Keterampilan atau Prakarya?

prakarya
Cover Buku Siswa Prakarya Kelas 7 Kurikulum 2013 edisi revisi

Angin berhembus kencang kemudian gumpalan awan kelabu di atas langit kota Bandung membuat hujan turun begitu deras disusul suara petir yang menggelegar. Suara instruktur di kelas Prakarya 2 sayup-sayup terdengar di antara ritme hujan yang lebat. Saya duduk di berkelompok dengan rekan guru SMP lain yang sama-sama melaksanakan tugas pelatihan kurikulum 2013 secara mandiri di SMP Kemala Bhayangkari, Palasari Bandung.

Pelatihan tersebut sebenarnya juga menjadi momen pembentukan formatur tim MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Prakarya yang selama ini digawangi para guru berlatar belakang TIK (Teknologi Komunikasi Informasi) dan bukan linear dari mapel prakarya sendiri. Maka instruktur kami begitu besar harapannya pada para peserta pelatihan kali ini untuk menjadi pelopor MGMP kota Bandung seraya berkata, “Harusnya anda-anda inilah nantinya yang mengisi posisi kami sebagai instruktur prakarya.”

Hmm, bicara soal linear atau tidak. Maka saya akan dengan mundur teratur dari MGMP Prakarya jika linear menjadi sebuah keharusan. Namun, selama saya mengajar di sekolah, yang saya pahami bukan soal linear satu jurusan tetapi sebuah tantangan lintas dimensi. Dua tahun silam saya tergabung dalam tim teaching Bahasa Indonesia dan mengikuti pelatihan kurikulum 2013 yang saat itu masih awal ditelaah. Telah banyak revisi hingga kini pelatihan yang saya ikuti dengan mapel berbeda. Saya diamanahi untuk melintas dari mapel bahasa ke mapel keterampilan.

Rata-rata peserta yang mengikuti pelatihan prakarya justru segelintir di antaranya memang bukan guru prakarya, namun TIK, bahkan ada satu dua orang yang berlatarbelakang IPA. Nah, soal nama mata pelajaran, prakarya atau keterampilan sebenarnya sama-sama  bernafaskan konsep yang sama, yaitu kreasi.

Bedanya, keterampilan yang selama ini saya pegang di sekolah lebih banyak menggunakan multimedia dalam pelaksanaannya di samping proyek kerajinan DIY (Do It Yourself) yang sedang kekinian. Multimedia yang dimaksud seperti proyek blog pribadi, desain grafis, dan editing foto/video. Maka kalau boleh dibilang, keterampilan ini termasuk bagian kecil dari TIK bukan prakarya. Jadi… ketika saya kebagian pelatihan prakarya kali ini, ada rasa khawatir dan ragu karena pastilah konten materinya jauh berbeda dengan konten yang diajarkan sekolah saat ini.

Alhamdulillah, pelatihan ini ternyata tidak serumit yang saya bayangkan. Karena kurikulum 2013 sifatnya include dengan muatan mapel lain, maka kerjasama dalam pelaksanaannya bisa menjadi solusi di sekolah. Misalnya dalam prakarya terdapat 4 tema besar yang dipelajari, antara lain, Pengolahan, Kerajinan, Rekayasa, dan Budidaya. Sebenarnya konten ini tidak jauh beda dengan pengamalan kreasi sehari-hari.

Pada pembelajaran kelas 7 pada semester 1, ada materi Kerajinan Serat, Kerajinan Tekstil, Teknologi Konstruksi Miniatur Rumah, Budidaya Tanaman Sayuran, Pengolahan Bahan Pangan Buah Segar menjadi Makanan dan Minuman, dan Pengolahan Bahan Pangan Hasil Samping Buah menjadi Produk Pangan. Sedangkan yang dipelajari pada Semester 2, ada Kerajinan Bahan Limbah Lunak, Teknologi Konstruksi Miniatur Jembatan, Budidaya Tanaman Obat menjadi Makanan dan Minuman, dan Pengolahan Bahan Pangan Hasil Samping Sayuran menjadi Produk Pangan.

Strateginya bagaimana caranya konten pembelajaran tidak tumpang-tindih dengan mapel yang lain seperti IPA dan PLH, bahkan kalau bisa dibuat sinergis dengan mapel yang terkait. Karena bisa jadi yang diajarkan dalam prakarya sebelumnya sudah disampaikan dalam mapel yang lain.