Berbenah, Dunia Emak, Keluarga, Pendidikan

Berbenah : #2 Berdialog dengan Benda

“Bumi pabalatak teh caket kana pipaseaeun.” Kalimat ini kembali terngiang di ruang dengar saya. Begitu familiar seolah telah terpendam lama di alam bawah sadar saya. Itu ucapan yang selalu dilontarkan ibu yang sering mengeluh kalau kamar anak-anak ataupun setiap ruangan di rumah jauh dari kesan rapi.

Rasanya energi dari kalimat itu kembali menjalar. Sesaat menggarisbawahi dan mencerap bertahap buku Marie Kondo “the life-changing magic of tidying up”. Tersadarkan, jauh sebelum saya membaca buku tersebut, ibu telah mengajarkan banyak hal tentang berbenah. Berbenah, sebuah kegiatan yang beliau tekuni sejak bangun sampai kembali tidur begitu larut malam. Setiap sudut ruangan tak boleh sedikitpun tercela. No debu, sampah, barang tercecer, dan segala hal yang merusak kerapian rumah.

Jujur saja, saya malas berbenah. Terlebih masalah menyimpan barang pada tempatnya. Yang lebih parah adalah sebelum menikah. Saat kuliah, buku-buku menumpuk di atas meja tapi tak semua dibaca. Pakaian menggantung di kamar menjadi sarang nyamuk. Debu di atas lemari dibiarkan menebal. Kaos kaki hilang pasangannya. Pokoknya saat itu saya begitu semrawut. Jelas saja, kepribadian saya jauh berbeda dengan ibu saya yang notabene pecinta kerapian luar dalam. 

Perubahan itu datang. Setelah menikah saya semakin paham berbenah itu ritme hidup tak terpisahkan dari jati diri seorang wanita sebagai ibu. Apalagi dengan hadirnya si kecil. Begitu hati-hatinya, saya dan suami menyimpan barang yang aman. Memastikan tak ada jarum yang tercecer di lantai, tak ada kabel yang menjuntai, mewaspadai setiap sudut barang runcing yang membahayakan si kecil. 

Istri yang baik tentu harus bersabar setelah teruji dengan tantangan dari suami. Harus selalu siap sedia membereskan barang yang tidak pada tempatnya. Entah itu gadget, buku, baju bekas pakai, dan lainnya. Harus siap menerima dan mau diingatkan. Dengan catatan jangan berbenah sambil mengeluh. Nanti malah lelah tak kunjung selesai dengan hasil tak maksimal. 

Buku Marie Kondo ini sangat recommended bagi siapapun yang ingin mengubah gaya hidup agar lebih cerah. Terlebih dalam urusan memilah, menyimpan, dan menata barang dengan prinsip “membangkitkan kegembiraan atau tidak”. 

Ternyata berbenah filosofi kepercayaan diri dan menguji ketegasan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, berbenah menjadi momen berdialog dengan barang secara unik. Bagaimana memperlakukan barang dengan adil dan proporsional. Mensyukuri apa yang dimiliki dengan menyimpan barang yang berguna dan mengikhlaskan barang yang hanya membuat kita terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. 

*edisi rindu rumah ingin berbenah ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚, tak apa semasih liburan di mertua, kumpulkan referensi layaknya mencharge wawasan untuk diaplikasikan. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‡

#ODOPfor99days

Iklan