Fragmen Hidup 150315

15 Maret 2015 Pkl. 17.28 WIB

Sejak itulah hidup berubah.

Sejak tangisan pertamanya terdengar di ruang perjuangan antara hidup dan mati.

Mulas mendera timbul tenggelam.

Jalan lahir yang tersendat-sendat oleh keraguan.

Tenaga sisa dalam jam-jam panjang persalinan.

Jarum jam yang melambat saat rasa sakit tak kunjung reda.

Seakan kehabisan cara untuk mengubah posisi.

Berbaring, menyamping, bersandar, berjongkok, mengangkang, mengangkat kepala.

Allah.

Hanya itu yang teringat untuk mengumpulkan sisa tenaga.

Harapan tertumpu pada kalimat istighfar.

Mengingat diri yang kadang lalai dan bergelimang dosa.

Allah… inikah batas waktuku?

Allah… Engkau takdirkan memberiku kesempatan pada nafas yang tersisa.

Sanggupkah aku menjalani sisa hidup selanjutnya?

Menguatkan diri untuk bertahan dalam pemulihan.

Berdamai dengan rasa sakit.

Bergulat dengan waktu yang tak ada beda bagiku antara siang dan malam.

Berjibaku dengan peluh dan putus asa kala rasa tak mampu muncul tiba-tiba.

Mengalahkan rasa kantuk.

Melawan rasa takut.

Menikmati segala ketidaknyamanan.

Sejak 15 Maret berada di ufuk barat, dalam mendung yang bergelayut. Semua yang tak pernah terpikirkan tumbuh perlahan. Harapan baru dan rancangan setiap jejak untuk masa depan.

Tabungan pendidikan. Rumah sederhana. Keluarga kecil yang harmonis. Potensi menumbuhkan rizki yang barokah. Kemampuan bertahan dalam semua proses kehidupan. Mengasuh, mendidik, mendampingi setiap jengkal tumbuh kembang buah hati.

Bermula dari perjuangan 18 jam menanti, langkah ini dimulai.

instagram.