Galeri dan Apresiasi

DSC_6367
Galeri SMPHT

Galeri. Menata sebuah ruangan itu sulit ternyata. Apalagi menata sebuah ruangan yang dinamai sebagai galeri. Ya, galeri sekolah. Dengan konsep ruangan yang awalnya hanya digunakan untuk latihan tari atau drama, kini harus ‘mendua’ dengan display karya anak-anak.

This slideshow requires JavaScript.

Galeri saja tidak cukup. Bagaimana kita bisa memaknai segala hal yang ada di dalamnya itu yang lebih penting. Makanya, anak-anak saya biarkan mendefinisikan makna kreatif menurut pribadi mereka masing-masing. Menjadi quotes sederhana untuk dibaca, meskipun masih ada coretan dan goresan tak rapi di sana-sini. Beberapa anak tampak mahir memoles kanvas dengan imajinasi mereka, namun sebagian besar malah tidak cukup kuat dalam konsep lukisnya. Terbukti dari tumpukan kanvas yang mirip tumpahan cat tak beraturan dibanding karya lukisan. Sebagian besar memenuhi pojok ruangan yang dibatasi alat musik calung.

Bagaimanapun, proses membutuhkan ruang untuk bereksplorasi. Eksplorasi dari banyak segi. Karena setiap insan memang memiliki potensi berbeda. Maka tak ada yang patut menyalahkan mengapa si A tak pandai melukis seperti si B. Atau mengapa si B tak mahir berkata-kata seperti si A. Setiap insan punya kapasitas masing-masing untuk mengeksplorasi dirinya. Yang penting, bagaimana potensi mereka bisa ditemukan dan dapat bermuara pada jalur yang tepat. Agar potensi bukan cuma eksis di dunia ide, namun bisa direalisasikan lewat karya visual, kata-kata, atau kinestetika.

Di sebuah galeri, karya seni tak pernah mati selama ada sebuah apresiasi.