Kreativitas Hampa


Babak baru ini sungguh membuat resah. Tercapai atau tidak? Terkejar atau tidak? Terealisasi atau tidak? Semuanya seolah berputar dan berlarian dalam otak. Silih berganti saling mendahului, ingin disentuh dan diselesaikan. Hey, kamu telah berada dalam babak yang berbeda.

Ya, babak ini membuat saya mengambil nafas panjang. Kadang menyalahkan diri sendiri jika ada satu dua hal yang tertunda atau terlewati. Babak ajaran baru setelah cuti melahirkan. Saya tak seleluasa dulu, tak sebebas dulu. Ada bayi mungil yang selalu menanti saya setiap pulang mengajar. Si kecil yang selalu tak ingin lepas saat saya libur mengajar. Si kecil dengan sederet kebutuhannya yang mau tak mau harus saya penuhi. Mulai dari ASI, siklus cuci popok, dan menemani sampai ia tertidur. Ya Allah… betapa berharganya waktu luang bagi seorang ibu.

Sabtu Minggu bagi saya adalah waktu ideal untuk bereksperimen berbagai hal terkait persiapan pembelajaran. Apalagi untuk mengajarkan keterampilan, perlu sampel dan tutorial yang harus saya mengerti sebelumnya. Dunia kerajinan, craft, atau bahasa media sosialnya DIY (Do It Yourself). Ini dunia baru bagi saya setelah lautan bahasa Indonesia yang sempat saya selami satu tahun lalu.

Saya selalu menekuri diri. Kreativitas itu maha luas. Dan Allah, Sang Kreator Hakiki, pemilik surat cinta yang tak tertandingi oleh teks literasi mana pun. Sudahkah surat cinta itu menjadi landasan saya dalam berkreativitas dan menularkan ilmu? *renungan panjang.

Saya merasa waktu dan karya yang saya buat apa pun itu rasanya kering dahaga dari shibghohNya. Allah… hamba telah lalai dalam menjadikan surat cintaMu sebagai pijakan. Terlewat dalam mengeja dan mencerna bait demi bait harakat kitab muliaMu.

Mungkin keresahan ini berawal dari sesuatu yang hambar. Hari-hari yang sekadar mengejar target dunia, sekadar mengejar kriteria manusia, tapi tidak dengan memenuhi kewajiban kreativitas hakiki. Memanfaatkan sebisa mungkin waktu yang ada untuk menetaskan karya yang berguna sebagai seorang khalifah. Membuat sesuatu yang bisa menambah kadar keimanan yang nyata, bukan sekedar memenuhi penilaian tertulis. Ya, saya merasa kreativitas yang tak digawangi dengan keimanan adalah sesuatu yang hampa dan tak berguna.

Astaghfiruka, Ya Rabbi…

#kontemplasi di antara sela jeda kosong dari mengajar

Iklan