Untukmu, Nak…

Detik ini engkau beranjak kurang lebih 26 minggu, itu artinya engkau telah 6 bulan lebih mendiami rahim ini.

Nak, entah engkau seorang bayi yang cantik atau tampan, aku telah jauh mencintaimu dengan segala kelemahanku. Aku mencintaimu, meski selalu saja ada keluhan saat tubuhku lelah menopang rahim yang kian membesar. Punggung yang pegal, lidah yang sulit mengecap makanan bergizi, morning sickness yang mengacaukan rutinitas sepanjang hari. Aku mencintaimu, Nak.

Meskipun awalnya aku tak yakin dengan apa yang tengah kujalani. Siapkah aku menyambutmu dengan berbagai ketidaksiapanku sebagai ibu.

Berkali-kali air mata berderai karena segala kecemasan mendera jelang hari lahirmu tiba. Tapi, kuakui itu wajar kan, Nak. Yang terpenting aku bisa menyisihkan keyakinan kuat bahwa aku mampu, aku bisa melewati semua ini, aku harus kuat demi melahirkanmu.

Maret 2015, Nak, itulah momen perkiraan kelahiranmu. Entah di dokter atau di bidan. Entah di RS bersalin atau di klinik biasa. Aku akan mengumpulkan segenap kekuatan dan keyakinan untuk perjuangan di hari itu, Nak.

Mulai menikmati setiap jengkal proses menuju hari itu dengan tetap menjaga kondisiku.

Nak, maafkan Bunda yang seringkali terpaku pada ucapan banyak orang tentang pendapat minor kehamilan dan persalinan. Seharusnya Bunda yakin dengan berbagai proses ini, sesulit apapun… Nak, kamu yang pertama. Kamu yang hebat. Kamu yang aktif. Kamu yang juara. Kamu yang menjadi titik balik perubahan Bunda. Kamu menjadi anugerah terindahNya dalam hidup ini. Kamu adalah titipan Sang Pemberi Hidup. Menantimu. Sangat menantimu, Nak. Sehat terus sayang, jadilah pemancar kebahagian hakiki untuk Bunda dan Ayah, juga orang-orang di sekelilingmu…