Doodle!

Doodle! Saya mulai berkenalan dengan istilah ini tepat satu tahun yang lalu. Doodle adalah sebuah seni mencorat-coret segala bentuk dengan komposisi yang khas. Jujur saja, saya lemah dalam menggambar manual alias memakai pensil dan drawing pen. Saya lebih leluasa menggambar di atas kertas virtual semacam Coreldraw dan Adobe Photoshop. Namun, saya semakin yakin ada yang salah dalam pikiran saya tentang kemampuan gambar yang lemah atau segala sikap menyerah bahwa SAYA TIDAK BISA MENGGAMBAR. Sejak saya menemukan inspirasi dalam sebuah buku “The Doodle Revolution”, lambat-laun parasut pikiran saya terbuka.

DSC_0017

Buku The Doodle Revolution. Sunni Brown.

Saat SD, mungkin imajinasi yang berkembang kala itu semacam standar visual yang entah siapa yang memulainya. Anak-anak lagi-lagi menggambarkan dua gunung di tengahnya matahari dan jalan memanjang ke depan di antara petakan sawah. Hampir semua anak mengalaminya saya rasa.

Dan doodle adalah salah satu dari sekian istilah yang sering dianggap salah kaprah. Doodle buang-buang waktu, doodle hanya untuk para pecinta seni, dan serangkaian asumsi sebelah mata lainnya. Nyatanya doodle melatih konsentrasi seseorang dalam bermain komposisi visual. Doodle menjadi katarsis seseorang menyalurkan ide dan imajinasinya.

Doodle sebagai Pelecut Literasi Visual

Literasi visual yang dimaksud adalah mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi, mencipta, mengomunikasikan, dan mengomputasi segala hal menggunakan materi-materi visual dalam berbagai konteks.

Banyak orang menganggap kalau kemampuan menggambar tidak perlu karena gambar identik dengan anak-anak. Padahal, imajinasi yang dulunya terasah bebas kini malah terpenjara oleh data dan angka-angka. Saya pun merupakan pecinta kata-kata dan bangga bisa menyelami samudera bahasa. Namun ada hal yang mengganjal dalam pikiran, mengapa sebagian besar kita meninggalkan bahasa visual dan mengubahnya demi angka-angka dan bahasa tertulis meskipun kita dapat menggunakan semuanya sekaligus?! Keterampilan membuat doodle begitu bermanfaat dalam mengomunikasikan segala hal, terlebih gambar mewakili ribuan kata dibaliknya. Doodle adalah sebuah cara membuat tanda-tanda spontan untuk membantu kita berpikir. Bahkan doodle menjadi cara sederhana untuk meringkas segala sesuatu yang baru saja dipelajari.

Contoh karya sederhana dari doodle ini menjadi eksperimen gambar anak-anak dalam membuat cover sketchbook mereka sendiri. Paduan antara doodle dan tipografi seperti di bawah ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan