Mendidik dengan Visual Kreatif

dsc_3077Seiring berkembangnya teknologi, kadang tak pernah selaras dengan meningkatnya semangat literasi. Kemudahan touch and click pada gadget masing-masing membuat siswa jauh dari sumber yang utama, yakni buku. Kebiasaan yang menjamur adalah menangkap layar (screenshot) apa saja saat mengakses internet. Bukan tidak mungkin bila siswa menyimpan informasi asusila dalam ponsel mereka jika tak dibekali filter akhlak sebagai fondasi utama.

Gaya hidup baru saat ini bukan saja screenshot, tetapi juga upload foto dengan berbagai tagar yang kekinian. Sesungguhnya guru yang diamanahkan mendidik generasi serba digital ini perlu berusaha keras untuk menyamai kemampuan peserta didiknya, bahkan lebih baik lagi jika bisa menguasai dan menginspirasi strategi yang tepat dalam mengelola perkembangan teknologi.

 Mata siswa seolah telah dimanjakan dengan berbagai jenis media yang jauh lebih menarik dan variatif dibanding pelajaran saat di kelas. Lagi-lagi siswa hanya mencatat tulisan di papan tulis atau sekadar memindahkan isi buku pelajaran ke dalam buku catatan. Maka tak aneh, bila banyak siswa hanya sanggup menguap dikepung rasa kantuk dan terus-menerus berharap jam pelajaran segera berakhir.

Di sinilah guru berperan sebagai agen pendidik visual yang efektif dan komunikatif. Memanfaatkan berbagai media dan mengarahkan siswa menggunakan gadgetnya dengan cara yang lebih bermanfaat. Pertama, guru selayaknya menyajikan media pembelajaran yang menarik. Salah satunya dengan penyajian presentasi dengan kata kunci berikut visualisasi gambar yang mendukung. Terkadang guru yang mengambil jalan pintas menyediakan presentasi dengan copy-paste tanpa meringkasnya terlebih dahulu. Alhasil, siswa disuguhi paragraf panjang yang menjenuhkan. Banyak perangkat lunak yang dapat digunakan dengan memasukkan fitur  objek grafis, video, dan animasi yang lebih menarik.

Kedua, arahkan penggunaan gadget siswa dengan “bercengkrama” seputar materi pembelajaran. Gunakan aplikasi pilihan yang sesuai untuk share infografis yang layak diingat siswa saat mereka memainkan gadget mereka di luar jam sekolah. Setidaknya, guru bisa memberikan konten visual yang bermanfaat untuk disimpan dalam galeri ponsel siswa, agar tak sekadar dipenuhi dengan foto selfie. Jika forum obrolan ini berlangsung efektif, maka pembelajaran visual yang ada bisa langsung mendapatkan umpan balik komentar yang interaktif. Belajar tak hanya disekat dimensi ruang kelas dan jam sekolah. Interaksi siswa dan guru dapat meningkat sebagai teman yang inspiratif.

Ketiga, memberikan ruang untuk berkompetisi secara sehat lewat mengupload status atau foto dalam laman jejaring sosial mereka ketika siswa telah memahami sebuah materi pembelajaran. Ruang ini berfungsi pula sebagai jejak rekam dari refleksi setiap pembelajaran. Kompetisi yang dilakukan harus diapresiasi secara positif sekecil apapun keterlibatan siswa di dalamnya.

Keempat, membangun habit mengelola portofolio siswa untuk menciptakan sebuah galeri sekolah. Galeri ini berisi karya siswa yang dikumpulkan menjadi berbagai antologi tematik sesuai mata pembelajaran. Dengan menggunakan prinsip “One Person, One Creation”, siswa dapat diasah menciptakan mahakarya masing-masing yang memiliki keunikan tersendiri. Karya yang dihasilkan dapat berupa puisi, gambar, eksperimen sains, dan beragam karya lainnya yang sesuai dengan passion mereka.

Di antara kebiasaan yang buruk di sekolah adalah limbah kertas yang tak terbendung. Setiap tahun pelajaran berganti, tugas siswa yang melulu dalam kertas berujung menjadi sampah dalam kardus. Ada baiknya jika dikurangi penggunaannya dengan cara seleksi penggunaan media yang tepat. Jika dapat menggunakan media blog pribadi, pengelolaan file tugas siswa, diharapkan limbah kertas dapat berkurang.

Guru di jaman digital ini perlu berjuang lebih giat untuk merangkul perhatian anak didiknya dengan meningkatkan kemampuan visualnya. Berjuang mengimbangi kecanduan games yang semakin mengalihkan minat belajarnya. Perkembangan teknologi dari waktu ke waktu adalah sebuah keniscayaan. Guru selayaknya mendidik sesuai perkembangan jaman. Sebagai pembelajar sejati, kemauan untuk terus belajar dan mengasah kemampuan harus selalu dimiliki. Karena guru adalah sosok terdepan dalam  menempa  generasi terdidik untuk masa depan.

oleh Wildaini Shalihah, guru keterampilan SMP Hikmah Teladan Bandung.

Iklan