Keterampilan HT, Pembelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan

Cetakan Karya

“Apapun yang kamu kerjakan baru benar-benar tersentuh setelah kamu cetak.” –Donwood

Kutipan ini benar-benar mendorong saya untuk terus memilah dan memilih karya mana yang layak untuk dirayakan. Yups, dirayakan dalam bentuk yang lebih klasik dan tersentuh. Saya harus mencetak karya bukan sekadar terdiam dalam folder apalagi menjadi sampah visual karena tak terorganisir.

Cetakan karya ini saya buat pemetaan sederhana, yaitu antara pembelajaran dan passion diri. Pembelajaran yang dikolaborasikan antara Bahasa Indonesia dan ilustrasi Keterampilan. Salah satunya rencana untuk membukukan puisi anak-anak dalam sebuah antologi.

cover antologi

Next time, pembukuan karya ini berlanjut juga untuk karya komik, poster slogan, cerpen, dan fabel. Mengenai passion diri, saya gatal mengajak adik saya untuk berkolaborasi dalam sebuah buku esai-ilustrasi. Sehari-hari berteman dengan drawing pen dan sketchbook membuat adik saya lebih terlatih dalam gambar-gambar realis dibanding saya yang cenderung desain grafis.

Alhamdulillah, ide selalu mengalir dari segala arah. Mencomot ide dari manapun. Buku yang sangat menginspirasi saya saat ini adalah Wonderful Life yang ditulis Mbak Amalia Prabowo dan ilustrasi putranya, Aqil, yang menyandang disleksia, namun begitu hebat dalam menumpahkan imajinasinya lewat pameran Forest Mind. Waw, dengan keterbatasan Aqil, imajinasinya tumpah ruah begitu apik dengan makna mendalam dengan coretan yang lepas.

IMG_3532

Apa yang membuatku melangkah dengan ringan dan penuh canda? Perubahan cara pandang! Kutipan yang begitu menggugah bagi saya untuk selalu move on dan memperluas sudut pandang. Flashback untuk diri sendiri bahwa saya tak sendiri untuk menetaskan semua ide yang saya miliki. Saya punya Allah yang akan melengkapi ujung ikhtiar saya. Saya punya Khanza dan ayah @sanzfadil yang selalu menemani hari-hari saya sampai ujung waktu. Saya punya orangtua dan mertua yang menjadi pengingat saya untuk senantiasa berbakti dan meringankan beban mereka. Saya punya adik-adik yang menjadi teman setia meski selalu ada kerikil emosi antara kami. Saya punya teman-teman seperjuangan yang sama-sama mengabdi sebagai pemantik harapan di sekolah inklusi. Saya punya banyak hal yang mungkin takan bisa terhitung dan nikmatNya yang tak terhingga. Jika pada saatnya saya harus sendiri, mungkin yang lain tengah sibuk dan sama-sama berjuang untuk dirinya. Jika saya merasa sendiri, mungkin Allah tengah memberikan kepercayaan bahwa saya mampu mandiri. Bismillah…

*di tengah kesibukan mencuri waktu mengedit cover antologi karya, buku kenangan, mengetik soal ujian akhir dan display doodle ruang galeri

Iklan