Dunia Anak, Dunia Emak, Kehamilan, Persalinan

Perjuangan 18 Jam

Jam dinding di kamar baru saja singgah di angka 11, rasa mulas begitu hebat mendera. Mulas yang tidak seperti biasanya. Datang secara teratur 3 menit sekali. Bahkan, bercak merah disertai lendir mulai menetes. Mungkinkah ini waktunya? Padahal menurut HPL (Hari Perkiraan Lahir), waktu melahirkan jatuh pada tanggal 19 Maret 2015. Seketika saya gundah gelisah tak bisa memejamkan mata karena mulas yang terasa begitu hebatnya. Tadinya saya dan suami memutuskan untuk langsung ke bidan tengah malam, namun kami akhirnya berangkat selesai sholat shubuh sambil membawa perlengkapan bersalin.

Jam-jam panjang jelang kelahiran si kecil pun dimulai. Saat tiba di klinik bersalin, ternyata baru pembukaan dua. Bidan pun memberikan pilihan untuk menunggu di klinik atau kembali ke rumah sampai pembukaannya meningkat. Pembukaannya bisa berlangsung cepat kalau banyak bergerak dan mulasnya semakin teratur. Kami memilih pulang dan berjalan-jalan sejenak merangsang kontraksi selanjutnya, sementara perlengkapan bersalin sudah dititipkan ke klinik.

Alun-alun Bandung menjadi pilihan kami menanti jam-jam kontraksi. Menyusuri rerumputan, berkeliling, lalu duduk sejenak jika rasa mulas kembali datang. Menekuri setiap aktivitas dan hiruk-pikuk manusia pada minggu pagi yang mendung. Saya harap-harap cemas karena mulas yang terasa semakin panjang hingga bermenit-menit. Tetapi saya terus melangkah berpegangan dengan suami. Mencoba mengalihkan rasa sakit dengan berbicara banyak hal tentang yang kami lihat sepanjang berjalan. Tak terasa berjam-jam di jalan, pukul 10.00 kami kembali ke klinik untuk memeriksa pembukaan rahim. Ternyata, baru pembukaan 4. Saya kembali cemas, karena tak terbayang ada 6 pembukaan lagi yang harus saya lalui. Sambil menunggu pembukaan lengkap, saya dan suami menunggu di ruangan periksa. Saya mencoba berjalan-jalan kecil sekeliling ruangan dan ketika mulasnya datang lagi, saya duduk dan berbaring menahan mulas yang datang sampai 10 menit lamanya. Kemudian, ketuban pecah saat pukul 11.30 saat saya buang air kecil. Rasanya seperti ada balon yang meletus dari bagian bawah dan air bening mengalir deras. Rasa cemas semakin bertambah karena jam kelahiran segera tiba. Tapi, arti kata segera itu ternyata merupakan jam perjuangan yang sangat panjang. Jam-jam antara hidup dan mati.

Suami saya setia mendampingi dan menjadi tempat pelampiasan saat mulas kembali datang. Merangkul erat, memegang tangan dengan keras, sesekali saya berbisik lirih di rangkulan suami. Melafadkan kalimat tasbih, takbir, dan istighfar di antara tarik nafas yang lelah.

Saya masih teringat ucapan bidan, kalau pembukaannya lancar dan tenaganya kuat, siang hari bayi bisa sudah lahir ke dunia. Namun, nyatanya saya penantian itu terus berlangsung berjam-jam. Mulas yang datang begitu hebat tapi segera hilang saat saya mengejan terlalu keras. Kata bidan, posisi mengejan saya salah karena dari tenggorokan bukan dari perut. Keringat terus bercucuran dari sekujur tubuh. Bagian bawah pun terus mengeluarkan cairan rahim. Pukul 14.00 saya masih berjibaku dengan rasa mulas dengan sisa tenaga yang ada. Mulas yang datang sesekali dibalas dengan tarik nafas yang seakan tak berujung. Saat itu saya dikelilingi 3 bidan yang membantu persalinan. Mereka silih berganti membantu mengipasi dan mengusap keringat, memijat punggung, dan terus memeriksa kemajuan jalan lahir.

“Teh, jangan banyak mengejan ya, kalau mulasnya udah benar-benar kuat, baru mengejan, nanti makin lemes. Kasian dedenya, udah mau keluar tapi masuk lagi.” ujar bidan yang mendampingi saya ketika itu.

Target saya ketika itu siang sudah bisa mendekap si kecil, namun dugaan saya meleset. Sempat putus asa karena si kecil masih belum juga terdorong ke mulut rahim hingga sore hari. Ketika dahinya sudah mulai terlihat, posisi bayi mundur lagi ke dalam. Bidan berkali-kali memeriksa detak jantung dengan alat pendeteksi suara. Menghitung detak jantung bayi per menit. Setiap mulas datang, setiap saya mengejan, bayi tidak juga kunjung maju ke mulut rahim, terhenti di tengah meskipun rambutnya sudah terlihat.

Ibu saya datang di tengah persalinan sambil menguatkan saya yang kehabisan tenaga. “Pasrahkan teh, jangan berhenti bertasbih, harus kuat…” Saya merangkul ibu yang sudah bercucuran air mata sambil meminta maaf bila ada kesalahan yang menyakiti hati. Segala hal yang ada di pikiran saya saat itu hanya tentang soal sisa waktu yang ada. Masihkah Allah memberi saya kesempatan untuk bertahan dalam jam panjang persalinan? Masihkah bayi yang dititipkan dalam rahim saya dapat bertahan dan berjuang untuk lahir dengan kondisi hidup? Allah, hamba pasrahkan pada-Mu.

Bidan memberi saya batas waktu dalam sisa tenaga pada pukul 16.00. “Kalau begini terus teh, terpaksa harus ada tindakan ya, ini demi keselamatan bayi dan ibunya, harus divakum sama dokter.”

Vakum? Pikiran saya semakin berkecamuk tak menentu. Tak terbayang segala resiko yang dihadapi jika bayi saya harus lahir dengan cara divakum. Khawatir ini itu. Tetapi, demi keselamatan persalinan, akhirnya suami pun setuju dengan tindakan vakum. Sambil menunggu dokter tiba di klinik, saya diberi cairan infus. Infus yang belakangan saya tahu kalau itu sebuah tindakan induksi, merangsang mulas semakin kuat agar mengejan dengan total. Mulas yang terasa semakin hebat dan panjang, membuat saya ingin mengejan dengan kuat, namun bidan terus mengingatkan untuk ambil tarik nafas berkali-kali, jangan mengejan. Saya semakin tersiksa dengan rasa mulas sambil terbata bertanya dokternya sudah datang atau belum. Berbagai posisi sudah dicoba. Setiap mulas hilang, saya berbaring menyamping sambil memegang erat tangan suami. Setiap mulasnya tiba, saya kembali pada posisi mengangkangkan lutut dengan maksimal. Fokus pada perut dan mengejan sekuat tenaga. Tetapi hasilnya tetap nihil. Mengejan menjadi sia-sia karena tidak ada kemajuan pada posisi bayi.

Akhirnya pukul 16.30 dokter datang dengan sigap menyiapkan peralatan vakum. Saya setengah sadar mendengar kalau vakum adalah pilihan terakhir. Suara alat vakum terdengar bising dan menderu. Yang saya ingat, dokter sudah memegang alat vakum di tangan dan bersiap memberikan intruksi kalau mulas hebat datang lagi. Dokter memberikan semangat dan intruksi tegas, mengejan saja sampai maksimal seperti orang mau berak keras. Jangan ragu-ragu, keluarkan semua tenaganya. Saya hampir putus asa dan terus mengumpulkan tenaga yang ada. Mengejan… mengejan… ambil nafas… bidan mendorong perut saya dengan kuat. Dan bismillah allahuakbar, sesuatu melalui bagian bawah dengan kuat dan licin. Ya, bayi saya telah lahir di antara tenaga yang tersisa dengan tangisan khas bayi baru lahir. Kepalanya ditumbuhi rambut yang cukup lebat bercampur darah. Dokter langsung memberikan bayi ke dalam dekapan. Rasa bahagia, perih, linu sekujur tubuh, lelah menjadi satu. Allah… makhluk mungil itu telah hadir dengan nyata. Bukan sekadar tampak hitam putih seperti dalam layar ultrasonografi (USG). Terhitung sejak mulas pertama datang pada pukul 23.00 (14 Maret) hingga pukul 17.28 (15 Maret), saya resmi menjadi seorang ibu dari bayi perempuan yang mungil.

Dan kenyataan persalinannya adalah saya tidak divakum. Alat vakum yang akan digunakan mendadak tidak berfungsi, dan saya berhasil mengejan maksimal sebelum alat vakum digunakan. Mungkin ini yang dinamakan kekuasaan Allah lewat tangan dingin dokter spesialis kandungan. Ya, betapa tidak. Saat proses persalinan oleh bidan berjam-jam tidak kunjung selesai, ternyata begitu dokter datang, satu jam kemudian persalinan akhirnya berhasil. “Ah, ini mah de bayinya pengen lahir dibantuin dokter yang biasa USG.” Saya tersenyum, apapun itu proses melelahkan ini saya syukuri karena bayi saya lahir dengan selamat. Meskipun harus berujung dengan luka jahitan yang cukup membekas dan meninggalkan perih tiada terkira. Perjuangan sebagai ibu baru saja dimulai. Bersamamu, Nak. Kita merenda waktu dengan rajutan kasih sayang ibu dan anak.

Ayah tidur kelelahan menemani kelahiran si kecil.
Ayah tidur kelelahan menemani kelahiran si kecil.

Iklan