Dunia Emak, Keluarga, Lembaran Memori

Letih, Tertatih, agar Terlatih

Bismillah walhamdulillah.
Hari ini berlalu dengan menggigil kebasahan. Menerobos guyuran hujan yang terus menderas di jalan menuju rumah. Ya, saya bersama anak suami memutuskan untuk pulang sore hari jelang berbuka saat hujan baru saja reda dari Ciwidey.  Mertua sudah mengingatkan kami untuk pulang pagi hari saja, tetapi kami tetap bersikukuh untuk mengambil resiko pulang sore menuju malam. Dengan berat hati dan terus diwanti-wanti,  akhirnya kami meluncur pulang berbekal sebotol air mineral untuk berbuka di perjalanan.
Sesampainya di daerah Soreang, azan Maghrib berkumandang. Kami berhenti sesaat untuk membatalkan shaum dengan seteguk air putih. Perjalanan berlanjut dengan  rute arah Kopo, biasanya kami memilih jalur Kutawaringin-TKI-Cigondewah. Saat perjalanan, hujan mulai turun lagi perlahan. Awalnya gerimis hingga byuurr tak tertahankan jika   dipaksakan terus melaju. Kami pun berhenti untuk berteduh menunggu hujan reda sambil memakai jas hujan. Di pelataran toko yang tertutup, kami membenahi tas yang mulai kebasahan. Si kecil mulai merengek ingin ASI. Saya berusaha menyusui di tengah hujan yang semakin deras. Bahkan guyurannya diterpa angin dan tetap membasahi kami meski sedang berteduh. Ya Rabbi… kuatkan langkah kami dan hilangkan kata seandainya. Ya, saat di kondisi sulit,  selalu muncul kata seandainya atau padahal, berharap kesulitan tak pernah terjadi. Mungkin inilah yang telah Allah takdirkan bagi kami untuk berlatih menghadapi segala resiko yang diambil. Menguji kekompakan kami untuk bertahan di masa sulit. Betapa menggigilnya kami menunggu hujan yang  tak kunjung reda. Setengah jam menunggu akhirnya saya memutuskan untuk naik angkot saja agar Khanza tak kehujanan, sedangkan suami tetap mengikuti dari belakang memakai motor. Hujan yang turun sejak siang membuat jalanan banjir cileuncang dan tergenang banjir dadakan selutut orang dewasa. Saya berdoa dalam hati agar angkot tetap maju terus tanpa mogok. Sesampai di perempatan, saya turun dan melanjutkan lagi naik motor karena hujan sudah mulai mereda. Kami melanjutkan perjalanan yang hampir dekat menuju rumah.
Ada perasaan bersalah saat masih memilih untuk tetap pulang dalam kondisi hujan. Namun ini masih menjadi momen tak tergantikan untuk menempa diri. Tiba-tiba muncul rasa ingin melindungi yang begitu besar pada si kecil yang mulai menggigil. Kekuatan rasanya bertambah untuk bertahan sambil memikul ransel kebasahan. Rasanya lelah tergantikan karena Allah mudahkan perjalanan ke rumah dengan selamat meski basah kuyup. Kemudian pilihan mengubah jalur pulang melewati Kopo menjadi hikmah tersendiri karena dilalui jalur angkot. Jika saja memilih jalan pintas lewat perumahan, tentu saja akan terus bisa berteduh berjam-jam di daerah sepi. Alhamdulilah Ya Rabb… kuatkan jiwa kami menjalani hidup yang penuh rintangan.

Hidup yang kadang membuat letih dan tertatih agar terlatih.

IMG_20160607_200925

Iklan