Dunia Anak, Dunia Emak, Keluarga

Rutinitas Mengalihkan Duniaku?

DSC_6645
Khanza Bantu Bunda Menyetrika

Seperti semua ibu lainnya, saya mencintai buah hati saya lebih dari apapun di dunia ini. Ada waktu-waktu ketika perasaan cinta ini begitu kuatnya hingga membuat saya menangis. Pernah saya menangis ketika malam-malam dimana si kecil tak mau juga tertidur karena demam dan tak ingin direbahkan di kasur. Saya hampir putus asa saat si kecil berteriak menangis tak ingin ditinggalkan bekerja.

Saya sadar tak seleluasa dulu. Sekarang apapun yang saya lakukan selalu mempertimbangkan anak sebagai prioritas. Saya cinta de Khanza, tetapi seberapa cintanya saya kadang rutinitas harian menenggelamkan saya dan membuat kalap kelelahan. Pagi hari popok kotor menggunung tinggi, setelahnya setrikaan menyambut. Menjaga rumah tetap rapi seakan tak pernah selesai, karena detik ini de Khanza senang melempar barang-barang yang dipegangnya. Alhasil, spidol, boneka, kertas-kertas berserakan di lantai. Jadilah memungut barang menjadi rutinitas baru saya.

Tetapi, Allah Maha Adil. Setiap kesulitan yang dilalui selalu menyimpan momen berharga untuk direnungi dan dirayakan. Saat saya menyetrika dan de Khanza masih belum ingin tidur, dia malah lincahnya estafet baju-baju kecilnya yang akan disetrika. Kecil-kecil bisa membantu meskipun hanya dengan bahasa isyarat. Saat saya bilang “Makasih sayang”, dia senang bukan main dengan memperlihatkan giginya yang mau tujuh. Di sinilah saya sadar, bahwa cinta untuk anak saya mungkin bisa tenggelam oleh rutinitas harian. Itu terlihat dari cara saya menjalani hari. Pernah saya sama sekali tak bisa sekadar menemani de Khanza menyanyikan lagu dan menghiburnya dengan alasan sudah terlalu lelah dengan tugas rumah tangga. Seharian saya lupa cara tersenyum alami pada de Khanza, karena selama ini senyuman yang ada mungkin hanya latihan yang dipaksakan. Saya membiarkan pekerjaan dan stres rutinitas menghalangi saya mengekspresikan cinta pada keluarga secara fisik. Saya membiarkan rutinitas harian dan kesibukan ibu rumah tangga mengambil alih kehidupan dan keceriaan saya.

Ya Rabb… ampuni hamba yang masih saja mengeluh dengan ujian harian yang selalu dianggap beban. Mengingat kondisi seperti ini, tentu saja perjuangan ibu saya dulu lebih sulit dari ini. Tetap semangat para ibu di manapun berada. Semua kesibukan yang kita jalani merupakan perjuangan dan peran terbaik di dunia sebagai madrasah jiwa bagi anak-anak kita.

Iklan