Pasca Lokakarya HT

visual menuju taklifMenjaga sepenuh kesadaran. Titik awal kembali dimulai. Jarak untuk merencanakan semuanya berawal dari momen ini. Ya, 2 hari untuk lokakarya. Memperkirakan, mempertimbangkan, mengevaluasi, menyamakan persepsi, untuk HT selama tahun-tahun kedepan. Menegaskan visi dan misi untuk pegangan semua pihak yang berperan di sekolah dengan prinsip “Aku adalah Pemimpin”.

Saya semakin sadar betapa beragamnya karakter siswa dan guru di sekolah ini. Semuanya memberi warna berbeda pada dinamika perjalanan HT secara tidak langsung. Tersadarkan pula jika waktu yang berlalu begitu cepat seringkali dihabiskan dengan berjibaku pada segala persoalan yang muncul di permukaan, yang tak jarang tindakan yang diambil bersifat reaktif semata, ujungnya satu sama lain terlupakan pada perjalanan menuju visi yang ditargetkan. Ya, kita lupa dan seharusnya kita kembali memasang langkah lebih teliti menuju visi.

Menuju derajat mukallaf (taklif) menjadi ruh utama perjalanan SMP HT. Bagaimana siswa bisa bertanggungjawab atas segala pilihan hidupnya, bagaimana siswa bisa menentukan identitas atau konsep diri yang teguh di antara gelombang arus remaja yang mudah goyah dihantam era digital. Sebuah babak berkelanjutan dari era globalisasi yang memupuk jiwa serba instan dan terburu-buru.

Saat siswa memasuki gerbang pada pagi yang masih berkabut, mengayun langkah samping petakan sawah yang bertahan depan sekolah, pada momen itulah mereka mengikuti habit saban pagi di mesjid Al-Hidayah. Sholat dhuha dan spirit doa menjadi 2 hal yang harus dijaga selama menjadi siswa SMP Ht. Dengan harapan, ruhiyah dapat terbangun dengan percikan doa dari 2 rakaat yang terus berulang setiap pagi, semoga keimanan menjadi sebaik-baik landasan mengikuti, bukan sekadar tuntutan kegiatan sekolah.

HT memberikan ruang kepemimpinan bagi siswa untuk belajar mengambil keputusan. Hampir di setiap kegiatan sekolah, siswa berperan sebagai dinamo penggerak acara, sedangkan guru berperan sebagai pendamping konsultatif.

Sebagai sekolah yang memegang inklusifisme, HT memberikan ruang bagi keragaman siswa yang memiliki potensi dan kepribadian unik, khususnya anak berkebutuhan khusus. Anak ABK di HT jugalah yang memberikan kesempatan bagi temannya yang regular untuk berempati dan kadang berperan sebagai tutor sebagai mereka. Hal inilah yang menjadi media siswa menampilkan kecakapan sosialnya.

Siswa HT yang berusia rentang 12-15 tahun memiliki energi ekstra sebagai seorang remaja yang tengah mencari konsep diri yang utuh. Mentoring dan forum curhat menjadi momen yang tepat bagi guru untuk berperan secara persuasif sebagai sahabat atau teman mereka bercerita tentang pengalaman hidup yang tengah bergelora. Di samping itu semua, prestasi UN menjadi ujung tombak yang harus ditempuh secara kedinasan. Meskipun nilai kognitif UN tidak menjadi syarat mutlak dalam ujian akhir di HT. Sesi pemantapan yang dimulai pukul 06.30 setiap Selasa sampai Jumat menjadi bekal nyata menghadapi fase penentuan kelulusan kelas 9. Pemantapan yang membuat anak-anak terpaksa memacu waktu. Menjalani reguler nol sembari fokus menelusuri muatan soal. Ada yang benar-benar tulus menjalani, sisanya berlarut-larut datang terlambat dan tertinggalkan materi.

Kreatif menuju taklif. Itulah prinsip dasar yang tengah diemban. Kata “menuju” memiliki makna proses atau sedang dijalani. Kreatif mencari cara atau strategi menuju spirit seorang mukallaf menjadi PR masing-masing bagi setiap guru di HT. Menghadapi karakter siswa yang beragam tentu saja membuat gurunya harus menyediakan berbagai cara khusus dan beberapa penyesuaian. Kreatif itu di sini. Bukan kata-kata yang harus diobral, atau visual yang sekadar terpajang, tapi ketangguhan bertahan dalam zona tak nyaman, menjadi amanah besar untuk terus kreatif sebagai khalifah di muka bumi.

 

Iklan