Pembelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan, SMP Hikmah Teladan

Melepas Samudera Bahasa

3

Hari ini jauh berbeda dengan 2 tahun yang lalu sejak saya menginjakkan kaki di SMPHT. Tak ada lagi partner mengajar (team teaching) saat masuk ke kelas. Masih teringat jelas, saat saya dan Bu Kiki bersama menguraikan lirik lagu saat kuis materi pergeseran makna pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Masih segar dalam ingatan, saat anak-anak begitu antusias mengacungkan tangan dan berebut ingin ditunjuk kala mendengar makna dari lagu yang mereka dengar. Saat bersama Bu Dian, berbagi peran dalam kelas pemantapan jelang UN. Merekam perfomance bahasa anak-anak yang kadang mengundang gelak tawa dari ekspresi bebas mereka.

Hari ini saya baper, kalau kata anak jaman sekarang, terbawa perasaan mengenang masa lalu. Seolah ada rasa berat untuk melepas mata pelajaran yang pertama kali saya berlabuh di sini. Seolah begitu ada ganjalan yang kesekian untuk saya melarung rasa rindu. Rindu yang kerapkali muncul saat teringat menyelami samudera Bahasa bersama 2 partner saya, Bu Kiki dan Bu Dian. Bahkan, beberapa kelas yang saya ajar tempo lalu sering menyebut saya dan Bu Kiki dengan sebutan “Kiwil”, gabungan dari sebutan Bu Kiki dan Bu Wilda. Hufh, awalnya begitu tak enak untuk didengar. Namun, justru hal itu menjadi sebuah momen yang berkesan.

Beberapa file lama di masa lalu saya buka kembali dan menyerap makna dari sana. Saya mencoba menguraikan beberapa hal selama menyelami samudera Bahasa.

Keinginan untuk membuat antologi karya dari setiap pembelajaran bahasa, belum tercapai dengan maksimal. Waktu untuk merekap dan mengolah seluruh karya terkuras habis dengan rutinitas dan agenda sekolah. Satu tahun pelajaran penuh cukup untuk menyita kapasitas hardisk laptop saya. Yah, 14,5 gigabyte cukup besar untuk menampung rekap tugas anak yang terdiri dari file, foto, dan juga video. Sayangnya, saya belum bisa menuangkan semua karya file anak dalam web sekolah berikut dengan akun youtube yang bisa diklik siswa atau alumni jika rindu momen saat di sekolah atau sebagai prototip materi pembelajaran tertentu. Belum. Yah, belum, tapi saya percaya suatu saat keinginan ini akan terwujud jika diupayakan bersama.

Karya anak. Ada follow up yang bisa dilakukan. Merekap data karya dalam sebuah arsip yang tersusun rapi dengan kategori yang jelas. Untuk kemudian dibagikan pada anak saat mereka kelas 9 atau jelang lulus dengan judul arsip “My Journey, My Creation in the school”, bisa lewat flashdisk atau kaset DVD-R. Mempublikasi karya anak yang terbaik dan layak dijadikan prototip lewat website sekolah. Manfaatnya, tentu saja anak-anak bisa dengan jelas menyimak setiap perubahan yang dialami mulai dari masuk hingga lulus. Belajar dari jejak rekam pembelajaran yang mereka jalani sejak kelas 7 hingga kelas 9. Karya anak ini tidak terbatas dalam pembelajaran bahasa semata, tetapi berlaku pada semua mata pembelajaran. Baik itu pembelajaran utama yang di-UN-kan, metakognitif, dan pembelajaran yang bergenre kreatif-inovatif. Dalam satu semester, setidaknya ada satu karya  dari tiap siswa yang layak untuk diapresiasi dan dipublikasikan.

Maka dari itu, sebagai apresiasi tertinggi, saya haturkan pada pihak-pihak yang sempat menemani saya melakoni peran sebagai guru bahasa Indonesia. Bahasa yang seringkali dianggap paling sulit dibandingkan bahasa Inggris karena sempat membuat kepala pening apalagi saat mengerjakan soal UN.

Tidak menjadi guru bahasa pun, saya terlampau mencintai setiap huruf-huruf yang telah dilarung membentuk gugusan makna. Ya, terlepas apapun mata pelajaran yang saya pegang saat ini. Bahasa bagaikan washilah utama untuk mengekspresikan berbagai hal dalam benak.

*edisi Move On jadi guru keterampilan dan tahsin tetapi masih kangen masa-masa awal sebagai guru bahasa Indonesia, Nuhun Bu Dian, Bu Kiki… Mau menerima saya yang notabene bukan sarjana bahasa sebagai partner bersama menyelami samudera bahasa. ^_^

Iklan