Menjadi Guru

LAYOUT GURU

Tulisan ini saya buat dalam mengiringi ilustrasi halaman untuk buku kenangan, meskipun nantinya tidak akan dilampirkan. Setidaknya, banyak curahan dan gagasan yang terurai saat saya fokus pada satu kata yang disebut GURU.

Ya, baru 3 tahun saya menjadi guru. Tiga tahun inilah yang mengingatkan saya pada deretan pernyataan sikap di masa lalu, jauh pada saat saya masih berstatus mahasiswa, bahwa saya tidak suka menjadi guru, menjadi guru itu menyebalkan, menjadi guru itu profesi yang bosan dan kurang menyenangkan. Menjadi guru berarti sibuk dengan buku, murid, dan kurang pergaulan. Menjadi guru itu bla..bla..bla.. pokoknya membuat bad feeling.

Daripada mengajar, saya lebih memilih berhadapan dengan narasumber untuk wawancara sebagai jurnalis. Itu yang saya rasakan saat job training di sebuah surat kabar regional Jawa Barat. Sebenarnya pernyataan sikap kontra pada profesi guru berawal ketika saya praktek mengajar di Majalengka, saya kapok mengajar saat anak-anak malah melongo seusai saya menjelaskan panjang lebar tentang pelajaran Ekonomi saat itu. “Gak ngerti, Bu, ngomongnya terlalu cepat,” ujar seorang anak. Haduh, deg saya dalam hati diiringi rasa malu saat melihat guru pamong yang mengawas di kelas. Dengan karakter suara yang cenderung cepat, alam bawah sadar saya kalah dan menenggelamkan keinginan menjadi guru yang saya kubur semakin dalam. Mengajar itu sulit ternyata. Hufh…

Namun, entah kenapa setahun setelah lulus dan bergerak di bidang desain grafis, saya malah memutuskan resign dan melamar ke sekolah. Sebenarnya awalnya iseng saja dan mudah-mudahan diterima sebagai pengajar, toh saya sama sekali tak punya latar belakang pendidikan guru. Tadinya kalau tak ada panggilan interview, saya malah mau melanjutkan garis takdir sesuai jurusan kuliah sebagai jurnalis. Akhirnya Agustus 2013 saya resmi menyandang peran sebagai guru tutor anak berkebutuhan khusus (ABK) di sebuah SD inklusi dengan sekelumit kasus yang rumit, penuh kontroversi hati. *lebay ala infotainment

Setahun berlalu, Juni 2014 saya diputuskan untuk “naik kelas”  ke SMP yang masih satu yayasan dengan SD sebelumnya untuk mengampu bidang studi Bahasa Indonesia. Zona baru, tantangan baru. Tahun ajaran baru berganti, peran ikut berubah. Sejak Juli 2015, saya memegang bidang studi Keterampilan dan Bahasa Indonesia. Awalnya ragu karena jujur saja saya tak pernah memegang seni kerajinan tangan kecuali ranah dimensi desain grafis. Beberapa kali brainstorming dilakukan, akhirnya ada beberapa penyesuaian rencana pembelajaran sesuai potensi diri.

Menjadi guru itu sulit ternyata, tapi saya pasti bisa. Pernyataan kontra tentang profesi guru kini runtuh semuanya. Berubah menjadi nuansa mengharu-biru. Terharu saat melihat anak-anak yang pendiam ternyata berpotensi istimewa. Terharu saat anak-anak yang diragukan ternyata bisa diandalkan. Terharu saat melihat anak super usil bisa membawa hasil. Ya, menjadi guru membawa berjuta emosi jiwa. Emosi dan rasa gemas saat anak-anak tak kunjung mengumpulkan tugas dengan beragam alasan pembenaran. Emosi saat anak-anak satu sama lain menjatuhkan sesama teman. Emosi saat seharian berkucur peluh tapi tak kunjung didengar dan dimengerti. Emosi jiwa yang naik turun, remuk redam, dan terus berada dalam dinamika ruang waktu di sekolah.

Allahu Rabbi… Terima kasih engkau ijinkan hamba berada pada jalan ini. Berada di tengah orang-orang yang terus memantik harapan dalam mendidik menjadi manusia. Menjadi guru memang bukan pilihan pertama saya, tetapi menjadi pilihan terakhir dalam hidup seraya mewujudkan passion dalam diri. Mengasah ketajaman visual, membekali diri sebagai pembelajar yang sejati.

Iklan