Percaya Diri dan Ekspresikanlah!

kolase uts gabungan
Apresiasi Seni & Bahasa SMP Hikmah Teladan (14/03/2016)

Hari ini saya menyerap banyak hal berharga. Binar keceriaan terpancar dari performa anak-anak menampilkan puisi dan lagu. Beberapa di antara mereka masih ragu untuk melepaskan ekspresi dan vokal yang maksimal. Ya, selalu ada dua kutub berlawanan dalam setiap kondisi. Ada yang sungguh-sungguh menjalani, ada juga yang hanya numpang mengisi ruangan tanpa mengapresiasi. Berkerumun, mengobrol dengan ocehan masing-masing. Menimbulkan riuh gaduh, menenggelamkan suara yang tampil ke depan. Seperti biasa, ketika guru sekaligus juri mengingatkan dengan isyarat, sesaat hening dan bising kembali. Selalu begitu, ya begitulah ritme dalam proses belajar. Ada kalanya harus selalu bersabar dengan berbagai polusi, termasuk polusi suara. Kalau dalam ilmu komunikasi, semua itu dinamakan noise of communication.

Oiya, beberapa anak membuat saya berdecak kagum dan tak menyangka. Mereka berhasil meruntuhkan keraguan dan menunjukkan performa yang total meskipun tepuk tangan tak selalu terdengar sebagai balasan. Malah, suara penonton mengalahkan tampilan di depan. Apresiasi kali ini merupakan gabungan antara evaluasi pembelajaran seni budaya dan bahasa Indonesia. Kelas 7 menampilkan pembacaan puisi sekaligus musik berkelompok, sedangkan kelas 8 hanya musik berkelompok yang bervariasi.

Intinya berekspresi dan percaya diri. Tapi, lagi-lagi kita disadarkan oleh kunci sebuah pembelajaran dalam mengapresiasi. Mendengar dengan sungguh-sungguh agar bisa menyimak dengan hati sambil menikmati. Sayangnya, beberapa anak belum punya kemampuan ini. Ada telinga namun dibiarkan terpasang tanpa fungsi, membiarkan mulut komat-kamit asal berbunyi tanpa paham harus menyesuaikan kondisi. Ini menjadi tanggungjawab bersama. Bukan saja mengingatkan murid yang lalai, tapi penyadaran yang utuh sebagai manusia. Bukankah kita pun pernah demikian, bertelinga tapi lalai mendengar, menyimak, dan menekuri yang terjadi. Membiarkan ruang dengar kita menyerap berbagai polusi suara tak bermakna. Ah, akhirnya mengulas kegiatan hari ini berujung pada refleksi diri. Bagaimana caranya kita bisa sepenuh hati mengapresiasi hari dan menjaring makna sebagai bahan kontemplasi, bahwa semuanya hanya fana dan perayaan sesaat.