Keterampilan HT, Sosial Media

All About Digital Creative

Sekolah itu satu hal. Pendidikan lain lagi. Keduanya tidak selalu beriringan. Bersekolah atau tidak, belajar selalu menjadi tugasmu. Rasa ingin tahu adalah kunci utamanya. Perhatikanlah berbagai hal. Buru semua referensi dan telusuri lebih dalam dibandingkan siapapun. Begitulah cara belajar yang baik. -Austin Kleon, Steal Like An Artist

Mungkin kamu takut memulai. Itu wajar. Ada gejala yang makin menjadi dalam diri orang-orang terpelajar. Namanya impostor syndrome. Definisi klinisnya adalah “fenomena psikologis ketika orang meragukan kemampuan sendiri”.

Itulah yang saya kutip dari bagian judul “Berkarya, Kenali Dirimu” dari buku Austin Kleon. Saya mencoba mengarahkan potensi media yang dimiliki anak-anak kelas 8. Mereka punya ruang yang cukup untuk memiliki identitas masing-masing lewat blog pribadi. Yup, dengan alasan laptop yang dimiliki oleh sebagian anak dan kemampuan untuk online setiap hari sepulang sekolah dan saat weekend. Buat blog dan mengetik di sana, masa sih tidak bisa, atau alasan enggak tau caranya, kan bisa searching tutorial buat blog. Namun, kenyataannya, setelah deadline pembuatan ditentukan, masih saja ada yang belum ngeh dan beralasan ini itu, menunda-nunda tapi tak pernah bertanya jika belum mengerti.

we share

Alhamdulillah beberapa anak sudah menunjukkan progres yang baik. Mereka yang telah mengenali diri sendiri dan mempertegas identitas lewat yang mereka tulis baik melalui pilihan kalimat maupun ilustrasi foto yang disajikan. Two thumbs up! 

Sebenarnya, saya iri pada perkembangan mereka. Teringat saat dulu saya masih SMP, rasanya sama sekali belum mengenal blog, tugas mengetik saja masih menjadi sesuatu yang sulit karena komputer menjadi barang mewah yang tidak semua orang memilikinya. Blog ini juga pertama kali tercetus pada tahun 2009, tepatnya saya KULIAH semester 3. Sekarang, anak SMP saja sudah bisa mengikuti perkembangan media sosial dan berselancar dengan mudahnya. Saking mudahnya, bisa jadi terjerumus pada jebakan sana-sini. Link-link dengan konten yang tak layak bisa jadi sasaran mereka saat online. Semuanya kembali pada kesadaran dan keimanan masing-masing mengendalikan mata dan ujung jari.

Intinya belajar. Ya, belajar menyelaraskan, antara dunia digital dan  manual. Sepintar apapun kita dan sehebat apapun kita di dunia maya, semua percuma jika kita tak bisa berkarya dan bersosialisasi di dunia nyata.

Berkarya digital, lagi-lagi mengingatkan kita sebuah kenyataan, bahwa komputer atau laptop dengan merek apapun sangat bagus untuk mengedit ide, tetapi TIDAK COCOK UNTUK MEMANCING GAGASAN. Kembalilah genggam penamu dan secarik kertas, mulailah menulis dan menggambar. Ide yang murni itu bersifat spontan dan mengalir lewat tulisan tangan.

Iklan