Dibalik DRAFT BOOK

Ini harapan  untuk sebuah miniatur galeri diri sendiri. Seperti namanya, draft book artinya buku kasar tentang diri. Semua pemikiran, koleksi benda kesayangan, kutipan yang disukai, dihimpun dalam sebuah buku sederhana. Entah mengapa, seperti tercetus tiba-tiba.

9780761178972

Semua orang pasti memiliki kumpulan benda kesayangan. Bentuknya bisa berupa koleksi fisik, misalnya, rak-rak buku di ruang tamu yang penuh novel favorit, rekaman suara, dan film. Semacam museum pribadi yang penuh kenangan akan tempat-tempat yang pernah didatangi, orang yang dijumpai, dan pengalaman yang kita himpun. Semua ini membentuk selera kita, dan selera memengaruhi karya kita.

Dari mana inspirasimu? Apa yang kamu jejalkan ke pikiran? Apa yang kamu baca?

Semua yang memberimu pengaruh, layak dibagi karena menjadi petunjuk tentang siapa dirimu dan apa yang kamu lakukan. Kadang itu semua bahkan lebih menunjukkan siapa dirimu melebihi karyamu sendiri.

-Austion Kleon, Show Your Work

Harapannya, anak-anak bisa menuangkan apapun dalam bentuk tulisan, kutipan, gambar, sketsa, tempelan, atau sekadar corat-coret. Ya, mungkin tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena ini akan berbenturan pada kesempatan dan beribu alasan untuk menjadikan draft book ini sebagai beban.

Tantangan dalam kemauan untuk membuat saja sudah kompleks, apalagi membuat draft book yang sempurna. Minimal mereka tergerak untuk membuat dan memunculkan rasa percaya diri yang semakin tergerus mental sosial media. Takut salah, takut tidak disukai, takut kalah populer, takut ini, takut itu. Sungguh, saya pun tengah berjuang mengalahkan alasan minor tentang apapun yang menjadi penghambat untuk berkarya. Bahwa saya tak punya banyak waktu lagi mengulik banyak hal karena de Khanza yang semakin aktif dan perlu perhatian saya secara penuh. Bahwa pekerjaan rumahan mulai dari cuci popok, setrika, masak untuk suami dan anak, dan sederet tugas rumah tangga lainnya menuntut untuk digarap. Bahwa ini… bahwa itu… ya, akan semakin banyak alasan yang dilontarkan untuk tidak melakukan apa-apa.

Ok, menghela nafas dan mencoba mengamalkan sebuah kaidah di masa lalu.

“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang mampu dikerjakan). –(Syaikh As-Sa’di)

Bertakwalah pada Allah semampu kalian.” (QS. At Taghabun: 16).

Ya, jangan dijadikan beban, berkaryalah semampunya, sedikit demi sedikit tapi berkesinambungan. Karena hidup sejatinya berangsur dan berproses. Jangan pernah berhenti untuk terus menyelami jerih payah dan jatuh bangun sebuah proses.