Pendidikan, Refleksi

Lima Hari bersama Live In Fifthory

poster-live-inDi penghujung bulan Oktober 2016, saya membersamai anak-anak Fifthory dalam kegiatan Live In ke Subang. Live In ini bisa dikatakan Kuliah Kerja Nyata-nya anak SMP Hikmah Teladan yang berfokus pada khidmat ummat, bagaimana bisa belajar menggali pengalaman di laboratorium masyarakat. Maka yang menjadi aspek yang diselami di sini adalah bakti diri dan bakti sosial.

Bakti diri tercermin dari kegiatan sehari-hari anak dan interaksi mereka dengan orangtua angkat mereka selama 5 hari di Subang. Memposisikan diri sebagai anak yang harus ikut membantu tugas domestik rumah dan ikut terjun ke area kerja orangtua angkat masing-masing sesuai profesinya. Ada yang ke sawah, kebun, kolam, pabrik cengkeh, menjaga warung, dan lainnya. Namun, tak semua tentunya berjalan sesuai alur kegiatan yang diharapkan. Ada pula anak-anak yang hanya duduk diam di rumah sambil menonton TV hanya karena orangtua angkat mereka tak pergi kemana-mana sekalipun memiliki sawah dan lading. Tentu saja menyalahkan orangtua yang demikian tak bijak juga. Akhirnya, yang menjadi penilaian khusus adalah inisiatif anak untuk membuat diri mereka tergerak dalam menggali pengalaman sekalipun harus ikut berinteraksi dengan orangtua angkat temannya. Seperti ikut membantu kerja bakti membuat saluran irigasi. Kegiatan seperti ini didominasi anak laki-laki sementara yang perempuan ikut membantu menyiapkan teh manis.

Bakti sosial yang dilaksanakan meliputi pembagian baju layak pakai yang dinamakan Program Baju Bagus, pemberian buku-buku untuk taman bacaan di area madrasah dengan nama Program Buku Bagus, memeriahkan kegiatan dengan lomba seblak antar kaum ibu juga lomba adzan dan cerdas cermat untuk tingkat SD. Kagumnya bisa melihat totalitas mereka berlelah-lelah dalam menyiapkan program dengan waktu yang tersisa. Meskipun catatan khususnya adalah anak-anak cenderung mengulur segalanya di hari-hari terakhir sehingga momen kebersamaan angkatan dipadati dengan program baksos. Yups, mungkin next time bisa diagendakan lagi.

Momen yang paling teringat bagi saya saat malam terakhir bersama mereka. Ketika itu, harapannya momen malam terakhir sebagai evaluasi bersama atas hari-hari yang telah dijalani terutama realisasi program seperti apa. Namun, ada riak-riak persoalan yang muncul dan anak-anak tergiring pada emosi jiwa yang meledak serempak. Antara masalah prasangka, kecemburuan, istilah perang dingin, kode-kode yang tak saya pahami, dan berujung pada pengadaan forum di luar forum. Anak-anak perempuan kalap karena terdesak untuk segera menguraikan perasaan antara satu angkatan, sedangkan yang laki-laki di satu sisi membuat tersulut dan pembicaraan semakin alot padahal malam sudah begitu larut. Ini klimaks dan saya uraikan benang kusut yang dirasakan sejak awal live in.

Alhamdulillah story live in yang anak-anak tulis membuat saya yakin kalau sisi lain dari mereka juga bisa terungkap dengan penuh makna.

“Dari live in saya belajar tentang hidup sederhana, belajar tentang indahya kebersamaan, terutama belajar bagaimana hidup jika kita telah tidak mempunyai orang tua.” – Beni

“…dan kami disuruh makan siang. Menu makanannya pun sederhana sekali. Tapi ada sayur yang aku tidak tau tapi rasanya enak sekali. Rasanya aku ingin mencobanya kembali.” – Yoga

 “Hari ketiga itu hari yang sangat parah bagiku. Kenapa ? Karena bangunnya kesiangan :v. Aku baru bangun tidur, terus Ifal dan kawan – kawan menghampiri Pak RT untuk keperluan keesokan harinya. Setelah aku bangun tidur, aku terpaksa untuk Sholat Shubuh sedapatnya.” – Harits M

“… kita bantu bapa bapak mengangkat pasir dari atas sampe ke sungai untuk membuat irigasi di sungai. Sangat melelahkan menurut ku karna perjalanan nya aga jauh dan berat nya pasir di pundakku . Setelah sekian lama , para perempuan membuatkan teh untuk kita yang membantu bapa bapa mengangkat pasir. Lelah ku menjadi berkurang karena teh manis yang di buatkan oleh perempuan sholehah *Amiin :v – Ikram

“Pas udah pada dateng kita lanjut menyari alamat rumah yang akan di tinggalin sama kita sendiri saya dan azim harus menanya nanya sama warga warga sekitar tapi pake bahasa sunda yaaa meskipun saya ga bisa bahasa sunda tapi mau ga mau harus di paksain pake bahasa sunda.” – Arshie

“Disana aku belajar bersyukur. Aku makan disana hanya dengan nasi sambel tempe tahu asin tapi itu memang nikmat karena penuh kesyukuran. Daripada makan enak tapi ga dibarengi kesyukuran? Aku lebih menghargai waktu juga disana. Aku ngerasa disana terasa lama banget padahal udah beres beres nyuci makan dll eh teryata massih jam 8. Kalo dikota mah terlena dengan waktu jadi ga bisa ngerhargai waktu. “ – Lulu

“… menurut aku dibuat LIve In itu pertama untuk membuat kita semakin mandiri,terutama untuk mengajarkan kita bersyukur, bisa merasakan rasanya di desa yang hidup sederhana dan tidak boros. Warga-warga di desa sana sangat sederhana, membeli bahan-bahan makanan seperlunya dan bahkan ada yang menggambil dari kebun nya walaupun mungkin tujuan utamanya untuk dijual. – Dhea

“Terus disana warganya baik, ramah, tamah, sopan terus kalau aku ngelawat suka di suruh masuk sama disapa, kalau di kota ketemu sama tetangga sebelah aja cuek apalagi sama tetangga jauh hhhahah. Aku ngobrol banyak sama Bu Dede, terus bu Dede juga suka curhat ke aku, aku ngerasa ini kaya di rumah aku sendiri.” – Azzahra

Momen yang paling berkesan bagi saya tentang anak-anak bahwa mereka begitu menikmati suasana di Subang,

  • selama live in mereka seolah lupa pernah pdsc_3302unya HP,
  • melihat makanan yang sederhana pun terasa istimewa, beberapa anak makan pisang dicelup alpukat susu sisa de Khanza dan saling menyuapi (so sweet),
  • berkerumun mengerubungi tukang baso ikan dan jajan berjamaah,
  • membimbing anak-anak TPA mengaji bersama di mesjid,
  • menggelosor berbaring santai di teras rumah sambil menatap langit,
  • jarang-jarang baca buku begitu serius di teras masjid,
  • beberapa sakit badan karena lelah seharian mengangkut karung pasir ke sungai,
  • pagi-pagi buta sudah menjemur pakaian dan beberes rumah, dan bersikap hangat akrab dengan anak-anak kecil di sana.
  • beberapa anak totalitas menjalankan program sampai berkucuran keringat dan air mata.

3

Semoga momen 5 hari ini menjadi bekal pengalaman meskipun hanya secuil momen dalam episode hidup, setidaknya mereka pernah mendapat makna sederhana, rasa syukur, kemandirian, dan memandang dinamika masyarakat dengan bijak.

cetak80

Iklan