Bersama Angkatan 5

fifthory

Alhamdulillah wa syukurillah, banyak hal berharga yang didapat baik yang pahit dan manis, namun yang pasti saya lebih jauh mengenal karakter mereka dalam berinteraksi, mengambil keputusan dan sikap saat di titik jenuh yang klimaks.

Semuanya pecah saat di ujung waktu yang tersisa. Di antara tangis, gerutu, kesal, saat harapan tak sesuai realita. Maka saya mengambil celah untuk menyerap hikmah. Masih ada yang harus diluruskan di tengah anak-anak yang sudah yakin dengan apa yang mereka jalani.

Angkatan 5, saya baru saja secara resmi membersamai mereka sejak Agustus lalu. Dan mengenal mereka membuat saya benar-benar harus belajar tentang psikologi komunikasi. Bagaimana menyesuaikan interaksi sesuai karakter yang berbeda satu sama lain.

Fifthory, itulah julukan angkatan ini, sebuah padanan kata dari “five for victory”. Saya berharap julukan lima menang ini menjadi sebuah doa yang terwujud dari ikhtiar para anggotanya untuk menjadi pemenang atas dasar empati dan kebersamaan, bukan menang atas ego sendiri.

Kelas 9 selalu menjadi ukuran harga diri sebuah angkatan bahkan ujung tombak karakter sekolah. Yups, mau tidak mau, kelas 9 harus selalu menjadi sosok yang diandalkan dan dijadikan teladan. Bila ada yang keliru atau keluar jalur sedikit saja, maka bersiaplah menjadi sorotan. Maka, ketika ada kabar-kabar sedap tak sedap tentang mereka, saya memang di satu sisi harus siap kecewa dibanding bangga. Tetapi, ini mungkin memang jalan ikhtiarnya. Bagaimana menjadi problem solver di tengah persoalan karakter atau kenakalan yang menerpa. Bagaimana tetap bisa menemani dan membimbing anak-anak yang tengah salah ketika pihak lain banyak menjatuhkan. Saya percaya saat anak-anak harus menghadapi kondisi dibuat “tersungkur ke depan”, membuat mereka terpukul, iya, tapi juga bisa membuat mereka bangkit dengan dorongan dari MK-nya agar tetap survive dan buktikan diri untuk berubah ke arah yang lebih baik.

 cetak41cetak43