pendekatan implementasi keseharian saat mengajar. Saya menjadi banyak belajar pada lautan teks yang terhidang pada pembelajaran kelas VII dan VIII.

Pembelajaran kurikulum 2013 menitikberatkan pada pendekatan saintifik. Pendekatan tersebut menekankan pada proses 5M : Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi, Mengasosiasi, dan Mengomunikasikan. Kompetensi Inti (KI) dalam kurikulum 2013 berpusat pada ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Sebenarnya kurikulum 2013 ini sangat ideal untuk menyentuh semua aspek kompetensi peserta didik, namun saya rasa yang tidak ideal adalah persiapan logistik seperti buku sumber pembelajaran dari dinas belum juga kunjung bermuara di sekolah. Alhasil, saya mengulik pemahaman dari buku dinas versi PDF yang dibagikan saat diklat.

Pada dasarnya teks pembelajaran terbagi pada 5 garis besar teks pada masing-masing tingkat.

Seperti teks pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII yang meliputi teks cerita moral/fabel, diskusi, ulasan, biografi, dan prosedur. Betapa kayanya tinta gagasan Bahasa Indonesia saat ini, karena saat saya SMP dulu materinya tak se-integratif sekarang. Mengapa integratif? Ya, karena dulu Bahasa Indonesia hanya berkutat pada kemampuan menulis, membaca, dan bicara. Namun, kini pada kurikulum 2013, pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan saintifik, peserta didik lebih mengeksplorasi banyak hal di luar ranah bahasa. Bukan tidak mungkin mereka belajar pada pengamatan alam dan lingkungan sekitar yang selama ini menjadi ranah pelajaran sains. Salah satunya dalam teks prosedur yang memiliki subtema memulai hidup sehat dan belajar hidup tertib.

Mengamati binatang dengan berbagai ciri fisiknya, kemudian berimajinasi memberikan nama dan karakter untuk ditindaklanjuti dalam sebuah pembuatan teks cerita fabel.

Perilaku santun, kritis, jujur, dan bersikap demokratis, bukan lagi menjadi landasan pembelajaran PPKN, karena Bahasa Indonesia memiliki momentum itu dalam pembelajaran santun berdiskusi pada teks diskusi.

Kemudian, saya teringat pada karya anak bangsa yang begitu banyak meliputi film, buku, dan ragam budayanya. Hal itulah yang akan dijelajahi pada teks ulasan. Bagaimana peserta didik dapat memberikan apresiasi karya lewat teks tersebut.

Mengenal tokoh-tokoh bangsa atau sosok yang inspiratif, bukan hanya bagian dari IPS, karena Bahasa Indonesia menyajikan ruang itu dalam teks biografi. Bagaimana peserta didik dapat mengenal tokoh dan kiprahnya, sekaligus belajar dari pengalaman hidup orang lain.

Saya merasa beruntung diberikan kesempatan mengemban amanah baru ini. Sebagai guru Bahasa Indonesia yang berlatarbelakang ilmu komunikasi, cukup sulit bagi saya mengecap semua hal akademis terkait instrumen pembelajaran. Namun, saya tak gentar. Saya yakin, belajar bukan saja menjadi tugas peserta didik, namun tugas abadi semua manusia yang sejatinya adalah pendidik bagi sesamanya, sekaligus proses pengabdian pada-Nya, Sang Pemilik Ilmu yang Agung, Allah SWT.

Menyelami lautan teks, bergulat dengan konteks. Menyelaraskan, memadukan, meski sebelumnya harus terbentur realita agar membentuk sebuah pemahaman baru yang membekas dalam kehidupan.

stiker print

MIND MAP teks Kelas VII

MIND MAP teks Kelas VII

MIND MAP teks Kelas VIII

MIND MAP teks Kelas VIII

 

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s