Diposkan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia, Refleksi

Analisis Novel dan Skenario Allah

Allah memberikan petunjuk melalui berbagai cara. Salah satunya dengan membaca. Ya, entah mengapa mata saya tertuju pada sebuah buku berjudul “Kun Fayakun Kun La Takun” yang diterbitkan oleh Bunyan, Bentang Pustaka, yang disimpan rapi dalam rak perpustakaan. Kemudian saya langsung menemukan artikel yang berjudul “Skenario Tak Terbatas dari ‘Novelis’ Maha Jenius”. Mungkin ini yang dinamakan skenario petunjuk Allah, karena saat ini juga saya tengah menemani pembelajaran analisis novel bersama anak-anak kelas 8 pada pelajaran Bahasa Indonesia.

Jpeg
Buku “Kun Fayakun Kun La Takun”. Irfan L. Sarhindi

Anak-anak diminta untuk menganalisis novel remaja yang mereka pilih saat wisata buku pada awal bulan Februari lalu. Beberapa anak ada yang merasa salah membeli novel akhirnya secara sukarela “diungsikan” ke perpustakaan sekolah, dengan alasan novel yang dibeli mengandung konten dewasa dengan kosakata yang vulgar. Hal yang harus dianalisis melalui teori unsur intrinsik meliputi 6 unsur utama, yaitu tema, tokoh & penokohan, latar, alur, sudut pandang, dan amanat cerita.

“Tokoh dari novel yang aku pilih banyak, Bu. Dituliskan aja semuanya?” begitu keluh kesah anak-anak saat mulai menganalisis satu per satu. Apalagi mereka kesulitan dalam memahami sudut pandang pada awalnya. Saya menjelaskan melalui cara untuk fokus pada kata ganti yang digunakan dalam narasi cerita. Jika penulis menggunakan kata ganti pertama yaitu aku/saya dalam penceritaannya, maka otomatis sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang kesatu atau yang disebut akuan. Sedangkan novel yang menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia/ia/nama tokoh, maka sudut pandang yang digunakan berupa sudut pandang ketiga atau diaan.

Itu baru penjelasan sudut pandang. Ketika masuk alur, anak-anak mulai kerepotan karena mereka harus meringkas urutan peristiwa yang terjadi dalam novel yang mereka baca. Sulitnya adalah jika novel yang dipilih merupakan novel omnibook alias kumpulan cerita yang sama sekali dengan tokoh berbeda. “Usahakan analisis dulu sebisanya. Minimal dalam menentukan alur, kalian paham peristiwa apa yang terjadi secara berurutan.” Begitu yang saya arahkan untuk mereka.

Nah, ketika menemukan buku “Kun Fayakun Kun La Takun” yang ditulis Irfan L. Sarhindi, saya seolah diberi arahan tentang refleksi pembelajaran analisis novel kali ini.

Bahwa sehebat apapun seorang novelis dalam meracik sebuah novel dengan jalan cerita dan tokoh yang kompleks, semua itu tidak akan pernah menandingi kehebatan “novelis” sejati yang memiliki skenario tak terbatas. Dia-lah Allah yang memiliki skenario tak terhingga. Allah menjadikan setiap hamba-Nya menjadi tokoh utama dalam jalan cerita kehidupan masing-masing. Akankah semuanya happy ending seperti yang menjadi akhir semua novel rekaan manusia. Atau menggantung tanpa kejelasan. Atau bahkan berujung suul khatimah, akhir yang buruk pada kehinaan. Na’udzu billahi mindzalik.

Betapa rumitnya proses pembuatan cerita fiksi. Bahkan, mungkin analisis novel dengan unsur intrinsiknya akan lebih rumit lagi, karena yang menganalisis belum tentu menyamai apa yang menjadi inti pesan penulis novel bersangkutan. Setiap orang memiliki interpretasi tersendiri dengan kapasitas pengetahuan masing-masing. Intinya, kita kembali pada sebuah ungkapan klise bahwa fiksi dan fakta adalah dunia berbeda. Jangan terlalu berlarut hanyut pada skenario buatan manusia, berjibaku pada cerita fantasi lewat televisi, film, dan novel cinta. Sementara kita sendiri sebagai tokoh utama, lalai dalam merangkai alur cerita mengikuti skenario yang Allah tentukan. Kemudian berdiam diri mengharap dan berkhayal akhir cerita indah seperti dalam cerita favorit kita, tanpa berbuat apapun. Membacalah, analisislah, ambillah dan petik pelajaran. Seraya menuntaskan waktu yang tersisa sebagai tokoh utama dalam episode yang Allah gariskan. Akhir yang indah  atau sebaliknya, kita yang menentukan sendiri.

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...